Lestarikan Seni Ramah Lingkungan, Kemendes Gelar Eco Fashion Week
Robi Setiawan - wolipop
Selasa, 04 Des 2018 10:37 WIB
Jakarta
-
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PDT) fokus mengangkat pengembang seni dan budaya sebagai modal pembangunan daerah tertinggal. Salah satunya dengan menggelar Eco Fashion Week Indonesia (EFWI) 2018.
Event yang digelar di Gedung Stovia, Jakarta, pada 30 November hingga 2 Desember 2018 ini merupakan buah kerja sama Kemendes PDTT dengan desainer ternama Indonesia Merdi Sihombing. Event ini digelar untuk melestarikan kekayaan seni tekstil Indonesia melalui metode yang ramah lingkungan.
"Eco Fashion Week ini adalah yang pertama kali di Indonesia dan Asia. Selain itu, perlu untuk diingat bahwa eco fashion bukan hanya sekadar konsep fashion yang menggunakan bahan alami, tapi juga suatu konsep fashion yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan kehidupan di bumi. Di situ ada isu tentang perubahan iklim, gerakan konservasi dan pemberdayaan masyarakatnya berbasis komunitas," jelas Merdi Sihombing dalam keterangan tertulis, Senin (3/12/2018).
Pada EFWI 2018 ini turut digelar berbagai rangkaian acara seperti fashion show, workshop class, bazar, hingga screening film seputar fashion.
Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDTT Samsul Widodo mengatakan EFWI bertujuan untuk memperkaya referensi fashion masyarakat, lewat karya-karya ethical yang dibuat langsung masyarakat di daerah tertinggal, seperti tenun ikat Alor dan tenun ikat Rote Ndao.
"Bersama Bang Merdi, kami mengembangkan konsep live in designer, di mana para desainer tinggal bersama para penenun yang ada di daerah tertinggal untuk memberikan pendampingan teknik menenun dan pewarnaan alami dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal, sehingga ramah lingkungan dan diterima di pasar modern," ujar Samsul.
Hasil karya penenun di daerah tertinggal itulah yang kemudian dipamerkan dalam EFWI pada sesi Fashion Show dengan tema Nomadic Look pada Jumat (30/11/2018) malam.
Sebelumnya, Samsul bersama Merdi telah melakukan pelatihan peningkatan kapasitas kepada para penenun di Desa Umapura, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor pada 23 Agustus 2018 dan di Desa Anarea, Kecamatan Ndao Nuse, Kabupaten Rote Ndao pada 6 November 2018.
"Para penenun binaan Ditjen PDTT di Kabupaten Alor dan Kabupaten Rote Ndao kami datangkan langsung ke Jakarta dan mendapatkan tempat duduk di front row untuk menyaksikan langsung hasil karyanya. Sehingga ke depan hal ini akan memacu semangat para penenun di daerah tertinggal untuk berkarya," jelasnya.
Total ada 4 penenun yang dihadirkan langsung dalam ajang EFWI, 2 penenun dari Kabupaten Alor dan 2 penenun dari Kabupaten Rote Ndao.
Menurut Samsul seluruh biaya akomodasi para penenun selama di Jakarta difasilitasi oleh Ditjen PDTT. Para penenun ini menempuh waktu perjalanan 6-9 jam dari desanya untuk bisa sampai ke Jakarta.
Menurutnya di mata masyarakat, pekerjaan penenun yang rata-rata dilakukan oleh perempuan masih dianggap kurang bergengsi. Sementara itu kehidupan penenun yang sebagian besar tinggal di daerah tertinggal masih membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai sehingga mereka dapat hidup layak.
Samsul menyebut gerakan "Save the Loom" ini akan difokuskan di Lombok dan Donggala, yang dirasakan mendesak mengingat kejadian bencana alam sistemik yang terjadi di kedua daerah tersebut.
"Bencana alam yang terjadi di Lombok dan Donggala berdampak pada kehidupan masyarakat di sana, ibu-ibulah yang bertindak sebagai tulang punggung keluarga dan mereka pula yang harus diselamatkan," ujar Samsul.
Selain memenuhi kebutuhan dasar para penenun pascagempa, gerakan "Save The Loom" juga fokus pada tiga aspek pemberdayaan, yakni permodalan, produksi hingga pemasaran. Melalui gerakan ini diharapkan para penenun mempu bangkit dan dapat menjadi lebih sejahtera usai mendapat bantuan.
Oleh karena itu, Ajang EFWI juga dimanfaatkan untuk mengampanyekan "Save The Loom", yaitu gerakan yang lahir dari pemikiran bahwa penenun adalah ujung tombak dalam menghasilkan kain cantik yang bernilai seni tinggi
Dalam acara ini, sejumlah istri Menteri Kabinet Kerja Jokowi-JK terlihat turut hadir dalam Fashion Show yang menampilkan tenun Ikat Alor dan Rote Ndao, seperti Ibu Menteri Desa PDTT Riri Sandjojo, Ibu Menteri ESDM Ratnawati Jonan, Ibu Menteri Koperasi dan UKM Bintang Puspayoga, dan Ibu Menteri Sekretaris Kabinet Hani Pramono.
Baca berita lainnya terkait kegiatan Kemendes di sini.
(mul/mpr)
Event yang digelar di Gedung Stovia, Jakarta, pada 30 November hingga 2 Desember 2018 ini merupakan buah kerja sama Kemendes PDTT dengan desainer ternama Indonesia Merdi Sihombing. Event ini digelar untuk melestarikan kekayaan seni tekstil Indonesia melalui metode yang ramah lingkungan.
"Eco Fashion Week ini adalah yang pertama kali di Indonesia dan Asia. Selain itu, perlu untuk diingat bahwa eco fashion bukan hanya sekadar konsep fashion yang menggunakan bahan alami, tapi juga suatu konsep fashion yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan kehidupan di bumi. Di situ ada isu tentang perubahan iklim, gerakan konservasi dan pemberdayaan masyarakatnya berbasis komunitas," jelas Merdi Sihombing dalam keterangan tertulis, Senin (3/12/2018).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada EFWI 2018 ini turut digelar berbagai rangkaian acara seperti fashion show, workshop class, bazar, hingga screening film seputar fashion.
Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDTT Samsul Widodo mengatakan EFWI bertujuan untuk memperkaya referensi fashion masyarakat, lewat karya-karya ethical yang dibuat langsung masyarakat di daerah tertinggal, seperti tenun ikat Alor dan tenun ikat Rote Ndao.
"Bersama Bang Merdi, kami mengembangkan konsep live in designer, di mana para desainer tinggal bersama para penenun yang ada di daerah tertinggal untuk memberikan pendampingan teknik menenun dan pewarnaan alami dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal, sehingga ramah lingkungan dan diterima di pasar modern," ujar Samsul.
Hasil karya penenun di daerah tertinggal itulah yang kemudian dipamerkan dalam EFWI pada sesi Fashion Show dengan tema Nomadic Look pada Jumat (30/11/2018) malam.
Sebelumnya, Samsul bersama Merdi telah melakukan pelatihan peningkatan kapasitas kepada para penenun di Desa Umapura, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor pada 23 Agustus 2018 dan di Desa Anarea, Kecamatan Ndao Nuse, Kabupaten Rote Ndao pada 6 November 2018.
"Para penenun binaan Ditjen PDTT di Kabupaten Alor dan Kabupaten Rote Ndao kami datangkan langsung ke Jakarta dan mendapatkan tempat duduk di front row untuk menyaksikan langsung hasil karyanya. Sehingga ke depan hal ini akan memacu semangat para penenun di daerah tertinggal untuk berkarya," jelasnya.
Total ada 4 penenun yang dihadirkan langsung dalam ajang EFWI, 2 penenun dari Kabupaten Alor dan 2 penenun dari Kabupaten Rote Ndao.
Menurut Samsul seluruh biaya akomodasi para penenun selama di Jakarta difasilitasi oleh Ditjen PDTT. Para penenun ini menempuh waktu perjalanan 6-9 jam dari desanya untuk bisa sampai ke Jakarta.
Menurutnya di mata masyarakat, pekerjaan penenun yang rata-rata dilakukan oleh perempuan masih dianggap kurang bergengsi. Sementara itu kehidupan penenun yang sebagian besar tinggal di daerah tertinggal masih membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai sehingga mereka dapat hidup layak.
Samsul menyebut gerakan "Save the Loom" ini akan difokuskan di Lombok dan Donggala, yang dirasakan mendesak mengingat kejadian bencana alam sistemik yang terjadi di kedua daerah tersebut.
"Bencana alam yang terjadi di Lombok dan Donggala berdampak pada kehidupan masyarakat di sana, ibu-ibulah yang bertindak sebagai tulang punggung keluarga dan mereka pula yang harus diselamatkan," ujar Samsul.
Selain memenuhi kebutuhan dasar para penenun pascagempa, gerakan "Save The Loom" juga fokus pada tiga aspek pemberdayaan, yakni permodalan, produksi hingga pemasaran. Melalui gerakan ini diharapkan para penenun mempu bangkit dan dapat menjadi lebih sejahtera usai mendapat bantuan.
Oleh karena itu, Ajang EFWI juga dimanfaatkan untuk mengampanyekan "Save The Loom", yaitu gerakan yang lahir dari pemikiran bahwa penenun adalah ujung tombak dalam menghasilkan kain cantik yang bernilai seni tinggi
Dalam acara ini, sejumlah istri Menteri Kabinet Kerja Jokowi-JK terlihat turut hadir dalam Fashion Show yang menampilkan tenun Ikat Alor dan Rote Ndao, seperti Ibu Menteri Desa PDTT Riri Sandjojo, Ibu Menteri ESDM Ratnawati Jonan, Ibu Menteri Koperasi dan UKM Bintang Puspayoga, dan Ibu Menteri Sekretaris Kabinet Hani Pramono.
Baca berita lainnya terkait kegiatan Kemendes di sini.
Health & Beauty
Mykonos Hawaiian Crush Extrait de Parfum, Parfum Wangi Tropis yang Bikin Mood Naik!
Elektronik & Gadget
Airbot X40 Master, Robot Vacuum Super Pintar untuk Rumah Bersih Tanpa Ribet!
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
Rihanna Gandeng Anak Elon Musk Jadi Model Lingerie untuk Koleksi Valentine
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Jaket Nicolas Maduro saat Ditangkap Jadi Sorotan, Viral Diburu Netizen
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
Most Popular
1
Drakor Jisoo BLACKPINK & Seo In Guk Tayang 2026, Aktingnya Tuai Sorotan
2
Ramalan Zodiak 9 Januari: Capricorn Harus Sabar, Aquarius Lebih Teliti
3
TikTok Viral Verificator
Viral Momen Dosen Pertanian Mantu, Souvenir Bibit Tanaman Jadi Sorotan
4
Jerawat Tak Kunjung Hilang? Coba 7 Rangkaian Skincare Ini
5
Sudah Cerai, Kim Kardashian Masih Jadi Fans Sepatu Rancangan Kanye West
MOST COMMENTED












































