Refleksi 36 Tahun Berkarya di Koleksi Busana Terbaru Biyan
Daniel Ngantung - wolipop
Rabu, 07 Nov 2018 08:19 WIB
Jakarta
-
Satu lagi persembahan terbaru dari desainer kenamaan Indonesia Biyan Wanaatmadja. Lewat koleksi teranyar Studio 133 Biyan, ia merefleksi perjalanan kariernya selama 36 tahun terakhir.
Berkarya selama lebih dari tiga dasawarsa dimaknai Biyan sebagai sebuah perjalanan yang penuh lika-liku. Terkadang sesuai ekspektasi, ada juga yang tak sejalan dengan harapan. Namun, pengalaman itulah yang mengasah kreativitas serta kapasitas Biyan sebagai desainer.
"Banyak yang berjalan secara harmonis dan tidak. Tetapi justru dalam proses kreatif, banyak kemungkinan yang bisa terjadi dari ketidakharmonisan," kata Biyan jelang peragaannya di Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, Selasa (6/11/2018) petang.
Hal itu yang kemudian menjadi ceruk inspirasi Biyan dalam menelurkan koleksi Spring-Summer 2019 ini yang bertajuk 'Juxtaposed'. Secara harfiah, kata 'juxtaposed' bisa diartikan sebagai perpaduan antara dua elemen yang saling bertolak-belakang.
Fashion-wise, Biyan mengaplikasikannya dengan menabrakan berbagai unsur busana yang berbeda karakteristiknya. Baik itu tekstur, komposisi, corak maupun siluet. Meski bertabrakan, perpaduan tersebut justru menciptakan sebuah keunikan yang menjadi daya tarik tersendiri.
Misal pada blouse bercorak floral yang terinspirasi dari motif batik buketan dipadankan dengan celana longgar polkadot selutut. Keduanya hadir dalam palet monokromatik sehingga tetap harmonis. Kemahiran Biyan dalam bermain dengan detail-detail kian menyempurnakan karyanya.
Biyan juga mengeksplor dengan padu-padan look feminin dan maskulin yang menciptakan kesan androgyny yang edgy. Dengan variasi tampilan busana itu, kepribadian gaya sang pemakai yang individualis pun dapat terakomodasi dengan baik. Hadir pula koleksi busana pria yang cenderung polos namun tetap menarik dengan sentuhan etnik.
"Lewat koleksi ini, saya tidak mau mencoba mendikte cara berpakaian para pecinta Biyan, tapi lebih kepada memberi opsi buat mereka. You should dress the way how your personality goes," ungkap desainer jebolan London College of Fashion, London, Inggris, ini.
'Juxtaposed' pun dimaknai Biyan sebagai caranya untuk memahami selera konsumen masa kini, terutama kaum muda yang selera gayanya lebih sophisticated disertai dengan gaya hidup yang semakin digital.
"Saya beruntung masih bisa berkarya setelah 3,5 dekade. Di usia yang tak lagi muda ini, saya terus bereksperimen dan belajar karena begitulah fashion. Berjalan dengan dinamikanya. Selalu ada bahasa yang berubah dari waktu ke waktu," tambah desainer yang karyanya beberapa kali membalut tubuh artis Hollywood itu.
Itu pula lah yang akhirnya mendorong Biyan untuk mencoba strategi pemasaran berbasis daring atau online, yakni bersama e-commerce JD.ID yang menjadi sponsor utama fashion show tersebut. Beberapa busana dari koleksi ini pun dijual secara eksklusif di situs JD.ID, bahkan sesaat setelah para model memeragakannya di catwalk (see now buy now).
Selain menawarkan eksklusifitas, kolaborasi ini juga memungkinkan konsumen dari seluruh penjuru Indonesia yang tidak dapat berkunjung ke butik Biyan untuk mendapatkan koleksinya.
Meramu sebuah koleksi yang selalu relevan dengan zamannya sebenarnya sudah menjadi visi Biyan sejak mendirikan Studio 133 Biyan pada 1985. Semuanya bermula dari sebuah garasi kecil di rumahnya yang beralamat di Jalan Pandegiling Nomor 133, Surabaya, Jawa Timur.
"Setelah bergumul, saya memutuskan untuk membuat koleksi ready to wear yang terinspirasi dari tradisi budaya kita. Misalnya kebaya. Banyak bentuk kebaya yang bisa dibuat ulang dengan detail yang lebih ringan sehingga tampak modern dan versatile. Biasanya bicara sesuatu yang tradisional, orang pasti pikirnya tua atau old fashion kan? Saya ingin mengubah mind-set itu," kenang Biyan.
(dtg/dtg)
Berkarya selama lebih dari tiga dasawarsa dimaknai Biyan sebagai sebuah perjalanan yang penuh lika-liku. Terkadang sesuai ekspektasi, ada juga yang tak sejalan dengan harapan. Namun, pengalaman itulah yang mengasah kreativitas serta kapasitas Biyan sebagai desainer.
Koleksi Spring-Summer 2019 dari Studio 133 Biyan. Foto: Moh. Abduh/Wolipop |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fashion-wise, Biyan mengaplikasikannya dengan menabrakan berbagai unsur busana yang berbeda karakteristiknya. Baik itu tekstur, komposisi, corak maupun siluet. Meski bertabrakan, perpaduan tersebut justru menciptakan sebuah keunikan yang menjadi daya tarik tersendiri.
(Foto: Moh. Abduh/Wolipop) |
Biyan juga mengeksplor dengan padu-padan look feminin dan maskulin yang menciptakan kesan androgyny yang edgy. Dengan variasi tampilan busana itu, kepribadian gaya sang pemakai yang individualis pun dapat terakomodasi dengan baik. Hadir pula koleksi busana pria yang cenderung polos namun tetap menarik dengan sentuhan etnik.
"Lewat koleksi ini, saya tidak mau mencoba mendikte cara berpakaian para pecinta Biyan, tapi lebih kepada memberi opsi buat mereka. You should dress the way how your personality goes," ungkap desainer jebolan London College of Fashion, London, Inggris, ini.
'Juxtaposed' pun dimaknai Biyan sebagai caranya untuk memahami selera konsumen masa kini, terutama kaum muda yang selera gayanya lebih sophisticated disertai dengan gaya hidup yang semakin digital.
"Saya beruntung masih bisa berkarya setelah 3,5 dekade. Di usia yang tak lagi muda ini, saya terus bereksperimen dan belajar karena begitulah fashion. Berjalan dengan dinamikanya. Selalu ada bahasa yang berubah dari waktu ke waktu," tambah desainer yang karyanya beberapa kali membalut tubuh artis Hollywood itu.
(Foto: Moh. Abduh/Wolipop) |
Selain menawarkan eksklusifitas, kolaborasi ini juga memungkinkan konsumen dari seluruh penjuru Indonesia yang tidak dapat berkunjung ke butik Biyan untuk mendapatkan koleksinya.
Meramu sebuah koleksi yang selalu relevan dengan zamannya sebenarnya sudah menjadi visi Biyan sejak mendirikan Studio 133 Biyan pada 1985. Semuanya bermula dari sebuah garasi kecil di rumahnya yang beralamat di Jalan Pandegiling Nomor 133, Surabaya, Jawa Timur.
"Setelah bergumul, saya memutuskan untuk membuat koleksi ready to wear yang terinspirasi dari tradisi budaya kita. Misalnya kebaya. Banyak bentuk kebaya yang bisa dibuat ulang dengan detail yang lebih ringan sehingga tampak modern dan versatile. Biasanya bicara sesuatu yang tradisional, orang pasti pikirnya tua atau old fashion kan? Saya ingin mengubah mind-set itu," kenang Biyan.
(dtg/dtg)
Health & Beauty
Mykonos Hawaiian Crush Extrait de Parfum, Parfum Wangi Tropis yang Bikin Mood Naik!
Elektronik & Gadget
Airbot X40 Master, Robot Vacuum Super Pintar untuk Rumah Bersih Tanpa Ribet!
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
Rihanna Gandeng Anak Elon Musk Jadi Model Lingerie untuk Koleksi Valentine
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Jaket Nicolas Maduro saat Ditangkap Jadi Sorotan, Viral Diburu Netizen
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
Most Popular
1
Potret Moana Anak Ria Ricis, Sudah Jadi Juragan Kos-kosan di Usia 3 Tahun
2
Daftar Tanggal Cantik 2026, Cocok Untuk Lamar Kekasih Hingga Gelar Pernikahan
3
Ramalan Zodiak 9 Januari: Libra Pemasukan Stabil, Scorpio Kerja Keras
4
Gaya Berani Sydney Sweeney di Pemotretan Terbaru, Tubuh Emas Tanpa Busana
5
Potret Piper Rockelle, Mantan Influencer Cilik Gabung OnlyFans Jadi Kontroversi
MOST COMMENTED












































Koleksi Spring-Summer 2019 dari Studio 133 Biyan. Foto: Moh. Abduh/Wolipop
(Foto: Moh. Abduh/Wolipop)
(Foto: Moh. Abduh/Wolipop)