Tenun Maumere Jadi Primadona di Pertemuan IMF-WB 2018 Bali

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 10 Okt 2018 17:15 WIB
Foto: Dok. Image Dynamics Foto: Dok. Image Dynamics

Nusa Dua - Di tengah Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) - World Bank (WB) 2018 yang tengah berlangsung di Nusa Dua, Bali, keindahan wastra Nusantara mencuri perhatian. Salah satunya kain tenun khas Maumere buatan perajin mitra binaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Warna-warni tenun Maumere dari Nusa Tenggara Timur (NTT) terbentang cantik di gerai Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) milik Rosvita yang berada di Indonesia Pavilion. Rosvita adalah satu dari 25 perajin yang mendapat kesempatan untuk memamerkan karyanya kepada para tamu yang didominasi oleh para ekonom dan delegasi internasional itu.

Baca Juga: Sedang di Bali, Ini Gaya Bos IMF yang Cinta Kain Khas Indonesia

Tenun Maumere Jadi Primadona di IMF-WB 2018 Bali Tamu menyaksikan Rosvita menenun di Indonesia Pavilion di pertemuan IMF-WB 2018, di Nusa Dua, Bali. (Foto: Dok. Image Dynamics)
Kain-kain yang Rosvita pamerkan cukup beragam, baik dalam warna maupun motif. Namun, sebagian besar didominasi oleh warna merah, biru, nila dan hitam yang dihasilkan dari proses pewarnaan alami.

Seperti wastra lainnya, banyak makna filosofis yang tersirat di lembaran kain khas Maumere. Motif Lian Lipa misalnya yang menyimbolkan kesuburan seorang perempuan. "Ini motif tradisional yang biasa dipakai oleh perempuan di atas usia 50 tahun," terang Rosvita seperti tertulis dalam keterangan pers yang diterima Wolipop, Rabu (10/10/2018).

Bukan sekadar memamerkan, Rosvita dan kawan-kawannya juga mempraktikan cara pembuatan kain-kain tersebut di tempat. Para tamu pun terlihat antusias menyaksikan aksi para perajin menenun dengan mesin tradisional.

"Semua proses tenun ini pengerjaannya secara tradisional, begitu pula pewarnaannya yang menggunakan bahan alami, seperti berasal dari akar, daun, buah, batang kulit pohon dan lain-lain," jelas Rosvita. Satu kain tenun, sambung dia, idealnya memakan waktu hingga tiga bulan untuk pembuatannya dan dua bulan untuk pewarnaannya. Namun, waktu pengerjaan dan pewarnaan bisa lebih cepat bila ukuran kain tidak terlalu besar.

Baca Juga: Cinta Kain Indonesia, Dokter Australia Koleksi Seribuan Tenun dan Batik

Tenun Maumere Jadi Primadona di IMF-WB 2018 Bali Foto: Dok. Image Dynamics
Selain motif Lian Lipa, kain tenun bermotif dala mawarane dalam warna biru dan merah juga menjadi primadona. "Warna biru, nila atau indigo, dan merah yang pewarnanya dari akar mengkudu. Ini merupakan simbol keutuhan sebuah keluarga atau suku," jelas Rosvita yang piawai menenun sejak remaja.

Pameran tersebut turut menampilkan produk-produk olahan dari tenun, seperti dompet, tempat kartu, syal dan masih banyak lagi. Pameran tenun khas Maumere hadir di Indonesia Pavilion hingga hari ini saja, karena akan berganti secara berkala dengan kain dari daerah lainnya.

Rosvita berharap, pameran tersebut dapat semakin mengangkat eksistensi tenun dari NTT ke panggung dunia. Sebelumnya, Rosvita sudah pernah menerima pesanan dari Jepang, Amerika Serikat, dan Jerman.

"Saya sangat bangga bisa hadir di ajang ini, karena ini merupakan kesempatan saya untuk memperkenalkan tenun kepada masyarakat mancanegara. Saya berharap, setelah pameran ini, produk-produk tenun dari NTT semakin go international," ujarnya.


(dtg/dtg)