3 Desainer Indonesia Siap Bawa Batik ke UNESCO Paris
Hestianingsih - wolipop
Kamis, 19 Apr 2018 17:11 WIB
Jakarta
-
Sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada Oktober 2009, batik menjadi salah satu kebanggaan utama masyarakat Indonesia. Eksistensinya kian besar. Tak sedikit generasi muda tergerak mengenakan kain batik sebagai busana untuk tampil di berbagai kesempatan.
Bisa dibilang, batik sudah mendapat tempat istimewa di negerinya sendiri, yaitu Indonesia. Tapi melestarikan batik rupanya tidak cukup hanya sampai di situ.
Gaung batik seharusnya jangan berhenti di dalam negeri saja, tapi juga perlu dibawa ke dunia internasional. Sayang rasanya jika batik yang begitu indah dan penuh nilai filosofis dari sebuah budaya hanya 'dinikmati' segelintir kalangan.
Hal itulah yang menjadi perhatian khusus desainer Oscar Lawalata. Untuk bisa lestari dalam waktu lama, batik haruslah 'keluar kandang'. Artinya, dikenal masyarakat secara lebih luas tak hanya dari Sabang sampai Merauke, tapi juga lintas benua.
Dari pemikiran panjang tersebut, tercetuslah gagasan Oscar untuk membawa batik go international. Kantor Pusat UNESCO di Paris pun jadi pilihan Oscar sebagai panggung untuk makin meluaskan eksistensi batik.
"Kita lihat di Indonesia kan sibuk bagaimana mengangkat batik. Tapi batik pernah dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, karena batik sudah maju sedemikian rupa saya rasa ini saatnya kita memperlihatkan kembali ke UNESCO di Paris, kepada dunia, bagaimana Indonesia tetap melestarikan batik," ujar Oscar saat berbincang dengan Wolipop di Plataran Dharmawangsa, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Dua tahun lamanya Oscar menggagas konsep untuk bisa memamerkan batik di UNESCO Paris, Prancis. Setelah proses panjang, akhirnya Oscar beserta dua desainer Indonesia Edward Hutabarat dan Denny Wirawan, didukung Bank Mandiri dan Djarum Foundation, siap membawa batik ke dunia internasional Juni 2018 mendatang dalam pameran bertajuk 'Batik For The World'.
"Pameran di sana sangat terkurasi, seluruh dunia berusaha membawa budayanya masing-masing untuk dipamerkan. Jadi mereka sangat selektif. Saya membawa ide ini ke sana dengan memperlihatkan bagaimana batik berkembang, para pengrajinnya bisa survive, dan bagaimana desainer serta fashion Indonesia juga sangat memajukan industri batik. Presentasi itu akhirnya diterima," cerita desainer berdarah Maluku dan Manado ini.
Tiga desainer yang terlibat akan menampilkan ragam batik dari beberapa daerah di Indonesia. Oscar sendiri membawa batik dari lima daerah di Jawa Timur. Di antaranya Madura, Surabaya, Ponorogo, Trenggalek dan Tuban. Denny Wirawan akan mengusung keindahan dan keunikan batik Kudus, sementara Edward Hutabarat memboyong batik dari daerah pesisiran Mega Mendung dan Sawunggaling.
Pameran yang berlangsung pada 6 - 12 Juni 2018 itu akan menampilkan fashion show, sejarah batik, proses pembuatan batik serta koleksi batik lawas dari masa ke masa. Akan ada juga workshop dan talkshow dengan ahli batik sebagai pembicara. Pengunjung juga bisa belajar cara membatik langsung dari para seniman batik.
"Kami mau bercerita tentang keragaman batik Indonesia. Kekayaan yang kita punya, kenapa UNESCO kala itu memberi penghargaan ini kepada Indonesia. Bagaimana budaya ini berlangsung dari ratusan tahun lalu dan akhirnya menjadi ciri di berbagai daerah tertentu. Kita mau cerita batik dengan beragam ciri khasnya," terang Oscar lagi.
Desainer yang telah lebih dari 16 tahun mengangkat kain Indonesia sebagai material utama dalam rancangannya ini menegaskan bahwa pameran ini bukanlah panggung untuk para desainer yang terlibat. Tapi batik lah yang jadi bintang utamanya.
"Bintang utamanya adalah kain batik. Desainer hanya menunjukkan bagaimana dari kain menjadi sebuah busana. Agar orang mengerti dulu batik itu seperti apa? Kita harus cerita prosesnya. Diharapkan banyak pengunjung yang akan datang nanti," kata Oscar yang menargetkan 1.000 orang untuk datang di acara pembukaan pada 6 Juni 2018.
Langkah besar ini dilakukan Oscar Lawalata, Denny Wirawan, Edward Hutabarat dan berbagai pihak yang terlibat semata-mata untuk membuka mata dunia bahwa batik bukan sekadar produk fashion. Tapi ada komponen lebih besar di belakangnya yakni para pengrajin.
"Memang kalau ditanya apakah dunia sudah ngeh dengan batik, mungkin lebih ke dunia fashion. Tapi kan dunia fashion tidak terlalu peduli dengan pengrajinnya. Acara di UNESCO ini lebih kepada menunjukkan kebudayaan, bagaimana melestarikannya," pungkas Oscar. (hst/hst)
Bisa dibilang, batik sudah mendapat tempat istimewa di negerinya sendiri, yaitu Indonesia. Tapi melestarikan batik rupanya tidak cukup hanya sampai di situ.
Gaung batik seharusnya jangan berhenti di dalam negeri saja, tapi juga perlu dibawa ke dunia internasional. Sayang rasanya jika batik yang begitu indah dan penuh nilai filosofis dari sebuah budaya hanya 'dinikmati' segelintir kalangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari pemikiran panjang tersebut, tercetuslah gagasan Oscar untuk membawa batik go international. Kantor Pusat UNESCO di Paris pun jadi pilihan Oscar sebagai panggung untuk makin meluaskan eksistensi batik.
"Kita lihat di Indonesia kan sibuk bagaimana mengangkat batik. Tapi batik pernah dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, karena batik sudah maju sedemikian rupa saya rasa ini saatnya kita memperlihatkan kembali ke UNESCO di Paris, kepada dunia, bagaimana Indonesia tetap melestarikan batik," ujar Oscar saat berbincang dengan Wolipop di Plataran Dharmawangsa, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Tiga desainer Indonesia dan Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian. Foto: Hestianingsih/Wolipop |
Dua tahun lamanya Oscar menggagas konsep untuk bisa memamerkan batik di UNESCO Paris, Prancis. Setelah proses panjang, akhirnya Oscar beserta dua desainer Indonesia Edward Hutabarat dan Denny Wirawan, didukung Bank Mandiri dan Djarum Foundation, siap membawa batik ke dunia internasional Juni 2018 mendatang dalam pameran bertajuk 'Batik For The World'.
"Pameran di sana sangat terkurasi, seluruh dunia berusaha membawa budayanya masing-masing untuk dipamerkan. Jadi mereka sangat selektif. Saya membawa ide ini ke sana dengan memperlihatkan bagaimana batik berkembang, para pengrajinnya bisa survive, dan bagaimana desainer serta fashion Indonesia juga sangat memajukan industri batik. Presentasi itu akhirnya diterima," cerita desainer berdarah Maluku dan Manado ini.
Tiga desainer yang terlibat akan menampilkan ragam batik dari beberapa daerah di Indonesia. Oscar sendiri membawa batik dari lima daerah di Jawa Timur. Di antaranya Madura, Surabaya, Ponorogo, Trenggalek dan Tuban. Denny Wirawan akan mengusung keindahan dan keunikan batik Kudus, sementara Edward Hutabarat memboyong batik dari daerah pesisiran Mega Mendung dan Sawunggaling.
Pameran yang berlangsung pada 6 - 12 Juni 2018 itu akan menampilkan fashion show, sejarah batik, proses pembuatan batik serta koleksi batik lawas dari masa ke masa. Akan ada juga workshop dan talkshow dengan ahli batik sebagai pembicara. Pengunjung juga bisa belajar cara membatik langsung dari para seniman batik.
"Kami mau bercerita tentang keragaman batik Indonesia. Kekayaan yang kita punya, kenapa UNESCO kala itu memberi penghargaan ini kepada Indonesia. Bagaimana budaya ini berlangsung dari ratusan tahun lalu dan akhirnya menjadi ciri di berbagai daerah tertentu. Kita mau cerita batik dengan beragam ciri khasnya," terang Oscar lagi.
Desainer Denny Wirawan, Oscar Lawalata dan Edward Hutabarat. Foto: Hestianingsih/Wolipop |
Desainer yang telah lebih dari 16 tahun mengangkat kain Indonesia sebagai material utama dalam rancangannya ini menegaskan bahwa pameran ini bukanlah panggung untuk para desainer yang terlibat. Tapi batik lah yang jadi bintang utamanya.
"Bintang utamanya adalah kain batik. Desainer hanya menunjukkan bagaimana dari kain menjadi sebuah busana. Agar orang mengerti dulu batik itu seperti apa? Kita harus cerita prosesnya. Diharapkan banyak pengunjung yang akan datang nanti," kata Oscar yang menargetkan 1.000 orang untuk datang di acara pembukaan pada 6 Juni 2018.
Langkah besar ini dilakukan Oscar Lawalata, Denny Wirawan, Edward Hutabarat dan berbagai pihak yang terlibat semata-mata untuk membuka mata dunia bahwa batik bukan sekadar produk fashion. Tapi ada komponen lebih besar di belakangnya yakni para pengrajin.
"Memang kalau ditanya apakah dunia sudah ngeh dengan batik, mungkin lebih ke dunia fashion. Tapi kan dunia fashion tidak terlalu peduli dengan pengrajinnya. Acara di UNESCO ini lebih kepada menunjukkan kebudayaan, bagaimana melestarikannya," pungkas Oscar. (hst/hst)
Health & Beauty
Mykonos Hawaiian Crush Extrait de Parfum, Parfum Wangi Tropis yang Bikin Mood Naik!
Elektronik & Gadget
Airbot X40 Master, Robot Vacuum Super Pintar untuk Rumah Bersih Tanpa Ribet!
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
Rihanna Gandeng Anak Elon Musk Jadi Model Lingerie untuk Koleksi Valentine
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Jaket Nicolas Maduro saat Ditangkap Jadi Sorotan, Viral Diburu Netizen
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
Most Popular
1
Mengenal Cigarette Jeans, Model Celana Jeans Ala 80an yang Tren di 2026
2
Lisa BLACKPINK Jadi Presenter Golden Globe Awards 2026, Cetak Rekor Baru
3
Ramalan Zodiak Cinta 9 Januari: Scorpio Makin Romantis, Aries Jaga Jarak
4
7 Potret Teagan Croft, Pemeran Rapunzel di Live-action 'Tangled'
5
Alasan Drakor Love Me Menarik Ditonton, Dibintangi Seo Hyun Jin & Chang Ryul
MOST COMMENTED












































Tiga desainer Indonesia dan Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian. Foto: Hestianingsih/Wolipop
Desainer Denny Wirawan, Oscar Lawalata dan Edward Hutabarat. Foto: Hestianingsih/Wolipop