Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Pertama Kali di Indonesia, Banyuwangi Gelar Festival Kebaya di Bandara

Putri Akmal - wolipop
Sabtu, 22 Apr 2017 07:40 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Putri Akmal
Banyuwangi - Untuk pertama kalinya di Indonesia, Festival Kebaya digelar di Banyuwangi. Festival ini dihelat di terminal hijau Bandara Blimbingsari Banyuwangi, yang juga merupakan satu-satunya terminal bandara berkonsep hijau di Indonesia.

Festival kebaya ini digelar selama dua hari (21-22 April) yang melibatkan 100 desainer kebaya. Beberapa diantaranya Ferry Sunarto, Priscilla Saputro, Lenny Agustin, Deden Siswanto, Afif Syakur, Dwi Iskandar, Devy Rose, Inge Chu, Phangsanny, Dedy Delmora, dan Aura Putri. Para desainer ini mewakili keragaman gaya kebaya, mulai dari glamor, kasual, klasik, hingga kontemporer. Puluhan produk desain kebaya karya desainer asli daerah pun ditampilkan secara apik pada pagelaran ini.

Bupati Banyuwangi Abdulah Azwar Anas menjelaskan, kebaya telah menjadi identitas nasional yang dipakai oleh seluruh lapisan masyarakat. Banyuwangi ingin mengambil kesempatan sebagai daerah yang pertama kali mengangkat kebaya sebagai bagian dari produk kreatif daerah selain batik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami ingin mendorong adanya kreativitas baru di Banyuwangi. Desainer lokal tidak hanya kami pacu untuk meningkatkan kualitas batik, tapi juga mendapatkan peluang bisnis baru lewat kebaya yang pangsa pasarnya sangat besar. Kaum perempuan kan setiap acara hampir pasti pakai kebaya, itu pasar yang sangat besar," kata Anas usai gelaran Festival Kebaya di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, Jumat (21/4/2017).
Foto: Putri Akmal

Untuk meningkatkan daya saing produk kebaya desainer lokal, pemerintah daerah menggandeng Indonesian Fashion Chamber (IFC) sebagai mentor pendamping. Workshop teknis pun telah digelar dengan materi seputar desain, proses pembuatan kebaya, dan manajemen pemasaran produk.

"Pemerintah daerah ingin terus membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku industri mode daerah. Kami ingin semua potensi Banyuwangi mendapatkan kesempatan untuk merambah tingkat yang lebih luas," ujarnya.

Anas menambahkan bahwa bandara sengaja dipilih sebagai venue, selain untuk mengenalkan green airport yang segera diresmikan dalam waktu dekat, juga karena lokasinya yang memang menarik sebagai catwalk peragaan busana.

Chairman IFC Ali Charisma mengatakan, selama ini belum ada acara yang khusus menggarap kebaya secara menyeluruh. Meskipun sebenarnya kebaya sudah tidak asing di Indonesia karena banyak acara terkait kebaya seperti fashion show, namun semua masih dilakukan dalam skala kecil dan belum terorganisasi dengan baik. Padahal, kebaya ini bila digarap serius potensinya sangat besar.

"Banyuwangi adalah daerah pertama yang menggarapnya. Ini ujungnya ada di bisnis, biar perajin dan UMKM lokal terangkat, dan ini butuh pondasi yang kuat," terang Ali.

Pondasi itu diwujudkan dengan membuat inkubator bisnis. Para desainer nasional mengerek kompetensi desainer dan perajin busana lokal dengan membuka workshop kepada 100 pelaku usaha dalam dua tahap.

Perhelatan Festival Kebaya Banyuwangi menampilkan ragam kegiatan menarik terkait kebaya, mulai dari exhibition, art installation, art performing, trunk show, dan fashion show

"Para desainer dan perajin lokal diinjeksi materi tentang bagaimana pembuatan DNA brand, yakni mengajarkan agar fokus dan mengejar target pasar yang akan diambil, teknis pengerjaan kebaya, dan manajemen usaha. Besok mereka menampilkan puluhan kreasinya," tutur Ali. (hst/hst)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads