Cerita Chitra Subyakto yang 'Debat' dengan Pengrajin untuk Rilis Kain Terbaru
Hestianingsih - wolipop
Rabu, 07 Des 2016 11:53 WIB
Jakarta
-
Kecintaan Chitra Subyakto pada kain Nusantara membawa wanita yang awalnya berprofesi sebagai fashion stylist ini menjajal dunia desain tekstil. Dua tahun sukses memperkenalkan Batik dengan sentuhan modern, wanita 42 tahun ini mencoba mengangkat kekayaan tekstil Indonesia dari timur, tenun ikat Sumba.
Keindahan dan eksotisme kain Sumba dipamerkannya lewat koleksi terbaru bertajuk Humba yang dipresentasikan dalam eksibisi berupa instalasi seni di Curated Room, Senayan City, Jakarta Selatan. Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Chitra untuk menciptakan koleksi kain yang diproduksi secara terbatas ini. Pendekatan dengan para pengrajin tenun ikat di Sumba, menjadi tantangan pertama bagi Chitra.
Kecintaan Chitra terhadap ikat tenun Sumba berawal dari proyek film 'Pendekar Tongkat Emas' yang proses syutingnya sebagian besar dilakukan di Sumba. Tiga bulan berada di pulau tersebut, Chitra semakin mengenal kain Sumba yang ternyata proses pengerjaannya memerlukan waktu cukup lama hanya untuk menghasilkan satu kain saja. Ia pun ingin masyarakat terutama kaum muda juga ingin mengenal keindahan kain ini lewat labelnya Sejauh Mata Memandang.
"Saya pendekatan dengan ibu-ibu pengrajin di Sumba. Sekitar delapan pengrajin saya ajak untuk buat kain koleksi Humba ini. Pendekatannya sekitar tiga bulan sampai saya dan para pengrajin sepakat untuk membuat motif kain sesuai yang saya inginkan," ujar Chitra saat ditemui di pembukaan pameran Humba di Senayan City, Jakarta Selatan, Selasa (6/12/2016).
Chitra menceritakan bahwa para wanita pengrajin tenun ikat Sumba terbiasa membuat kain dengan motif yang meriah. Misalnya bentuk-bentuk hewan. Sementara fashion stylist peraih Piala Citra untuk Best Costume Design ini menginginkan desain motif yang lebih sederhana. Terinspirasi dari keindahan alam Pulau Sumba, Chitra ingin menggambarkan perbukitan dengan motif seperti zig-zag dan warna-warna alam seperti merah, cokelat, hitam dan biru.
"Mereka terbiasa dengan motif hewan seperti kepiting dan kuda. Tiba-tiba disuruh buat motif yang hanya segitiga, perbukitan. Kata mereka terlalu sepi motifnya dan mau ditambah-tambah biar lebih ramai. Tapi saya tidak mau. Menurut mereka motif dari saya itu aneh," cerita Chitra.
Selain perdebatan kecil mengenai motif, pewarnaan juga melalui proses yang rumit. Tenun ikat Sumba terkenal dengan pewarnaan menggunakan bahan-bahan dari alam seperti buah, bunga, hingga kayu-kayuan. Ada satu warna yang menurut Chitra membutuhkan teknik yang cukup sulit untuk mendapatkannya. Warna tersebut terbilang unik sehingga harus dicampurkan dengan lumpur.
"Saya ingin ada warna abu kecokelatan tapi mereka tidak punya warna yang seperti itu. Jadilah pakai lumpur campur kayu. Sehabis hujan mereka cari lumpur dan ditaruh di baskom," jelas Chitra.
Proses pewarnaan memakan waktu cukup lama karena tergantung dari alam. Saat hujan, warna jadi lebih sulit meresap ke dalam kain sehingga waktunya pun jadi lebih lama. Menurut Chitra, proses ini memerlukan kesabaran 'tingkat tinggi'. Namun justru itu yang menarik dari pembuatan sehelai kain tenun ikat ini.
Proses pembuatan kain membuat Chitra lebih banyak berhubungan dengan manusia. Bukan mesin komputer. Bukan mesin cetak juga bukan dengan alat modern. Lewat kain-kain ciptaannya, Chitra ingin memperkenalkan 'slow fashion' dan 'slow living' yang mulai banyak dilupakan orang karena terlena dengan sesuatu yang serba cepat.
"Sekarang semuanya sudah seperti fast food. Jadi saya ingin mengajak untuk balik lagi ke slow fashion. Agar ada sesuatu yang bisa menyeimbangkan," lanjut Chitra.
Dari kaca mata Chitra, tekstil merupakan bentuk seni seperti hal nya seni lukis yang bisa dinikmati dalam berbagai bentuk. (hst/hst)
Keindahan dan eksotisme kain Sumba dipamerkannya lewat koleksi terbaru bertajuk Humba yang dipresentasikan dalam eksibisi berupa instalasi seni di Curated Room, Senayan City, Jakarta Selatan. Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Chitra untuk menciptakan koleksi kain yang diproduksi secara terbatas ini. Pendekatan dengan para pengrajin tenun ikat di Sumba, menjadi tantangan pertama bagi Chitra.
Kecintaan Chitra terhadap ikat tenun Sumba berawal dari proyek film 'Pendekar Tongkat Emas' yang proses syutingnya sebagian besar dilakukan di Sumba. Tiga bulan berada di pulau tersebut, Chitra semakin mengenal kain Sumba yang ternyata proses pengerjaannya memerlukan waktu cukup lama hanya untuk menghasilkan satu kain saja. Ia pun ingin masyarakat terutama kaum muda juga ingin mengenal keindahan kain ini lewat labelnya Sejauh Mata Memandang.
Foto: Hestianingsih/Wolipop |
"Saya pendekatan dengan ibu-ibu pengrajin di Sumba. Sekitar delapan pengrajin saya ajak untuk buat kain koleksi Humba ini. Pendekatannya sekitar tiga bulan sampai saya dan para pengrajin sepakat untuk membuat motif kain sesuai yang saya inginkan," ujar Chitra saat ditemui di pembukaan pameran Humba di Senayan City, Jakarta Selatan, Selasa (6/12/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka terbiasa dengan motif hewan seperti kepiting dan kuda. Tiba-tiba disuruh buat motif yang hanya segitiga, perbukitan. Kata mereka terlalu sepi motifnya dan mau ditambah-tambah biar lebih ramai. Tapi saya tidak mau. Menurut mereka motif dari saya itu aneh," cerita Chitra.
Selain perdebatan kecil mengenai motif, pewarnaan juga melalui proses yang rumit. Tenun ikat Sumba terkenal dengan pewarnaan menggunakan bahan-bahan dari alam seperti buah, bunga, hingga kayu-kayuan. Ada satu warna yang menurut Chitra membutuhkan teknik yang cukup sulit untuk mendapatkannya. Warna tersebut terbilang unik sehingga harus dicampurkan dengan lumpur.
"Saya ingin ada warna abu kecokelatan tapi mereka tidak punya warna yang seperti itu. Jadilah pakai lumpur campur kayu. Sehabis hujan mereka cari lumpur dan ditaruh di baskom," jelas Chitra.
Proses pewarnaan memakan waktu cukup lama karena tergantung dari alam. Saat hujan, warna jadi lebih sulit meresap ke dalam kain sehingga waktunya pun jadi lebih lama. Menurut Chitra, proses ini memerlukan kesabaran 'tingkat tinggi'. Namun justru itu yang menarik dari pembuatan sehelai kain tenun ikat ini.
Foto: Hestianingsih/Wolipop |
Proses pembuatan kain membuat Chitra lebih banyak berhubungan dengan manusia. Bukan mesin komputer. Bukan mesin cetak juga bukan dengan alat modern. Lewat kain-kain ciptaannya, Chitra ingin memperkenalkan 'slow fashion' dan 'slow living' yang mulai banyak dilupakan orang karena terlena dengan sesuatu yang serba cepat.
"Sekarang semuanya sudah seperti fast food. Jadi saya ingin mengajak untuk balik lagi ke slow fashion. Agar ada sesuatu yang bisa menyeimbangkan," lanjut Chitra.
Dari kaca mata Chitra, tekstil merupakan bentuk seni seperti hal nya seni lukis yang bisa dinikmati dalam berbagai bentuk. (hst/hst)
Health & Beauty
Mykonos Hawaiian Crush Extrait de Parfum, Parfum Wangi Tropis yang Bikin Mood Naik!
Elektronik & Gadget
Airbot X40 Master, Robot Vacuum Super Pintar untuk Rumah Bersih Tanpa Ribet!
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
Rihanna Gandeng Anak Elon Musk Jadi Model Lingerie untuk Koleksi Valentine
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Jaket Nicolas Maduro saat Ditangkap Jadi Sorotan, Viral Diburu Netizen
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
Most Popular
1
Gaya Berani Sydney Sweeney di Pemotretan Terbaru, Tubuh Emas Tanpa Busana
2
Potret Piper Rockelle, Mantan Influencer Cilik Gabung OnlyFans Jadi Kontroversi
3
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
4
50 Ucapan Selamat Tidur Bahasa Inggris Romantis, Bikin Pacar Senyum Meleleh
5
Cara Tak Terduga Klamby Rilis Koleksi Lebaran 2026, Dibungkus Film Musikal
MOST COMMENTED












































Foto: Hestianingsih/Wolipop
Foto: Hestianingsih/Wolipop