Jakarta
-
Ketika tas puluhan juta rupiah mengganti peran kanvas sebagai media menumpahkan karya seni. Rumah mode Dior melakukannya, dengan meminta tujuh seniman menuangkan visinya di atas tas ikonik, Lady Dior.
Tujuh seniman ini datang dari latar berbeda, ada yang berasal dari Inggris dan juga Amerika. Mereka adalah Mat Collishaw, Ian Davenport, Daniel Gordon, Chris Martin, Jason Martin, Matthew Porter dan Marc Quinn. Masing-masing menuangkan karyanya di atas tas, dompet, sampai gantungan kunci Dior edisi terbatas.
"Tas Lady Dior yang ikonik, rilis pada tahun 1995 dan telah menginspirasi banyak seniman internasional seperti Olympia Scarry, Nan Goldin, Mounir Fatmi," kata Sidney Toledano chief executive officer of Christian Dior Couture.
Seniman Jason Martin mengadaptasi gaya cat metaliknya yang ikonik untuk salah satu tas Dior. Seolah catnya sengaja dibiarkan mengalir di atas tas mahal itu dan menamakannya seri 'Colorfall'. Lalu ada Marc Quinn yang menghadirkan cat minyak gambar bunga anggrek. Kemudian Daniel Gordon menerjemahkan kolase grafis melalui bulu berwarna hitam dan putih.
 Foto: Dok. Christian Dior |
 Foto: Dok. Christian Dior |
 Foto: Dok. Christian Dior |
Pelukis dari Amerika, Chris Martin menghadirkan lukisan gambar katak juga bunglon. Matthew Porter memilih lukisan surealis dengan mobil di atas lampu lalu lintas.
 Foto: Dok. Christian Dior |
 Foto: Dok. Christian Dior |
 Foto: Dok. Christian Dior |
Karya-karya ini akan dirilis pada koleksi Dior Lady Art di Miami, 29 November mendatang. Harganya di mulai dari US$ 360 atau Rp 4,7 juta untuk tempat kartu dan U$ 11.500 atau sekitar Rp 152 juta untuk tas bulu. Sementara rata-rata harga tas dengan kulit dijual antara US$ 3.500 sampai US$ 6.000 atau Rp 46 juta - Rp 80 juta. (asf/asf)