Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Beyonce Memakai Dasi Rancangan Tukang Sapu Gereja

Daniel Ngantung - wolipop
Sabtu, 04 Jun 2016 10:43 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: ist.
Jakarta - Sepintas tidak ada yang spesial dari sosok Christopher Chaun Bennett. Ia adalah seorang petugas kebersihan di sebuah gereja di Boston, AS. Tapi siapa yang menyangka, jika pria keturunan Afrika-Amerika ini pernah mendesain dasi kupu-kupu untuk selebritis sekelas Beyonce.

Bagai dua sisi uang koin, Christopher Chaun Bennett memiliki dua pekerjaan yang saling bertolak belakang. Ia adalah seorang desainer kupu-kupu merangkap janitor atau petugas kebersihan di Jubilee Christian Church, di Mattapan, Boston, AS, gereja tempatnya beribadah.

Ia terjun di industri fashion pada 2009 tanpa disengaja. Semuanya berawal saat Christopher tengah memulai kariernya sebagai aktor. Saat hendak menghadiri preview party "Business is War", film yang dibintanginya, ia tidak menemukan dasi kupu-kupu yang tepat untuk dipadupadankan dengan pakaiannya.

Lantas muncul ide untuk membuat sendiri dasi kupu-kupu berbahan denim. Ternyata, karyanya menarik atensi banyak orang. Nama Christopher pun mulai tersebar dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga stylist Beyonce.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu karyanya terpilih untuk melengkapi penampilan Beyonce di panggung acara puncak season finale Oprah Winfrey Show pada 2011 silam.

"Aku menangis ketika Beyonce memakainya," ujar dia seperti dikutip dari Boston Globe. Selain Beyonce, karyanya juga pernah dipakai Ronnie Hillman, bintang footbal dari tim Denver Broncos.
Sejak itu, ia mulai fokus membangun label dasi kupu-kupunya bernama 'Christopher Chaun'. Ratusan potong dasi sudah sempat terjual dengan harga per buah dipatok dari US$ 200 - US$ 500.

Namun, hasil penjualan ternyata belum cukup untuk menopang kebutuhan hidup. Demi menyambung hidup, ia pun mencari pekerjaan sampingan pada 2011.

"Jadi aku berlutut dan berdoa, memohon pemasukan tambahan kepada Tuhan," kenang pria 31 tahun itu.

Tuhan mendengar doanya. Esok harinya, lanjut Christopher, saat mengikuti ibadah doa pagi di Jubilee Christian Church, ia mendengar gereja tersebut sedang mencari petugas kebersihan.

Tanpa perlu berpikir, ia langsung melamar. Chris Sumner, pastor di gereja tersebut sempat kaget dan bingung melihat lamaran Christopher. "Saya tanya, 'Kenapa kamu mau melakukan pekerjan'," kenang Chris menirukan perkataannya saat itu.

Sebagai seorang petugas kebersihan, pekerjaannya mencakup membersihkan kamar mandi, memvakum, mengepel, dan merapikan meja dan kursi untuk acara gereja.

Meski pekerjaannya di gereja jauh dari kata glamor, ia tetap melakukannya dengan penuh sukacita. Di kalangan jemaat geraja, Christopher yang senang mengenakan pakaian olahraga saat bekerja dikenal sebagai pria dengan etos kerja yang baik, rajin, dan cekatan. Baginya, ini adalah bagian dari proses hidup sekaligus ungkapan rasa syukurnya kepada sang Pencipta.

"Pada akhirnya, semuanya ini hanya untuk melayani Tuhan," kata Christopher.

Setelah menyelesaikan tugasnya di gereja, ia kembali ke apartemen kecilnya untuk kembali berkarya sebagai seorang desainer. Ia berharap suatu hari nanti dapat mengekspansi bisnisnya ke sepatu, pakaian pria dan anak-anak.

(dng/kik)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads