Perdana Garap Tenun, Itang Yunasz Sempat Kurang Percaya Diri

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 10 Mei 2016 13:15 WIB
Foto: Mohammad Abduh
Jakarta - Peragaan busana 'Jalinan Lungsi Pakan' di Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) 2016, Senin (9/5/2016) malam, menampilkan kolaborasi Cita Tenun Indonesia (CTI) bersama enam desainer, salah satunya Itang Yunasz yang belum pernah mengangkat tenun. Perdana, ia sempat kurang percaya diri.

Sebetulnya, wastra Nusantara bukanlah sesuatu yang asing bagi desainer senior ini. Hampir di setiap rancangannya, Itang yang fokus pada busana santun (modest wear) selalu memasukkan elemen kain tradisional. Namun hanya sebatas meminjam motifnya untuk diterjemahkan ulang ke atas bahan dengan teknik digital printing.



Hingga akhirnya CTI menggandeng Itang menggarap tenun Garut untuk 'Jalinan Lungsi Pakan'. Awalnya, pria kelahiran Jakarta, 31 Desember 1958, itu sempat menolak ajakan CTI karena merasa kurang percaya diri. Ia menyampaikan itu kepada Sjamsidar Isa atau akrab disapa Tjammy, perwakilan CTI yang juga Ketua Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI).

"Saya sempat Whatsapp-an dengan Mba Tjammy, bilang aku engga PD lantaran belum pernah mengolah kain-kain tenun asli. Tapi beliau terus memotivasi saya dan menerimanya sebagai tantangan," cerita Itang jelang peragaan.



Akhirnya, Itang menerima tawaran tersebut yang disebutnya sebagai 'tantangan terindah'. Dalam proses kreatifnya, juara II Lomba Perancang Mode Femina 1981 itu sempat menghadapi kendala. Biasa menggunakan bahan berukuran luas, kali ini Itang memakai tenun yang ukurannya terbatas.

"Kalau bikin busana muslim, saya bisa pakai bahan sampai tujuh meter untuk satu busana. Tapi, sekarang bahan yang tersedia cuma dua meter," ungkap Itang.  

Untuk menyiasatinya, ia sedikit mengubah pola kain dan memadukannya dengan bahan lace atau renda. "Perpaduan itu juga untuk menghadirkan suatu aksen yang indah pada busana," ungkap desainer yang sudah hampir 30 tahun berkecimpung di industri mode Tanah Air itu. 

Di tangan Itang, tenun Garut yang dikenal dengan karakter warna mencoloknya hadir dalam siluet kebaya kimono, tunic, dan empire. Beberapa di antaranya berpadu manis dengan celana palazzo dan atau slim-fit namun cenderung longgar.  



Sebagai sentuhan akhir, Itang menampilkan modelnya dengan penutup kepala bergaya 'kuluk', turban wanita Jambi tempo dulu.

Ayah dua anak ini berharap karyanya dapat berkontribusi dalam memajukan industri modest wear sekaligus mendukung upaya pelestarian wastra tradisional agar para perajinnya bisa memeroleh kehidupan yang layak.

"Bukan sekedar mendapat tepuk tangan di atas panggung. Semoga koleksi ini memiliki daya jual yang tinggi sehingga kehdupan para perajin bisa lebih baik lagi," katanya.



'Jalinan Lungsi Pakan' turut menampilkan karya Chossy Latu, Auguste Soesastro, Tri Handoko, dan dua desainer pemenang Next Young Promising Designer (NYPD), Felisa Aprilia dan Lanny Hewijanto.

'Jalinan Lungsi Pakan' digelar CTI sebagai wujud apresiasinya terhadap pencapaian dari berbagai daerah binaannya, Tujuannya agar masyarakat dapat mengenal keindahan tenun sebagai salah satu wastra Nusantara dan mengapresiasinya.

"Kita harus bangga punya nenek moyang yang sangat kreatif, khususnya dalam bidang kerajinan tangan," ucap Tjammy. (dng/dng)