Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Diprediksi Paling Konsumtif, Generasi Y Jadi Pasar Baru Brand Fashion High End

Alissa Safiera - wolipop
Senin, 02 Mei 2016 15:02 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: REUTERS/Benoit Tessier
Jakarta - Generasi Y adalah masa depan para brand fashion.

Perkembangan teknologi membuat tiap brand fashion membuat strategi untuk membidik pasar potensial, yaitu generasi Y. Tidak terkecuali bagi brand high end kelas dunia. Generasi Y atau juga disebut Millenial adalah sebutan untuk mereka yang lahir di awal tahun 1980-an dan 2000-an, masa di mana smartphone tak bisa lepas dari genggaman, masa di mana internet menjadi kebutuhan dasar.

Dari sebuah artikel yang dilansir oleh WWD, di tahun 2035 angkatan Millennial diperkirakan menjadi generasi paling konsumtif di sepanjang sejarah. Pernyataan itu didasarkan pada penelitian yang dibuat oleh ahli di bidang pemasaran, Pam Danziger, "Five Luxe Trends for 2015."

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para generasi internet akan memberi definisi berbeda pada kata kemewahan. Mewah kini tak hanya menjelaskan harga dari tas, sepatu atau jam. Penafsirannya makin luas, menjadi pengalaman makan malam mewah atau perjalanan liburan. Kini brand mode dunia mulai menyamarkan garis antara barang yang mewah dengan pengalaman yang didapatkan. Salah satunya, menganggap belanja barang mewah adalah pengalaman bagi pembeli, itulah poinnya.

Tahun ini, Instagram menjadi senjata bagi brand fashion dalam menjual produknya. Berdasarkan data dari penelitian digital marketing, ada peningkatan sebanyak 400 persen dari tahun lalu untuk postingan Instagram oleh para brand mode.

Desainer kini tak hanya fokus kepada para socialite, namun juga mereka yang memiliki pengaruh besar di dunia media sosial. Desainer mulai membuat para influencer di dunia maya jatuh hati pada brandnya. Pemilik followers ratusan ribu di Instagram, kini mudah mendapat akses untuk menyaksikan fashion show para brand high end dan juga menjadi yang pertama mencoba koleksinya.

Semuanya soal bagaimana membuat generasi Y tertarik dan jatuh hati lewat pemasaran di media sosial. Brand high end menjual mimpi bagi generasi muda lewat dunia maya. Mereka mencoba membuat para penggemar barunya mulai mencoba membeli, dan akhirnya terus-menerus jatuh cinta dengan produknya.

Sebagai contoh, generasi Y melihat tokoh idolanya memiliki banyak koleski Burberry seperti dipamerkan di album Instagramnya. Kemudian ia akan mencoba parfum Burberry sebagai barang mewah pertamanya. Lalu mulai membeli scarf dengan harga yang lebih tinggi saat kuliah, dan akhirnya memiliki trench coat yang ikonik ketika telah bekerja. Tujuannya sederhana, agar orang biasa bisa bermimpi untuk memiliki barang yang mewah tersebut seiring bertambahnya usia. Hingga akhirnya, dapat menjadi penggemar setia brand.

Beberapa anak muda dari generasi Y yang berpengaruh di dunia media sosial adalah Kendall dan Kylie Jenner, Cara Delevingne serta Gigi Hadid merajai budaya pop dunia dan membuat pengaruh besar pula di dunia mode. Ikon mode ini mendominasi runway dan juga kampanye brand, juga telah memengaruhi penjualan beberapa brand high end.

Louis Vuitton dan Burberry adalah brand yang teratas digemari para generasi Y. Mereka suka berinovasi dan mampu berkomunikasi dengan baik kepada para generasi muda. Sebagai contoh, Louis Vuitton yang mengeluarkan koleksi bertajuk film animasi Final Fantasy. Atau ketika Burberry berkolaborasi dengan Apple dan membuat channel di Apple Music untuk lagu-lagu yang dipakai di runway fashion show Burberry.

Para brand mewah yang mulai terjun ke era digital memilki konten yang otentik dan orisinil. Mereka tak takut mencoba hal baru dan membuat produknya tampak lebih menarik kepada calon pembeli. Jika generasi Y adalah masa depan, maka brand-brand high end perlu menganggapnya sebagai tantangan dan mulai mempertimbangkannya. (asf/asf)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads