Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Laporan dari Tokyo

Mengenal Yuki Katsuta, Pria di Balik Inovasi Bahan Teknologi Tinggi Uniqlo

Alissa Safiera - wolipop
Jumat, 04 Des 2015 14:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Alissa Safiera/Wolipop
Jakarta - "Sebuah inovasi tidak bisa diciptakan hanya dalam satu malam atau satu hari. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyempurnakannya," -Yuki Katsuta-

Apa yang diungkap pria yang kini menjabat sebagai senior vice president of global research and design Uniqlo menjadi gambaran yang tepat untuk mengawali ceritanya dalam proses kreasi. Pria di balik rancangan busana-busana berteknologi tinggi dari brand high-street Jepang Uniqlo.

Berbagai inovasi telah dibuat olehnya, misalnya teknologi HeatTech yang menjaga panas tubuh tetap di dalam sehingga badan hangat di musim dingin atau Airism yang memungkinkan kulit bernafas dalam pakaian yang cepat menyerap keringat. Ada lagi kemeja yang tidak bisa kusut dan cocok diajak traveling atau jaket-jaket Ultra Light Down yang terkesan tebal dari luar, namun luar biasa ringan. Bahkan tidak lebih berat dari smartphone Anda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Merancang sebuah item basic seperti DNA Uniqlo yang simpel bukan hal mudah bagi Yuki. Setiap helainya selalu diselipkan inovasi terbaru atau dikembangkan dari teknologi terdahulu yang dikemas lebih baik lagi. Itulah yang menjadi sebuah tantangan besar baginya, yaitu harus menyempurnakan apa yang sudah ada untuk tahun-tahun berikutnya.

"Semakin sulit karena kami telah melakukannya selama bertahun-tahun. Untuk HeatTech (baju yang bisa menyerap panas ketika musim dingin) misalnya, telah diperbaiki dengan inovasi selama 11 sampai 12 tahun. Menjadi tantangan terbesar. Bagaimana ide yang baru datang dan memberi inovasi di tiap helai," pungkas pria yang bergabung bersama Uniqlo sejak 2005.

Mengikuti gaya Uniqlo yang dikenal dengan koleksi basic, bukan berarti Yuki dan timnya tidak sama sekali mengadopsi tren global yang beredar. Mungkin kata yang lebih tepat bukan mengikuti, melainkan menyajikan dan memudahkan para pelanggannya untuk mengikuti gaya hidup yang tengah jadi tren.

"Jangan mendesain sebuah busana yang mengajarkan pembeli tentang apa yang harus mereka pakai. Yang kami lakukan adalah merancang apa yang mereka butuhkan dengan cara yang sederhana," ujar Yuki ketika berbincang bersama Wolipop di Belle Selle, Shibuya, Tokyo, Jepang, Selasa (1/12/2015) lalu.

Yuki menambahkan, inpirasinya kadang datang dari unsur budaya lokal di negara-negara lain. Salah satunya ketika ia mendesain busana tunik dan melihat inspirasi embroidery ala negara Bangladesh. Bagaimana dengan Indonesia? Tidak menutup kemungkinan akan menjadi inspirasi dari adaptasi budaya lokal selanjutnya. Yuki mengatakan ia juga terpikat dengan motif batik. Salah satu desainernya juga pernah menemui seorang pengusaha batik di Indonesia untuk sekadar berbincang.

Pria berusia 51 tahun itu juga menjadi otak kreatif di balik kolaborasi Uniqlo dengan blogger hijab asal Inggris, Hana Tajima beberapa waktu lalu. Baginya ini adalah proyek yang membanggakan. Responnya begitu baik tidak hanya di negara-negara Asia yang didominasi muslim, tapi juga negara-negara besar di Amerika dan London. Koleksi dengan Hana pun akan dilanjutkan untuk musim semi 2016 mendatang.

"Pada akhirnya desain kami dirancang tidak hanya untuk beberapa pelanggan, namun semua orang," tambahnya.

Untuk musim semi 2016 Uniqlo kembali melahirkan beberapa item basic yang dikemas modern dan versatile, selain beberapa koleksi yang memang jadi andalannya, seperti AIRism atau HeatTeach. Misalnya ketika Uniqlo menghadirkan celana-celana kulot atau jaket struktural bertekstur kulit, hasil kolaborasi brand Jepang ini dengan fashionista Parisian, Carine Roitfeld.

(asf/asf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads