Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Kemasan Modern Kain Indonesia di Tangan 3 Desainer Muda

Alissa Safiera - wolipop
Kamis, 25 Jun 2015 18:46 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Alissa/ Wolipop
Jakarta -

Kekayaan wastra Indonesia bukan lagi sekadar helaian koleksi yang hanya dimiliki oleh kelompok umur atau adat tertentu. Di tangan para kreator muda lokal, kain yang awalnya identik dengan busana formal kini dapat dinikmati dalam berbagai acara, sampai yang kasual sekalipun.

Salah satu desainer muda yang mengubah pandangan itu adalah Amanda I. Lestari, desainer di balik brand Lekat. Keunikan yang ditawarkan sang desainer adalah membuat kain wastra, khususnya dari Baduy tampil lebih modern dan dapat dikenakan generasi muda.

Selama satu tahun melakukan eksplorasi hingga akhirnya mampu menjamah dua kampung di Baduy sebagai pengrajinnya, Amanda akhirnya dapat berkreasi dengan kain Baduy untuk berbagai item mulai dari baju, topi hingga sepatu. Ciri khasnya, adalah rumbai di sepanjang garis pinggir jahitan, yang ternyata didapatnya dari proses ketidaksengajaan atau kesalahan pengrajin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awalnya karena salah menenun cuma ternyata bagus jadi dilanjutkan. Untuk pewarnaan semua memakai warna alam makanya prosesnya lama bisa sampai 2-3 bulan," ujarnya singkat saat berbincang di Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia Shopping Town, Kamis (25/6/2015).

Kecintaan terhadap keindahan kain wastra juga menarik perhatian dari desainer brand PRibuMI dan Sejauh Mata Memandang untuk mengeksplorasi kain lokal. Dari brand PRibuMi, adalah desainer bernama Ella V. Brizaldy. Bersama labelnya, ia melansir produk fashion seperti tas tangan, sepatu dengan bahan-bahan bermotif khas Indonesia dan juga kulit sapi berkualitas.

Baca Juga: 50 Inspirasi Baju Lebaran 2015

Koleksinya menggambarkan kepribadian sang desainer yang eksentrik. Misalnya koleksi tas memakai kulit berwarna merah dan juga magenta. Satu di antara karya yang ditampilkan juga hadir dengan detail fringe atau rumbai yang senada dengan koleksi sepatunya.

Kemudian ada Citra Subiakto, sebagai desainer dari brand Sejauh Mata Memandang. Kecintaan Citra pada kain wastra telah dimilikinya sejak kecil melihat dari sosok sang ibu yang juga mengoleksi kain. Pekerjaannya sebagai fashion stylist yang telah membawanya keliling wilayah di Indonesia juga mendasarinya.

"Saya senang sama kain dan mungkin untuk anak muda kain itu masih tradisi banget, jadi aku ingin berbagi kalau batik adalah proses tapi motif adalah kreatif. Dari kecil ibu saya selalu pakai kain dari situ saya jatuh cinta dengan kain Indonesia," ujar Citra di acara yang sama.

Atas kecintaannya, Citra mendirikan brand Sejauh Mata Memandang satu tahun lalu yang membuat motif batik lebih bisa dikenakan dalam berbagai kesempatan. Motifnya pun jauh dari kesan tradisional karena ia yang mengkreasikan sendiri.

Seperti yang diungkap sang desainer "Apapun bisa menjadi inspirasi," Tak heran beberapa motif terlihat unik misalnya gambar ayam yang terinspirasi dari mangkok bergambar ayam dan bunga yang sudah familiar bagi masyarakat Indonesia. Warna yang dipilih juga membuat busana Sejauh terlihat kasual, yakni biru dan putih.

(als/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads