Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

<i>Intimate Interview</i>

Didi Budiardjo: Awal Karier Saya Sebagai Desainer Seperti Alien

Alissa Safiera - wolipop
Kamis, 08 Jan 2015 13:21 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Moh. Abduh/ Wolipop
Jakarta -

Eksistensi desainer Didi Budiardjo di industri mode Tanah Air sudah tak perlu diragukan lagi. Sejak memulai kariernya di tahun 1989, secara konsisten sang desainer menawarkan karya-karya adibusana terbaik dengan sentuhan wastra Indonesia di beberapa koleksinya.

25 tahun Didi memantapkan namanya sebagai desainer ternama di Indonesia, dengan memamerkan koleksi trilogi yang menarasikan perjalanan kariernya selama di industri mode. Di mulai dengan koleksi couture 2015 berjudul Curiosity Cabinet pada bulan Oktober 2014 lalu, Didi kini tengah mempersiapkan sekuel kedua dari rangkaian trilogi karyanya, 'Pilgrimage' di pertengahan Januari 2015 mendatang.

Perjalanan karier pun tak selalu berjalan mulus bagi desainer lulusan LPTB Susan Budihardjo ini. Di awal kariernya pada tahun 1989, Didi mengaku sempat merasa dirinya kurang diapresiasi. Di masa itu, profesi sebagai desainer tak terlalu menarik perhatian masyarakat, bahkan pasar sulit menerima sebuah gebrakan atau tren baru yang ditampilkan masa itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awal karier saya sebagai desainer, saya merasa seperti alien. Profesi desainer itu seperti sesuatu yang aneh. Orang lebih cepat mengernyitkan dahi saat itu," kata Didi saat konferensi pers 'Pilgrimage' di Museum Tekstil, Jakarta Pusat, Rabu (7/1/2015).

Sebagai desainer yang memulai kariernya di antara akhir tahun '80-an dan awal '90-an, ia merasa sebagai desainer kelas dua saat itu. Diungkapnya, desainer yang menampilkan busana ready to wear terlihat lebih banyak diminati, namun tidak begitu dengan gaun malam. Meski demikian, konsistensi Didi dan juga sahabatnya sesama desainer gaun malam dan couture, seperti Sebastian ataupun Eddy Betty pada akhirnya dapat membalikkan keadaan itu. Pandangannya, tak lagi menjadi kelas dua. Justru desainer gaun malam lebih dipandang saat itu.

"Dua tahun ini, ready to wear mulai banyak lagi jadi fokus desainer. Tapi menurut saya itu melegakan karena fashion Indonesia haruslah kaya," tambah Didi.

Saat ini, nama Didi Budiardjo tentu tak lagi asing di telinga masyarakat pecinta mode di Indonesia. Didi pun tengah mempersiapkan pagelaran busana terbarunya yang akan ditampilkan secara berbeda, yaitu dengan konsep pameran di museum; yang merupakan pertama di Indonesia.

Pameran yang berlangsung selama 9 hari pada 16 - 25 Januari 2015 di Museum Tekstil, Jakarta Pusat ini tak hanya akan memamerkan manekin dengan rancangan Didi, namun menyampaikan cerita di balik sebuah karya. Ia juga mengundang desainer lain seperti Susan Budihardjo, Adrian Gan, Eddy Betty dan Sebastian Gunawan untuk menampilkan karya mereka. Para desainer itu dipilihnya tak hanya karena alasan bersahabat, namun nama-nama tadilah yang menginspirasi dan membantu seorang Didi Budiardjo sampai ke tahapan ini.

"Misalnya Susan Budihardjo, beliau adalah guru saya, dia memberi konsultasi yang menurut saya berharga. Ketika dia lihat dia langsung ambil gunting dan membuang yang tidak perlu dari rancangan saya dulu, dan itu adalah bagus karena tidak terpikirkan oleh saya," kenang Didi.

Para pengunjung museum karya Pilgrimage Didi nantinya akan merasakan pengembaraan Didi lewat 70 set busana, terdiri atas 300 item yang dipresentasikan melalui 14 ruangan yang telah didesain dengan tema berbeda. Beberapa di antaranya adalah Atelier, Reflection, White Forest, Moonless dan Gula Kelapa.

"Ruang pertama menggambarkan pertama kali Didi berkarya. Ada sketsa, buku-buku, dan lebih personal tentang Didi. Ruang kedua instalasinya dibuat mengikuti perjalanan kariernya, setelah mendesain, menciptakan pola. Ruang ketiga dibuat serba putih karena saya melihat koleksi Didi begitu romantis. Kemudian ada ruang tenun, ruang Indonesia, ruang serba hitam, favorit saya adalah ruang gula kepala yang serba merah putih," jelas Felix Tjahyadi, creative director Didi Budiardjo yang menggambarkan konsep 'Pilgrimage' nanti.

Tak ada target pengunjung khusus yang disebutkan Didi dalam pameran fashionnya kali ini. Namun ia berharap akan ada lebih dari 2.000 pengunjung yang datang untuk melihat pameran selama 9 hari itu. Pengunjung pun dapat menikmati karya Didi dan empat desainer lainnya tersebut secara gratis, tanpa dipungut biaya masuk.

(asf/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads