Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

6 Fakta Menarik Tentang Songket yang Belum Tentu Anda Ketahui

Rahmi Anjani - wolipop
Sabtu, 20 Des 2014 09:24 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Rahmi Anjani/Wolipop
Jakarta - Mungkin sudah banyak masyarakat Indonesia yang mengenal kain songket. Terlebih orang dari suku-suku tertentu yang sering mengenakannya di acara bertema adat. Namun entah karena harga yang mahal atau memang sudah tergeser dengan pakaian moderen, songket saat ini agak kurang peminatnya.

Tahukah Anda jika sebuah songket umumnya membutuh proses pengerjaan paling tidak satu bulan? Atau motif seperti apa yang sudah punah karena pengaruh dari ajaran Islam? Bagi Anda yang ingin tahu lebih banyak tentang kain ini, simaklah beberapa fakta menariknya yang dihimpun Wolipop dari berbagai sumber:

1. Asal Kata
Songket berasal dari bahasa Melayu yakni sungkit. Yang berarti ada benang tertentu yang diangkat untuk dimasukkan benang tambahan. Hal tersebut yang menjadikan kain setelah selesai ditenun memiliki corak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

2. Teknik
Sebenarnya kata songket merajuk pada sebuah nama teknik. Yakni tenunan yang dibuat dengan teknik pemberian benang pakan (benang yang dimasukkan melintang) tambahan diantara benang pakan dasar, di mana benang lungsi (benang yang disusun memanjang dan tidak bergerak) diungkit dengan kayu kecil berdasarkan pola tertentu sehingga bisa mengayam benang pakan tambahan ke benang lungsi.

Penambahan pakan tambahan adalah hal yang membedakan songket dengan tenun biasa. Dari situ akan terbentuk motif. Selain benang tambahan warna emas atau perak, ada juga beberapa songket dari suku-suku tertentu yang dimasukkan manik-manik. Rumitnya pengerjaan ini membuat songket biasanya memakan waktu minimal satu bulan.

3. Motif
Songket memiliki beragam motif. Motif-motif tersebut umumnya dipengaruhi ‎oleh tradisi dan kepercayaan masing-masing daerah. Misalnya motif songket Melayu di Sumatera Timur. Kebanyakan memiliki motif bunga atau hewan, jarang manusia karena pengaruh agama Islam. Songket dari daerah Batubara, Sumatera Barat yang dahulu kerap mengaplikasikan corak naga berjuang pun punah karena ajaran Islam.

Begitu pula dengan songket Sumatera Barat. Jika ada motif binatang tidak digambar secara realis. Namun ada pula beberapa‎ kain di sana yang menghadirkan motif kuda, rusa, merak, atau singa secara nyata. Umumnya corak itu timbul karena pengaruh Belanda.

4. Asal Usul
Sebagian orang mungkin lebih mengenal songket berasal dari Pulau Sumatera. Padahal songket bisa ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali dan Nusa Tenggara. ‎Kabarnya teknik ini sudah ditemukan sejak zaman Perunggu sekitar abad ke delapan hingga abad kedua SM. Dahulu benang yang digunakan untuk menenun songket diperkirakan adalah serat rami, serat pisang, serat nanas, atau benang katun yang ditanam di wilayah pesisiran.

5. Cara Perawatan
Bagi Anda yang telah atau hendak mengkoleksi songket, sebaiknya kain tersebut dirawat dengan benar. Karena tak jarang bahan tersebut adalah warisan leluhur atau memiliki nilai yang sangat mahal. Menurut Miranda Alda Iswandi, Direktur Artistik studio tenun Pinankabu, sebaiknya simpan songket dengan menggunakan kertas bebas asam. Songket disimpan dengan cara digulung menggunakan kertas itu. Setelah dipakai sebaiknya dianging-anginkan. Bentangkanlah kain itu setiap bulannya untuk dilihat jika ada noda yang perlu dibersihkan.

6. Mahal
Hal yang wajar jika songket dijual dengan harga yang mahal. Kain ‎ini dibuat dengan proses yang membutuhkan waktu serta keahlian yang tidak dimiliki semua orang. Semakin jarangnya minat orang yang mau menenun juga mengakibatkan kain ini semakin tinggi harganya. Banyak pula pengrajin yang menyerah dengan kegiatan menenun karena harga jual tidak sebanding dengan pengerjaan. Umumnya kain ini dijual ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

(ami/asf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads