Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Songket Sumatera

Songket Kontemporer, Ketika Songket Tak Lagi Jadi Kain 'Keramat'

wolipop
Jumat, 19 Des 2014 15:29 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Rahmi/Wolipop
Jakarta -

Songket merupakan kain tradisional yang patut dihargai. Bukan hanya karena proses produksinya yang membutuhkan waktu serta keahlian, wastra ini umumnya mengandung sebuah makna bahkan doa melalui motif yang ditampilkan. Hal tersebut membuat songket menjadi produk 'keramat' yang sebaiknya tidak disalahgunakan.

Di industri fashion sendiri, geliat para desainer untuk mengangkat kain tradisional sudah mulai marak. Meski patut diapresiasi, para pegiat songket kadang mengkhawatirkan jika wastra yang sarat makna, terlebih terkait dengan kepercayaan dikemas secara kurang pantas. Misalnya dengan mengemas songket tertentu menjadi busana yang cukup terbuka.

Bagi Anda ingin mengkreasikan ‎kain tradisional secara lebih bebas, songket kontemporer bisa dijadikan alternatifnya. Kontemporer sendiri dapat diartikan penggabungan antara seni tradisional dengan modern atau sesuatu yang lama dikemas dengan bentuk baru. Hal tersebut membuat makna songket jadi tidak terlalu sakral. Seperti songket kontemporer yang dibuat oleh studio tenun Pinankabu. Pelatihan yang bertempat di Nagari Canduang, Kota Laweh, Sumatera Barat itu pernah mengaplikasikan ukiran Jam Gadang ke sebuah songket. Songket seperti itu yang dinamakan songket kontemporer.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang kadang takut pakai songket. Songket kadang spesifik ya, untuk ikat kepala atau selendang. Songket kontemporer lebih fleksibel bisa dipadankan dengan busana modern. Orang jadi nggak takut dibilang menyalahi pakem," ungkap Miranda Alda Iswandi selaku Direktur Artistik Studio Tenun Pinankabu saat ditemui di acara talkshow yang digelar Yayasan Mahligai Songket, Jumat (19/12/2014), Hotel Darmawangsa, Jakarta Selatan.

Pemindahan sebuah corak di luar motif asli songket ini pun dianggap sebagai sesuatu yang sah-sah saja menurut Miranda. Karena motif Jam Gadang sendiri memang benar-benar ada terlebih memiliki ‎makna yang sarat moral. Corak ukiran bernama Saluak Laka itu melambangkan kekerabatan.

Studio Miranda, Pinankabu, sebenarnya berfokus pada ‎riset dan pengembangan. Awalnya studio tersebut dibangun sebagai aksi kepeduliannya karema Nagari Canduang dahulu pernah menjadi sebuah sentra songket. Bersama sang suami yang berlatar belakang seni, Iswandi, mereka pun membangun Pinankabu pada 2013.

Dalam mengelola studio tersebut Miranda mengaku kesulitan terbesar‎ datang dalam hal pelatihan. Bukan karena susah mengajarkan namun karena orang yang berminat menenun semakin menurun saja. Ia bercerita jika awalnya ada sekitar 11 orang tetapi saat ini tinggal empat orang.

"Tradisinya sudah hilang, menenun juga bukan pekerjaan mudah. Itu sangat matematis dan sistematis. Kesabaran setiap orang mungkin berbeda," tambahnya.

Untuk itu, Miranda mengajak masyarakat luas untuk ramai-ramai mengapresiasi dan membeli songket. Karena bila pasar terbuka luas otomatis para pengrajin akan semakin menggeliat. Selain mengadakan pelatihan, salah satu upaya‎ pelestarian lain yang dilakukan Studio Tenun Pinankabu adalah dengan mendokumentasikan dan menelusuri motif-motif songket lama. Salah satu motif punah bahkan sudah direvitalisasi, yakni motif Muaro Labah.

(ami/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads