Songket Sumatera
Songket Kontemporer, Ketika Songket Tak Lagi Jadi Kain 'Keramat'
Songket merupakan kain tradisional yang patut dihargai. Bukan hanya karena proses produksinya yang membutuhkan waktu serta keahlian, wastra ini umumnya mengandung sebuah makna bahkan doa melalui motif yang ditampilkan. Hal tersebut membuat songket menjadi produk 'keramat' yang sebaiknya tidak disalahgunakan.
Di industri fashion sendiri, geliat para desainer untuk mengangkat kain tradisional sudah mulai marak. Meski patut diapresiasi, para pegiat songket kadang mengkhawatirkan jika wastra yang sarat makna, terlebih terkait dengan kepercayaan dikemas secara kurang pantas. Misalnya dengan mengemas songket tertentu menjadi busana yang cukup terbuka.
Bagi Anda ingin mengkreasikan kain tradisional secara lebih bebas, songket kontemporer bisa dijadikan alternatifnya. Kontemporer sendiri dapat diartikan penggabungan antara seni tradisional dengan modern atau sesuatu yang lama dikemas dengan bentuk baru. Hal tersebut membuat makna songket jadi tidak terlalu sakral. Seperti songket kontemporer yang dibuat oleh studio tenun Pinankabu. Pelatihan yang bertempat di Nagari Canduang, Kota Laweh, Sumatera Barat itu pernah mengaplikasikan ukiran Jam Gadang ke sebuah songket. Songket seperti itu yang dinamakan songket kontemporer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemindahan sebuah corak di luar motif asli songket ini pun dianggap sebagai sesuatu yang sah-sah saja menurut Miranda. Karena motif Jam Gadang sendiri memang benar-benar ada terlebih memiliki makna yang sarat moral. Corak ukiran bernama Saluak Laka itu melambangkan kekerabatan.
Studio Miranda, Pinankabu, sebenarnya berfokus pada riset dan pengembangan. Awalnya studio tersebut dibangun sebagai aksi kepeduliannya karema Nagari Canduang dahulu pernah menjadi sebuah sentra songket. Bersama sang suami yang berlatar belakang seni, Iswandi, mereka pun membangun Pinankabu pada 2013.
Dalam mengelola studio tersebut Miranda mengaku kesulitan terbesar datang dalam hal pelatihan. Bukan karena susah mengajarkan namun karena orang yang berminat menenun semakin menurun saja. Ia bercerita jika awalnya ada sekitar 11 orang tetapi saat ini tinggal empat orang.
"Tradisinya sudah hilang, menenun juga bukan pekerjaan mudah. Itu sangat matematis dan sistematis. Kesabaran setiap orang mungkin berbeda," tambahnya.
Untuk itu, Miranda mengajak masyarakat luas untuk ramai-ramai mengapresiasi dan membeli songket. Karena bila pasar terbuka luas otomatis para pengrajin akan semakin menggeliat. Selain mengadakan pelatihan, salah satu upaya pelestarian lain yang dilakukan Studio Tenun Pinankabu adalah dengan mendokumentasikan dan menelusuri motif-motif songket lama. Salah satu motif punah bahkan sudah direvitalisasi, yakni motif Muaro Labah.
(ami/eny)
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Hobbies & Activities
Main Badminton Lebih Stabil, Ini Rekomendasi 3 Shuttlecock yang Nyaman Dipakai Latihan Rutin
Hobbies & Activities
American Tourister Argyle Cabin 20 Inch jadi Solusi Ringkas dan Aman untuk Travel Singkat
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Jaket Nicolas Maduro saat Ditangkap Jadi Sorotan, Viral Diburu Netizen
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
5 Tren Sepatu 2026 yang Bakal Booming, Terinspirasi Runway Dunia
Kontroversi Boots Rama Duwaji di Pelantikan Mamdani, Dianggap Terlalu Mewah
7 Foto Mesra Salshabilla Adriani dan Ibrahim Risyad yang Sedang Jadi Sorotan
Gaya Ranty Maria di Pas Foto Nikah, Tampil Natural Nyaris Tanpa Makeup
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Ramalan Shio 2026
Pakar Feng Shui Bongkar Kunci Cuan 2026 Satu Hal Ini Agar Emosi Tetap Stabil











































