Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Denny Wirawan Fashion Show di Belanda, Tampilkan Busana dari Tenun Sumba

wolipop
Kamis, 21 Agu 2014 19:04 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

ist.
Jakarta -

Eksplorasi kain khas Indonesia memang tak ada habisnya. Material yang dahulu dianggap kuno ini kini ditransformasikan sebagai busana ready to wear atau bahkan deluxe. Karya-karya tersebut juga tak jarang diminati oleh pasar internasional.

Baru-baru ini pun Denny Wiryawan dan Tuty Colid sukses memamerkan kebolehan mereka mengemas kain-kain tradisional pada sebuah fashion show di Belanda. Dua desainer yang memang mengedepankan kain khas dalam negeri itu tampil dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI di Deen Haag, Belanda pada Rabu (20/8/2014). Dalam acara yang bertajuk BNI The Pride of the Indonesian Heritage tersebut dihadirkan batik, jumputan, serta tenun Sumba sebagai material utama peragaan.

Pada perhelatan yang diadakan di The Kurzaal, Steigenberger Kurhaus Hotel itu, Denny Wiryawan membawakan 12 kreasi tenun Sumba. Pria yang merintis karir sejak 1992 ini mengaku membutuhkan waktu dua bulan untuk mempersiapkan koleksi. Kain Sumba dikemas menjadi busana dengan konsep ready to wear, deluxe, wearable serta mix & match.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demi menjadikan kain tradisional ini lebih modern, dia menghadirkan kain Sumba dalam bentuk coat atau jaket. Outer itu pun ada yang dikombinasikan dengan sarung sehingga kesan tradisionalnya lebih kental. Menutup peragaan, disuguhkan pula sebuah gaun berhias payet dan bebatuan yang cocok dikenakan sebagai evening gown acara pesta.

"Saya begitu jatuh hati dengan tenun Sumba dan saat ini sedang membina pengrajinnya di sana," ungkap Denny.

Berbeda dengan Denny, perancang Tuty Colid memilih kain tradisional Jawa yakni batik dan jumputan untuk busana ready to wear yang Ia tampilkan. Dua material tersebut dipilih perancang 54 tahun itu karena diyakini lebih masuk dengan pasar Eropa yang menyukai motif simpel. Koleksi yang membutuhkan waktu enam bulan persiapan itu ditampilkan dengan konsep ready to wear.

Sejumlah jumputan tampil anggun dengan warna-warna lembut seperti emas dan kuning muda. Hadir pula warna-warna alam seperti biru laut, hijau tosca, serta merah bata pada cardigan, jaket, dan celana. Payet serta bros juga diterapkan mempercantik busana.

(ami/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads