Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Jakarta Fashion Week 2014

Ferry Soenarto Tampilkan Inspirasi Gaun Malam dalam Siluet Kebaya

Alissa Safiera - wolipop
Jumat, 25 Okt 2013 19:28 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Alissa Safiera/Wolipop
Jakarta - Tren kebaya kini sudah banyak macamnya dan tidak lagi harus berpadu dengan bawahan kain. Itulah yang ditampilkan desainer asal Bandung Ferry Soenarto di panggung mode Jakarta Fashion Week 2014 malam ini, Jumat (25/10/2013) di Fashion Tent, Senayan City, Jakarta Selatan.

Ferry menghadirkan 12 set gaun cocktail dan gaun malam, tapi tetap dengan siluet dasar kebaya. Sang desainer tidak meninggalkan pakem kebaya yang tampil untuk desain kerah, siluet ataupun kancing.

Gaun cocktail mini membuka show tersebut yang tampil dengan warna pastel, seperti kuning dan pink pucat. Bagian atas tampak seperti kebaya tanpa lengan dengan padanan rok pensil yang pas badan. Ferry juga menghadirkan pilihan lain untuk ke pesta, yaitu memadukan atasan bermodel kebaya dengan celana flare. Bagian lengan juga dibuat lebih kekinian dengan potongan 3/4 dan ujung melebar. Payet-payet tetap mengisi baju sang desainer untuk menghadirkan kesan mewah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tetap dari line kebaya tapi dipadukan dengan cocktail atau ready to wear deluxe untuk perempuan yang lebih bermasyarakat dan modern. Koleksi kali ini lebih berenergi dari warna dan cutting," tutur Ferry.

Koleksi gaun malam juga hadir di karya Han Tjien. Gaun-gaun malam bermaterial sheer ia tampilkan dengan cantik. Bahan transparan 'diisi' dengan bordir dan payet berkilauan yang menawan. Siluetnya begitu feminin berkat aplikasi bordir bunga tempel. Warna yang ditampilkan terdiri dari putih, off white dan sedikit campuran ungu.

Salah satunya adalah gaun panjang dengan garis leher V memanjang dari brokat berpayet. Namun bagian bawahnya memakai materail lain seperti organdi yang menampilkan lukisan bunga. Ada pula dress berpotongan A-line warna kelabu dengan rok lebar dari tulle.

Sebelumnya, ada juga karya Andreas Odang di panggung yang sama. Berbeda dengan Ferry dan Hian Tjen yang desainnya tampak glamour, Andreas Odang memilih potongan baju kasual berpalet monokromatik. Awalnya sang desainer hanya menghadirkan paduan warna hitam, abu-abu dan putih. Misalnya atasan crop dengan detail lipatan sebagai aksen, dipadu rok midi berpotongan paha tinggi. Ada pula jumpsuit abu-abu yang penuh detail di bagian dada.

Koleksi pun beralih ke busana penuh corak motif digital printing. Tampil dalam terusan dengan gaya semi formal, seperti gaun siluet H-line dan A-line atau peplum. Motif print tadi disambungkan dengan material palet monokrom polos.

Carmanita juga menjadi desainer yang menampilkan karya di panggung yang sama. Seperti biasa, Carmanita tetap setia dengan teknik batiknya yang dijadikan terusan bervolume, banyak lipatan dan draperi.

"Teknik batik hanya itu saja, tapi motifnya yang selalu berkembang. Saya juga banyak terinspirasi dari motif wave di tenun, ikat, yang dijadikan busana dengan teknik batik," kata Carmanita, sebelum shownya dimulai.

(asf/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads