Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Dituntut Melecehkan Suku di Selandia Baru, Nike Tarik Produk Motif Tato

Alissa Safiera - wolipop
Senin, 19 Agu 2013 13:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Nike
Jakarta - Berbagai item fashion bernuansa etnik, menjadi magnet tersendiri bagi para pecinta mode dunia beberapa tahun terakhir ini. Namun sayangnya, motif-motif tribal yang khas dan banyak beredar, justru dianggap sebagai pelecahan akan kelompok suku tertentu. Salah satu label yang terpaksa menarik produknya karena masalah rasisme budaya adalah Nike.

Label fashion olahraga itu menciptakan busana yang terdiri dari bra sport dan legging dengan motif tato berwarna monokrom. Mungkin motif bergaya etnik ini tampak keren di mata fashion, tapi tidak bagi salah satu suku di New Zealand dan Australia, Suku Samoa. Produk-produk Nike itupun menuai kontroversi dan gugatan dari kelompok Samoa.

Koleksi yang dinamakan 'The Nike Pro Tattoo Tech' itu telah dirilis sekitar sebulan yang lalu, dengan memakai gambar tato untuk pria di suku itu. Menurut berita di ONE News, New Zealand, jadi penghinaan jika gambar itu dipakai menjadi motif busana wanita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebelum kamu merilis sesuatu seperti ini, sebaiknya konsultasikan dulu kepada siapapun pemilik motif itu. Menurutku Nike tidak meluangkan waktu untuk hal itu sama sekali," tutur Su'a William Sio, salah satu anggota parlemen New Zealand kepada ONE News, yang dikutip dari Huffington Post.

Petisi yang dilayangkan oleh Change.org di awal Agustus lalu juga memprotes legging dengan tulisan, "Penghinaan langsung dari masyarakat adat di Pasifik, dan lebih jauh lagi melanggar Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat."

Setelah permohonan naik, disertai 750 tanda tangan, akhirnya Nike menarik legging bermotif tato itu disertai sebuah pernyataan maaf.

"The Nike koleksi Tattoo Tech, terinspirasi oleh grafis tato. Kami meminta maaf kepada siapa pun yang memandang desain ini tidak sensitif terhadap suatu budaya tertentu. Itu tidak dimaksudkan demikian, jangan tersinggung," tulis label itu setelah sekian banyak tuntutan.

Ini bukan kali pertama Nike menarik produk karena dianggap melecehkan suatu kelompok tertentu. Sebelumnya, Nike juga pernah merilis sneakers yang dinamakan 'Black and Tan' di tahun 2012. Nama itu diberikan terinspirasi dari minuman beralokohol, kombinasi dark beer dengan Guinness-bir yang lebih ringan.

Namun ternyata, nama itu memiliki konotasi kelam bagi banyak orang Irlandia. Seperti yang dikutip dari Huffington Post, nama itu adalah nama sebuah unit paramiliter Inggris yang dikirim untuk memadamkan pemberontakan di Irlandia pada tahun 1920 silam. Serangan yang membuat banyak warga sipil tewas. "Nama 'Black and Tan' bagi beberapa kalangan sama saja seperti menamani sepatu kets dengan nama Taliban atau Nazi," tulis LA Times.



(asf/asf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads