Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

JFFF 2013

5 Desainer Indonesia Kreasikan Tenun Jadi Busana ala Tibet Sampai Melayu

Alissa Safiera - wolipop
Kamis, 16 Mei 2013 08:05 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: M. Abduh/Wolipop
Jakarta - JFFF kembali menyuguhkan pagelaran mode dari sederetan desainer ternama Indonesia. Kali ini, lima desainer dibawah naungan Cita Tenun Indonesia (CTI) akan mengangkat budaya Indonesia lewat karya yang diciptakan dari kain tenun seluruh nusantara. Kelima desainer itu adalah Priyo Oktaviano, Denny Wirawan, Sebastian Gunawan, Ari Seputra dan Didi Budiardjo.

Sebagai pembuka rangkaian acara parade bertajuk "The Glorious Handwoven of Indonesia", Sebastian Gunawan memamerkan koleksi gaun cantik dari tenun khas Garut. Padu padan warna pastel yang lembut seperti hijau, gold dan burgundy diberi sentuhan lace, brokat dan organza, memberi kesan feminin pada gaun-gaun rancangannya. Seperti biasa, Seba menampilkan busana dengan siluet yang elegan, serta detail draperi untuk memberi sentuhan modern.

Pagelaran dilanjutkan oleh karya Ari Seputra, dengan koleksi yang terinspirasi dari lipatan origami. Kain tenun songket dari Lombok itu dipadukan dengan gaya punk dengan aksen stud dan kulit. Dengan warna dasar hitam namun ditambah variasi jaket dari kain songket yang berwarna-warni menambah kesan etnik dalam karyanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, koleksi bergaya etnik dari label Spous by Priyo Oktaviano terbilang lebih edgy. Koleksi ini menggunakan tenun endek dari Bali dengan motif yang geometris. Priyo menghadirkan 6 busana wanita dan 3 busana pria. Kesan misterius hadir lewat paduan jaket dan celana panjang yang didominasi hitam dengan sedikit sentuhan abu-abu. Ada pula gaun maxi hitam dari kain tenun yang sama namun diberi taburan payet memberi kesan mewah dan elegan.

Koleksi unik lainnya dihadirkan oleh Denny Wirawan yang terinspirasi dari busana bangsa Tibet di pegunungan Himalaya. Denny berhasil mengangkat tema itu dengan bantuan dari kain tenun Buton dan Sobi Tolaki dengan nuansa warna cerah dari Sulawesi Tenggara. Dengan label Balijava yang etnik, Denny memamerkan delapan set busana yang terdiri dari variasi jaket panjang dan juga pendek yang dihiasi bordir bunga dari motif tenun Sulawesi Tenggara. Dipadukan dengan rok pensil atau lipit. Beberapa busananya juga dilengkapi ornamen bulu sintetis yang tampak mewah.

Terakhir, peragaan busana ditutup oleh karya Didi Budiardjo. Ia menampilkan koleksi yang menggunakan kain lunggi dari daerah Sambas. Sembilan baju yang dipamerkan, terbagi dalam 3 konsep. Yaitu bergaya tionghoa dengan siluet baju kurung yang panjang dan lurus. Konsep kedua adalah tribal dengan dress pendek bersiluet yang tampak seksi namun juga edgy. Dan terakhir gaun-gaun cantik bergaya melayu dari bahan melambai seperti syifon dengan sentuhan motif kain lunggi di beberapa bagian gaun.

"Saya mengetengahkan kain lunggi dari Sambas. Memang ini songket juga, tapi hanya ada di Sambas jadi harus kita kembangkan. Ini adalah salah satu PR saya dari CTI," ungkap Didi sebelum show di ballroom Hotel Harris Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (15/05/2013).

(asf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads