Curhat Ibu Remaja Pelaku Penembakan SD di Texas: Anakku Bukan Monster

Rahmi Anjani - wolipop Minggu, 29 Mei 2022 18:00 WIB
Adriana Reyes Foto: ABC News
Jakarta -

Ibu dari pelaku penembakan SD Rodd di Texas buka suara mengenai anaknya. Adriana Reyes mengaku bahwa anaknya, Salvador, tidak seburuk yang orang pikirkan. Ibu dari remaja yang menewaskan 19 anak dan dua guru tersebut memang tidak menduga jika anaknya bisa melakukan perbuatan sekeji itu ia juga merasa bahwa Salvador bukan seorang monster.

"Aku tidak bisa berkata-kata. Aku tidak punya kata-kata untuk disampaikan. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan," kataya. "Dia punya alasan untuk melakukan apa yang dia lakukan dan tolong jangan hakimi dia," lanjut Adriana dilansir Daily Mail.

Wanita tersebut juga meminta publik dan para korban untuk memaafkan anaknya. "Aku hanya ingin anak-anak tidak bersalah yang meninggal memaafkannya. Tolong maafkan aku, maafkan anakku. Aku tahu dia punya alasan," tutur Adriana.

"Anakku bukan orang yang kasar, aku terkejut dengan apa yang dilakukannya. Aku berdoa untuk keluarga mereka, aku berdoa untuk anak-anak yang tidak bersalah, iya aku berdoa untuk mereka. Mereka tidak ada hubungannya dengan ini," tambahnya.

Adriana ReyesAdriana Reyes Foto: Dok. CNN

Menurut Adriana, anaknya bukan monster tapi ia memang bisa jadi agresif. "Aku kadang punya perasaan tidak berpikir 'Apa yang sedang kamu lakukan?' Dia bisa jadi agresif jika dia sangat marah," katanya kepada ABC News.

Berbagai laporan sebelumnya menyebut jika hubungan Salvador dan ibunya tidak terlalu baik. Hal itu dibantah oleh Adriana meski memang remaja 18 tahun itu tinggal dengan neneknya yang menjadi korban pertama Salvador. "Aku punya hubungan yang baik dengannya tapi dia lebih banyak menyimpan, dia tidak punya banyak teman,"

Ketika ditanya apa alasan Salvador menargetkan anak-anak, ia merasa itu karena putranya ingin dekat dengan mereka. "Kita semua punya kemarahan, beberapa orang punya lebih dari yang lain," katanya.

Menurut teman sekelasnya, Salvador Ramos dikenal suka bertengkar dan mengancam sesama murid selama dua tahun terakhir. Tapi beberapa mengatakan juga bertestimoni bahwa ia adalah korban penindasan di sekolah karena status ekonomi yang kurang mampu. Seorang teman mengaku Salvador pernah diintimidasi karena pakaiannya. Hal itu sempat membuatnya tidak mau sekolah.

(ami/ami)