Saat Suami Paksa Istri Anal Seks, Ini yang Harus Dilakukan Menurut Psikolog

Gresnia Arela Febriani - wolipop Selasa, 14 Sep 2021 08:50 WIB
Ayah Taqy Malik, Mansyardin Malik Foto Taqy Malik dan Mansyardin. Foto: dok. Instagram Ayah Taqy Malik.
Jakarta -

Marlina Octoria Kawuwung menjadi sorotan publik dengan pengakuan mengalami cedera karena perlakuan penyimpangan seks yang menurutnya dilakukan suaminya, ayah Taqy Malik, Mannsyardin Malik.

Marlina Octoria mengaku syok sebab ia baru mengetahui penyimpangan yang dialami oleh Mansyardin Malik di minggu kedua pernikahan sirinya. Ketika itu, Marlina Octoria sedang datang bulan, dan menurutnya sang suami meminta berhubungan secara anal seks.

"Saya sudah bilang saya nggak mau, dia bilang nggak apa-apa kok. Katanya di agama, ulama sebagian menghalalkan dan mengharamkan, tapi dia memaksakan itu ke saya," kata Marlina Octoria saat menggelar jumpa pers di kawasan Senopati, Jakarta Selatan.

Gara-gara perilaku itu, Marlina mengalami cedera parah. Marlina mengklaim mengalami cedera karena seks menyimpang.

Mansyardin sendiri melalui pengacaranya, Halim Darmawan sudah membantah tudingan tersebut. Menurutnya, ayah Taqy Malik itu mengaku tidak melakukan penyimpangan seks kepada Marlina Octaria Kawuwung.

"Ya hidup normal-normal saja, kemudian dia juga tokoh agama ya, dan dia juga nikahnya secara agama juga kan. Sehingga mungkin percekcokan berkelanjutan, ya biasalah manusia kan kalau tidak ada yang meredam, menyadari, akhirnya berperang kan," kata Halim Darmawan melalui sambungan telepon kepada detikcom, Senin (13/9/2021).

Saat Suami Meminta Anal Seks, Bagaimana Istri Bersikap?

Menanggapi kasus tersebut, Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi mengatakan banyak kasus seperti pengakuan Marlina terjadi di masyarakat, hanya saja tidak terekspos. Dan pada akhirnya wanita menganggap ini bagian dari yang harus ia terima sebagai istri.

"Jadi bukan hal yang baru sebenarnya, apalagi dalam masyarakat kita dianggap tabu untuk mengangkat permasalahan "ruang tidur" menjadi konsumsi umum karena ada rasa malu dan tidak siap dengan komentar netizen," ungkap Mei kepada Wolipop, Senin (13/9/2021).

Lalu apa saja yang harus dilakukan istri saat suami mengajak berhubungan lewat anal, padahal istri sedang datang bulan? Mei menyarankan untuk memberikan pehamaman pada para suami.

"Berikan pemahaman ke suami bahwa itu tidak dibenarkan (jika berdasarkan agama Islam). Dan secara umum wanita biasanya tidak menyukai cara seperti itu karena di anggap tidak nyaman. Walau mungkin ada sebagian wanita yang tidak masalah dan mau saja ya, namun saya membahas secara umum," tuturnya.

Jika wanita sedang haid, sebenarnya banyak cara untuk berhubungan seks selain dilakukan dengan cara anal. "Saya tidak yakin jika pasangan suami istri tak bisa memodifikasi cara lain dan menggunakan alternatif lain untuk saling memuaskan. Sehingga menggunakan anal bisa dihindari," ujar Mei.

Anal seks sendiri tidak selalu menjadi perbuatan yang dianggap kekerasan seksual. Aktivitas tersebut termasuk kategori kekerasan jika dilakukan tanpa persetujuan kedua belah pihak.

"Jadi kata kuncinya adalah tidak memaksa, persetujuan kedua belah pihak, tidak saling menyakiti," jelas Mei.

Psikolog yang juga dosen di Universitas Gunadarma itu menambahkan anal seks juga tidak bisa dipukul rata sebagai perilaku menyimpang. Sebab ada beberapa pasangan yang memang menyukai gaya atau cara bercinta seperti itu.

"Dan selama kedua belah pihak setuju dan menganggap ini sebagai hal yang normal maka normal bagi pasangan itu. Namun jika dalam agama (Islam) ini tidak dibenarkan (karena semua sudah ada tempatnya)," jelas Mei.

Pada dasarnya perilaku seksual pasangan suami istri dikategorikan menyimpang atau tidak tergantung dari nilai-nilai yang dianut masing-masing individunya.

"Sejauh mana pemahaman orang tersebut terhadap perilaku seksual. Karena masing-masing pasangan akan berbeda. Jika menggunakan dasar agama tentu sudah jelas mana yang boleh dan tidak," lanjutnya.

Jika memang istri merasa dipaksa untuk melakukan aktivitas anal seks, tindakan tersebut bisa dilaporkan kepada yang berwenang. Salah satunya ke Komnas Perempuan untuk mendapatkan perlindungan.

"Pertanyaannya adalah apakah perilaku ini kerap dilakukan? Sehingga istri sudah tidak punya cara lain selain melaporkan suaminya? Karena biasanya masalah rumah tangga apalagi urusan "kamar tidur" jika sudah ke ranah hukum atau menjadi konsumsi publik maka akan melebar ke mana-mana," ujar Mei.

"Sehingga perlu kebijaksanaan dalam hal ini. Namun jika istri sudah melakukan berbagai usaha untuk berkomunikasi dengan suami, kemudian sudah meminta pihak keluarga untuk menengahi dan mungkin meminta bantuan profesional," terangnya.

Bantuan profesional untuk menjadi penengah itu menurut Mei, bisa melalui pemuka agama atau psikolog. Jika tidak ada perbaikan dan merasa sudah tidak ada jalan keluar, maka untuk memberikan efek jera melapor ke kepolisian atau Komnas Perempuan bisa menjadi alternatif terakhir yang dilakukan.

(gaf/eny)