7 Fakta Pegulat MMA Berdarah Indonesia yang Jadi Korban Cyberbullying

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 01 Apr 2021 19:00 WIB
Hana Kimura Foto: Twitter @hanadayo0903
Jakarta -

Setahun setelah kepergian Hana Kimura, seorang pria yang pernah mengiriminya komentar jahat diadili. Namun hukuman yang dijatuhkan padanya dianggap terlalu ringan. Pria berusia 20 tahunan itu dilaporkan hanya dituntut membayar denda senilai Rp 1 jutaan. Hal ini pun mendapat perhatian dari publik yang kesal dengan ringannya hukuman tersebut. Simak fakta-fakta Hana Kimura yang meninggal karena bunuh diri setelah jadi korban cyberbullying.

Petarung MMA


Hana Kimura adalah pegulat asal Jepang yang meninggal Mei tahun lalu. Ia dikabarkan mengakhiri hidupnya karena serangan komentar negatif di media sosial. Sebagai pegulat, karier Hana dalam dunia wrestling sendiri bisa dibilang cukup baik. Ia memenangkan Stardom Fighting Spirit Award di 2019 dan masuk dalam Top 50 PWI (Pro Wrestling Illustrated) Female 100 pada 2018. Sayangnya Hana mendapat banyak komentar negatif sebelum menghembuskan napas terakhir.

Hana KimuraHana Kimura Foto: Twitter @hanadayo0903

Keturunan Indonesia


Banyak kabar beredar bahwa Hana Kimura keturunan Indonesia. Hal itu sendiri tidak pernah diungkap oleh Hana. Namun diketahui jika ibunya Kyoko Kimura sempat menikah dengan pria Indonesia lalu bercerai. Seorang teman dekat Kyoko, Kris Wolf, pernah mengonfirmasi secara singkat di siaran di Twitter bahwa Hana Kimura berdarah Indonesia.

Bintang Reality Show Netflix


Selain sebagai pegulat atau petarung MMA, Hana Kimura dikenal publik sebagai bintang reality show Terrace House selama 2019-2020. Acara yang tayang di Netflix tersebut menampilkan tiga pasang pria dan wanita yang tinggal bersama di sebuah rumah.

Meneruskan Profesi Ibu


Hana Kimura pernah mengaku ia sempat bercita-cita jadi penari. Namun ibunya yang juga merupakan pegulat menyarankannya untuk terjun ke bidang yang sama. Diketahui bahwa kedua orangtua Hana merupakan atlet profesional di Jepang.

Pegulat cantik dari Jepang.Pegulat cantik dari Jepang. Foto: Instagram

Posting Mengkhawatirkan


Sebelum ditemukan tidak bernyawa, kondisi Hana Kimura sudah mengkhawatirkan banyak orang. Ketika itu, ia kerap mengunggah sejumlah tulisan dan foto bernada depresif di Twitter. Ia bahkan pernah menampilkan pergelangan tangan yang tersayat. Saat itu, Hana merasa banyak orang membencinya.

"Hampir 100 opini blak-blakan setiap hari. Aku tidak bisa mengelak bahwa aku terluka. Aku mati. Terima kasih sudah memberikanku seorang ibu. Itu adalah kehidupan di mana aku ingin dicintai. Terima kasih untuk semua orang yang mendukungku. Aku menyukainya.

"Aku lemah, aku minta maaf. Aku tidak ingin jadi manusia lagi. Itu adalah kehidupan di mana aku ingin dicintai. Terima kasih semuanya. Aku mencintai kalian. Sampai jumpa," tulisnya.

Meninggal Karena Bunuh Diri


Hana Kimura pergi di usia yang masih sangat muda yakni 22 tahun. Kabar tersebut dikonfirmasi oleh manajemennya namun tidak diberitahukan penyebab sebenarnya. Banyak media memberitakan jika wanita tersebut mengakhiri hidupnya karena cyberbullying.

"Fans Stardom, kami sangat menyesal memberi tahu bahwa Hana Kimura kita telah meninggal. Tolong hormati dan biarkan waktu untuk memproses semua ini dan sematkan pikiran dan doa untuk keluarga dan teman-temannya. Kami mengapresiasi dukungan kalian selama masa sulit ini," tulis Stardom di Twitter.

Pegulat cantik dari Jepang.Pegulat cantik dari Jepang. Foto: Instagram

Pembully Didenda Rp 1 Jutaan


Salah satu komentar paling parah dikirim oleh seorang pria berusia 20 tahunan. Menuliskan 'kapan kamu mati', akhir tahun lalu ia diinvestigasi polisi dan baru saja dijatuhi hukuman. Tapi sayangnya hukuman tersebut malah membuat publik marah karena hanya diminta membayar denda 9.000 yen atau sekitar Rp 1,2 jutaan.

"Tersangka mengunggah pesan-pesan di media sosial korban, termasuk 'Kamu punya kepribadian yang jelek. Apakah kamu pantas hidup? Ya, ya, Kapan kamu mati,'" ungkap perwakilan kantor jaksa Tokyo.

Hal tersebut membuat sejumlah netizen mengungkapkan kemarahan mereka di media sosial. "Jika dia bisa lolos dengan 9.000 yen, aku khawatir dengan angka cyberbullying akan meningkat," "Ini sangat salah. Ini bukanlah keadilan," tulis netizen di Twitter.

(sra/ami)