Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Kisah Haru Ibu Baru Berani Masuk Kamar Anak yang Meninggal 19 Tahun Lalu

Vina Oktiani - wolipop
Senin, 29 Jun 2020 13:32 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Yuki Tsukamoto saat membersihkan kamar almarhum anaknya
Yuki Tsukamoto / Foto: Asahi Shimbun
Jakarta -

Pandemi Corona telah membuat kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk isolasi diri. Hal itu yang kemudian membuat seorang ibu asal Jepang, Yuki Tsukamoto akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri masuk dan membersihkan kamar putrinya yang telah meninggal sekitar 19 tahun lalu.

Seperti dikutip dari Asahi Shimbun, Yuki Tsukamoto yang tinggal di Takarazuka, Prefektur Hyogo, sebelumnya terlalu takut untuk memasuki ruangan kamar almarhum putrinya yang berada di lantai dua rumahnya. Putri sulungnya itu merupakan salah satu dari delapan korban yang terbunuh dalam serangan di Sekolah Dasar Ikeda di Ikeda, Prefektur Osaka.

Tragedi mengenaskan itu terjadi pada 8 Juni 2001, di mana seorang pria tiba-tiba saja memasuki sekolah dengan membawa pisau dan menikam siapapun yang ada di hadapannya. Seorang anak laki-laki dan tujuh anak perempuan meninggal akibat kejadian itu. Selain itu, 15 siswa dan guru juga terluka. Pada tahun 2004, pelaku penikaman tersebut lalu dieksekusi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kejadian mengerikan itu yang kemudian meninggalkan perasaan trauma yang sangat mendalam bagi Yuki Tsukamoto. Namun dengan berjalannya waktu, Tsukamoto berusaha menguatkan dirinya sampai akhirnya dia berani untuk membersihkan kamar yang berisi peninggalan almarhum anaknya, Kana Tsukamoto.

Ketika melihat buku-buku, pakaian, gambar, dan mainan yang telah usang di ruangan tersebut, kenangan tentang putri kecilnya yang meninggal saat usia 7 tahun itu pun mulai kembali hadir. Terutama ketika Tsukamoto menemukan untaian rambut di ikat rambut Kana, dirinya pun tak sanggup menahan air matanya.

ADVERTISEMENT
KanaKana Tsukamoto Foto: Asahi Shimbun

Tsukamoto sendiri bekerja sebagai pengasuh di pusat penitipan anak. Semenjak pandemi, tempat kerjanya tersebut menjadi sepi, sehingga dia banyak menghabiskan waktunya di rumah. Untuk mengisi waktu luangnya, Tsukamoto telah membersihkan rumah orangtuanya yang berada di dekat rumahnya. Namun kemudian dia berpikir untuk membersihkan barang-barang peninggalan almarhum anaknya.

Sebenarnya alasan Tsukamoto pada akhirnya memilih untuk membersihkan kamar almarhum anaknya itu karena dirinya berpikir, jika dia meninggal karena COVID-19, dia tidak ingin ada orang lain yang menyentuh barang-barang Kana nantinya. Jadi, dia memutuskan untuk mengurusnya sendiri.

Saat ini Tsukamoto sendiri masih bingung dan memerlukan waktu untuk memikirkan apakah barang-barang Kana itu nantinya akan dia buang atau tidak, mengingat hal itu bukanlah keputusan yang mudah baginya. Dia akan kembali berusaha untuk memutuskan jika sudah siap dan benar-benar berani menghadapinya.

"Ini adalah proses langkah demi langkah. Aku akan mencoba lagi ketika aku memiliki keberanian untuk membuat keputusan," kata wanita 53 tahun itu.

Walaupun demikian, Tsukamoto sendiri mengaku akan tetap menyimpan piyama terakhir yang dikenakan oleh Kana sebelum terbunuh. Demikian juga dengan meja belajar dan kursi milik Kana, karena benda-benda tersebut akan digunakan untuk anak laki-laki tertuanya.

(vio/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads