Remaja yang Rekam Pembunuhan George Floyd oleh Polisi Trauma karena Di-bully

Hestianingsih - wolipop Selasa, 02 Jun 2020 10:58 WIB
Aksi protes atas kematian George Floyd meluas hampir di seluruh Amerika Serikat. Begini potret demo memprotes pembunuhan Floyd oleh polisi diberbagai tempat. Aksi protes kematian George Floyd di tangan polisi Minneapolis yang memicu kemarahan warga Amerika Serikat. Foto: AP Photo
Jakarta -

Darnella Frazier adalah orang di balik perekaman video ketika polisi Minnesota menindih leher George Floyd dengan lututnya hingga berakibat ia meninggal dunia. Video berdurasi 10 menit yang viral itu menjadi bukti kekerasan polisi terhadap warga kulit hitam dan kini memicu aksi protes di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Belakangan, remaja 17 tahun itu mengungkap bahwa dirinya harus menghadapi perundungan akibat video yang diunggahnya tersebut. Alih-alih dipuji karena berhasil merekam kejadian mengerikan tersebut dan menyediakan bukti kepada polisi, Darnella justru mendapat kekerasan verbal yang datang lewat pesan teks di media sosial.

Ia mencurahkan isi hatinya di lama Facebook dan menyatakan mendapat banyak pertanyaan dari netizen. Sebagian besar mengritik kenapa saat itu dia tidak membantu George Floyd dan lebih memilih merekam peristiwa tersebut.


Darnella mengungkapkan dia terlalu takut melawan empat polisi tersebut atau membantu George Floyd saat lehernya ditekan dengan lutut. Dia juga tidak ingin terlibat lebih jauh karena tidak ingin ada orang lain yang juga terbunuh atau diperlakukan seperti George.

"Aku tidak mengharapkan orang-orang yang saat itu tidak berada di posisiku untuk memahami kenapa dan bagaimana yang aku rasakan," tulisnya.

Dia juga menyatakan, merekam video adalah usaha terbaik yang bisa dia lakukan. Jika bukan karena rekaman tersebut, empat polisi yang melakukan kekerasan terhadap George Floyd sampai meninggal mungkin akan masih bebas berkeliaran.


"Kalau bukan karena aku empat polisi itu masih punya pekerjaan, membuat masalah yang lain. Para polisi itu kemungkinan besar akan menutupi perbuatannya. Daripada mencemooh, BERTERIMA KASIHLAH padaku! Karena bisa saja itu terjadi pada orang-orang yang kamu sayangi dan kamu pasti juga ingin melihat kebenarannya. Siapapun yang ingin mengatakan hal-hal negatif tolong block aku saja. Aku tidak memaksa kalian untuk menontonku," tulis Darnella lagi.

Remaja wanita itu mengungkapkan bahwa peristiwa naas tersebut dilihatnya saat dia mengantar sepupunya ke toko. Lalu dia melihat seorang pria kulit hitam menelungkup di jalan dengan seorang polisi menindih lehernya dengan lutut. Saat itulah dia memutuskan merekamnya.

Akibat bully-an yang diterima Darnella, sejumlah biro hukum meminta perlindungan hukum untuknya. Sebab dia masih dianggap sebagai anak di bawah umur dan menjadi saksi hidup pembunuhan brutal yang dilakukan polisi tersebut.



Simak Video "Tips Potong Rambut Anak Tanpa Rewel"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)