Viral Youtuber Ferdian Paleka Bikin Video Prank, Ini Alasan Orang Suka Prank

Vina Oktiani - wolipop Senin, 04 Mei 2020 12:22 WIB
Siapa YouTuber yang kasih makanan sampah ke waria? YouTuber Ferdian Paleka dihujat karena bikin video prank berikan sampah pada waria. Foto: Instagram
Jakarta -

Youtuber Ferdian Paleka menjadi sorotan karena aksi pranknya yang tidak terpuji kepada para waria di Bandung. Dia membuat prank dengan modus membagi-bagikan sembako kepada waria, namun sembako tersebut diisi dengan batu bata dan sampah.

Sebenarnya itu bukanlah video prank pertama Ferdian Paleka. Sebelumnya dia sudah sering membuat video prank dan mengunggahnya di Youtube. Tidak hanya Ferdian, Youtuber lain pun senang membuat konten video prank yang ternyata banyak diminati oleh para warganet. Kenapa video prank banyak ditonton dan disukai oleh orang-orang?

Seperti dikutip dari Live Science, prank bahkan memiliki harinya sendiri, yaitu tanggal 1 April dimana kamu bisa menyebutkan kebohongan atau hoax lalu mengatakan 'April Mop'. Sebenarnya apa yang lucu dari membohongi orang lain dengan prank?



Saat ini memang belum ada penelitian menyeluruh mengenai prank. Walaupun demikian, beberapa peneliti telah menemukan bahwa dalam prank, orang akan merasa ditipu oleh pengalaman yang sangat bertentangan. Humor berbasis lelucon dalam prank bisa kejam atau baik hati, dicintai atau dibenci.

Menurut Cynthia Gendrich, seorang profesor akting dan sutradara di Wake Forest University yang mengajarkan seminar tentang mengapa orang tertawa, prank adalah salah satu hal yang menggabungkan sejumlah teori dan berpotensi menimbulkan tawa. Superioritas, kejutan, kelegaan dan ketegangan semuanya memainkan perannya dalam sebuah prank.

Prank seperti menggoda dan mengerjai dalam batas tertentu sebenarnya dapat berfungsi sebagai perekat sosial. Menurut sosiolog Harold Garfinkel dari UCLA, upacara degradasi atau bentuk perpeloncoan dapat berfungsi untuk mengikat sebuah kelompok. Misalnya tentara yang melalui pelatihan bersama. Dalam upacara perpeloncoan, selama prank-prank yang diberikan tidak terlalu berbahaya, hal itu dapat berfungsi untuk menandai seseorang sebagai bagian dari kelompok.

Namun berbeda dengan April Mop. Menurut sosiolog Jonathan Wynn yang menulis di blog Everyday Sociology pada 2013, April Mop justru mengacaukan hierarki tersebut karena memberi kesempatan bagi semua orang untuk melakukan prank.



"Ada teori keseluruhan yang mengatakan bahwa sebagian besar tawa sosial kita berkaitan dengan mengeluarkan energi ekstra," kata Cynthia Gendrich.

Membuat prank akan menimbulkan ketegangan dan setelahnya orang akan melepaskan ketegangan itu. Bahkan terkadang menurut Gendrich, hanya membayangkan prank dan reaksi orang yang terkena prank tersebut saja sudah cukup membuat seseorang tertawa.

Humor berbasis lelucon umumnya didasarkan pada kejutan. Saat seseorang melihat reaksi terkejut dari orang lain ketika mendapatkan prank, seperti berteriak atau melompat. Namun kebanyakan orang akan berhenti tertawa jika prank tersebut berubah menjadi berbahaya atau malah kelewat batas seperti yang dilakukan Ferdian Paleka. Sebagian humor dari prank mungkin juga berasal dari rasa superioritas setelah membuat orang lain terlihat bodoh.

Menurut penelitian pada 2007 dalam jurnal Review of General Psychology, sebenarnya orang tidak suka ketika mendapati dirinya ditipu. Orang-orang yang ditipu biasanya akan menyalahkan dirinya sendiri dan berharap mereka bisa mengubah dan memainkan peran itu secara berbeda pada saat mereka tertipu. Hal itu menunjukkan bahwa Sugrophobia atau ketakutan ditipu akan memotivasi perilaku orang lain. Orang-orang tersebut tidak akan mempercayai orang lain dengan mudah lagi.





Simak Video "Konten Kontroversial Makin Menjamur, Ini Kata Psikolog"
[Gambas:Video 20detik]
(vio/eny)