Yang Harus Diperhatikan Milenial Saat Mulai Kecanduan TikTok
Gresnia Arela Febriani - wolipop
Senin, 20 Jan 2020 18:15 WIB
Jakarta
-
Generasi milenial tentu sudah tidak asing dengan aplikasi TikTok. Dimanapun dan kapanpun bisa dengan mudah membuat video yang berdurasi 15-60 detik ini. Begitu mudahnya sampai ada yang tiada hari tanpa TikTok. Bagaimana jika jadi kecanduan?
Menurut psikolog Ratih zulhaqqi, MPsi ada manfaat positif dan efek negatif dari penggunaan aplikasi asal China tersebut. Manfaatnya adalah TikTok yang memiliki banyak fitur bisa membuat penggunanya lebih berekspresi.
"Jadi bisa mengembangkan minat dan bakat anak," ujar Ratih saat berbincang dengan Wolipop baru-baru ini.
Sementara efek negatifnya, TikTok bisa mengundang tindak kriminal karena siapapun bisa dengan leluasa mengakses video yang diunggah. Oleh karena itulah dia meminta para pengguna TikTok terutama yang masih di bawah umur harus leboh waspada.
"Yang dikhawatirkan jika masih anak di bawah umur atau under age, ada predator yang memanfaatkan situasi, jadi be careful sih," kata Ratih.
Selain itu, TikTok sudah menjadi candu atau membuat ketergantungan, pengguna aplikasi tersebut harus mewaspadai munculnya penyakit mental Histrionic Personality Disorder. Histrionic Personality Disorder (HPD) didefinisikan oleh American Psychiatric Association (APA) sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola emosi berlebihan dalam mencari perhatian yang tidak tepat. Orang yang didiagnosis dengan gangguan ini cenderung dramatis atau berlebihan, lincah, antusias dan genit. HPD didiagnosis empat kali lebih banyak pada wanita dibanding pria.
Orang dengan HPD biasanya biasanya memiliki keterampilan sosial yang baik. Meskipun cenderung melakukan sesuatu untuk memanipulasi orang lain agar membuat orang yang memiliki HPD menjadi pusat perhatian. HPD juga dapat mempengaruhi hubungan sosial.
Akan tetapi, menurut Ratih Zulhaq, penyakit mental tersebut tidak secara langsung berhubungan dengan bermain TikTok. "Karena histrionic sendiri itu kita harus melakukan pemeriksaan, terus ada faktor pencetusnya, ada faktor penyebabnya. Nggak bisa disebut karena gara-gara main TikTok dia terkena histrionic personality disorder," kata psikolog anak lulusan Magister Profesi Klinis Anak Universitas Indonesia itu.
Ratih menambahkan, perlu ada penelitian dan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah seseorang mengalami penyakit mental tersebut. "Perlu ada pemeriksaan lebih lanjut dan biasanya faktornya banyak yang mempunyai gangguan personality atau tidak. Nggak cuman gara-gara TikTok," pungkasnya.
(gaf/eny)
Menurut psikolog Ratih zulhaqqi, MPsi ada manfaat positif dan efek negatif dari penggunaan aplikasi asal China tersebut. Manfaatnya adalah TikTok yang memiliki banyak fitur bisa membuat penggunanya lebih berekspresi.
"Jadi bisa mengembangkan minat dan bakat anak," ujar Ratih saat berbincang dengan Wolipop baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilustrasi anak-anak yang bermain TikTok. Foto: iStock |
"Yang dikhawatirkan jika masih anak di bawah umur atau under age, ada predator yang memanfaatkan situasi, jadi be careful sih," kata Ratih.
Selain itu, TikTok sudah menjadi candu atau membuat ketergantungan, pengguna aplikasi tersebut harus mewaspadai munculnya penyakit mental Histrionic Personality Disorder. Histrionic Personality Disorder (HPD) didefinisikan oleh American Psychiatric Association (APA) sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola emosi berlebihan dalam mencari perhatian yang tidak tepat. Orang yang didiagnosis dengan gangguan ini cenderung dramatis atau berlebihan, lincah, antusias dan genit. HPD didiagnosis empat kali lebih banyak pada wanita dibanding pria.
Orang dengan HPD biasanya biasanya memiliki keterampilan sosial yang baik. Meskipun cenderung melakukan sesuatu untuk memanipulasi orang lain agar membuat orang yang memiliki HPD menjadi pusat perhatian. HPD juga dapat mempengaruhi hubungan sosial.
Akan tetapi, menurut Ratih Zulhaq, penyakit mental tersebut tidak secara langsung berhubungan dengan bermain TikTok. "Karena histrionic sendiri itu kita harus melakukan pemeriksaan, terus ada faktor pencetusnya, ada faktor penyebabnya. Nggak bisa disebut karena gara-gara main TikTok dia terkena histrionic personality disorder," kata psikolog anak lulusan Magister Profesi Klinis Anak Universitas Indonesia itu.
Ratih menambahkan, perlu ada penelitian dan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah seseorang mengalami penyakit mental tersebut. "Perlu ada pemeriksaan lebih lanjut dan biasanya faktornya banyak yang mempunyai gangguan personality atau tidak. Nggak cuman gara-gara TikTok," pungkasnya.
Foto: iStock |
Tags
tiktok
aplikasi tiktok
aplikasi tiktok menurut psikolog
dampak tiktok
milenial
generasi z
hitronic personality disorder
Fashion
Ingin Tampil Feminin dan Lebih Stylish dengan Bawahan Rok? Cek Koleksi Menariknya di Sini!
Fashion
Pilihan Aksesori Simpel yang Bikin Gaya Kamu Terlihat Lebih Keren
Fashion
Cari Dompet Kulit Awet Biar Bisa Dipakai Lama? Produk dari ROUNN Ini Bisa Jadi Jawabannya
Health & Beauty
Dua Serum PDRN Favorit Banyak Orang, Fokus Regenerasi dan Hidrasi Kulit!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Sinopsis Midnight in the Switchgrass di Bioskop Trans TV, Dibintangi Megan Fox
Sophie Turner Ungkap Tak Sempat Kencan Usai Rumor Pacaran dengan Chris Martin
Shin Min Ah Jadi Wajah Baru Louis Vuitton, Susul Gong Yoo & Jun Ji Hyun
Ditangkap Bersama, Kisah Pacaran 20 Tahun Presiden Venezuela & Istri Disorot
Sinopsis Spring Fever, Drakor Romcom Terbaru, Ahn Bo Hyun Jadi Pemuda Desa
Most Popular
1
7 Foto Giorgino Abraham-Yasmin Napper, 4 Tahun Pacaran Beda Agama Kini Putus
2
Ramalan Zodiak Taurus 2026: Perlahan Bangkit, Perubahan Besar Menanti
3
Ditangkap Bersama, Kisah Pacaran 20 Tahun Presiden Venezuela & Istri Disorot
4
Sophie Turner Ungkap Tak Sempat Kencan Usai Rumor Pacaran dengan Chris Martin
5
Shin Min Ah Jadi Wajah Baru Louis Vuitton, Susul Gong Yoo & Jun Ji Hyun
MOST COMMENTED













































