Miss Grand Malaysia Ulang Kontroversi 2017, Dulu Kuda Lumping Kini Batik

Eny Kartikawati - wolipop Senin, 15 Okt 2018 15:04 WIB
Miss Grand Malaysia 2018 Debra Jeanne Poh memakai atasan batik parang. Foto: dok. Instagram (@debrajeanna.poh) Miss Grand Malaysia 2018 Debra Jeanne Poh memakai atasan batik parang. Foto: dok. Instagram (@debrajeanna.poh)

Jakarta - Bukan hanya kali ini saja finalis Miss Grand International Malaysia membuat heboh netizen Indonesia dengan memakai batik. Pada 2017, juga terjadi kehebohan serupa karena kuda lumping.

Pada 2017, finalis Miss Grand International dari Malaysia yaitu Sanjeda John, memakai kostum kuda lumping. Kostum tersebut dipakainya untuk berkompetisi di sesi kostum busana nasional Miss Grand International 2017.

Pada foto yang viral itu, Sanjeda tampak memakai atasan cokelat dengan bagian perut terbuka. Dia juga memakai boots setinggi lutut. Penampilan seksinya ini ditutupinya dengan kuda lumping berukuran besar yang dipegangnya di depan perutnya.

Netizen Indonesia pun ramai mengomentari gaya Sanjeda yang memakai kuda lumping dan diklaim sebagai kostum nasional dari Malaysia. "gk punya jati diri apa y??? kok bs2nya dgn bangga mempublish budaya org utk dijadikan tema dlm ajang internasional pulak lg hadeeeh ckckckck miris," tulis seorang netizen di Instagram. "Laaah kudang lumping kan dari jawa, mang di malaysia ada..? Plagiat banget sampe budaya indonesia di curi seperti itu," tulis netizen lainnya.

Baca Juga: Heboh Miss Grand International Malaysia Jadi Kuda Lumping, Ini Penjelasannya


View this post on Instagram

The "Kuda Warisan" National Costume Inspired by the Javanese community residing in the southern state of Johor, Malaysia. In the early 20th century, the migration of Javanese community from Indonesia through the Dutch and Japanese commerce ships in search of new land brought along its culture including this unique dance performance which is performed at merry occasions. In 1971, the ministry tourism of Johor acknowledged the Kuda Kepang dance for the Javanese community residing in Johor as a symbolic sign of unity and diversity in culture for the Johor people. With a strong historical resemblance, the origin of the Javanese cultural heritage are spread across in the southern state of Johor, Perak and Selangor in Malaysia and Singapore. Designer: Hana Yaakob Photograph: Arazzs Razzswil #MissGrandMalaysia2017 #NationalCostume #MissGrandInternational2017 #SayangMalaysia #Malaysia #TourismMalaysia #KudaKepang #NationalCostume

A post shared by MissGrandMalaysia (@missgrandmalaysia) on Sep 28, 2017 at 5:52pm PDT




Melalui Instagram resmi Miss Grand Malaysia pun memberikan klarifikasinya terhadap tudingan mencontek kostum kuda lumping yang memang identik dengan kesenian daerah dari Indonesia itu. Pihak Miss Grand Malaysia menjelaskan bahwa kostum kuda lumping yang disebut mereka sebagai kuda warisan itu terinspirasi dari masyarakat Jawa yang tinggal di kawasan Selatan wilayah Johor, Malaysia. Orang Jawa yang bermigrasi ke Malaysia pada awal abad 20 lah yang membawa dan memperkenalkan tarian kuda lumping tersebut. Hingga akhirnya pada 1971, Kementerian Pariwisata Johor mengakui tarian Kuda Kepang tersebut sebagai bagian dari masyarakat Jawa di Johor. Tarian itu juga simbol pesatuan dan keberagaman budaya untuk masyarakat Johor.

Baca Juga: Ini Debra, Miss Grand International Malaysia yang Dicibir Karena Berbatik

Finalis Miss Grand International dari Malaysia, Debra, memakai crop top batik.Finalis Miss Grand International dari Malaysia, Debra, memakai crop top batik. Foto: dok. Instagram (@debrajeanna.poh)


Kini kehebohan serupa kembali dibuat oleh Miss Grand Malaysia 2018 Debra Jeanne Poh. Saat mengikuti ajang Miss Grand International 2018, Debra bergaya memakai crop top bermotif batik parang. Lagi-lagi netizen Indonesia mencibir finalis kontes kecantikan Malaysia ini. "Percuma lu jadi miss missan kalo masih pake batik negara lain terus ngaku" pula," ujar seorang netizen. "knpa tdk pake ciri khas negara kalian sendiri ?? Knpa harus pake ciri khas negara lain ?? Sdh bgtu tdk ada ditag pun ke negara pemilik, apa bukan ciri2 pencuri itu namanya ??" tulis netizen lainnya.

Pihak Miss Grand Malaysia sendiri belum memberikan penjelasan terkait baju batik yang dipakai oleh Debra. Hanya saja brand pakaian yang dipakai wanita 22 tahun itu yaitu Dona Plant Base, label batik yang berbasis di Malaysia, sudah menjelaskan di akun media sosialnya bahwa memang busana yang mereka buat terinspirasi dari budaya Jawa.

(eny/eny)