Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Liputan Khusus Spornoseksual

Spornoseksual Bentuk Lain dari Pornografi? Ini Kata Ahli

Intan Kemala Sari - wolipop
Jumat, 06 Feb 2015 12:42 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Getty Images
Jakarta -

Istilah spornoseksual kini mulai ramai menjadi perbincangan. Perpaduan dari kata sport, porn, dan metroseksual ini diidentikan oleh sosok pria bertubuh atletis yang gemar selfie sambil memamerkan dada dan mengunggahnya ke media sosial. Hal ini telah menjadi tren sejak tahun lalu, khususnya di Inggris dan Amerika.

Zoya Amirin, pakar psikoseksual menuturkan, pria spornoseksual memiliki kecenderungan eksibisionis, yaitu orang-orang yang berperilaku secara berlebihan dalam konteks seksual untuk menarik perhatian. Jika para eksibisionis akut mencari atensi dengan menunjukkan organ intimnya, pria spornoseksual lebih termasuk ke dalam kategori eksibisionis tingkat rendah.

Wanita yang mengambil studi seksologinya di Universitas Udayana Bali ini mengatakan, para pria tersebut memang tidak menunjukkan alat kelaminnya. Tetapi mereka memamerkan bagian tubuh dengan otot-otot yang kekar dan pose sensual yang dapat menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pria-pria ini menganggapnya itu seksi dan nafsu mereka terpuaskan, padahal ya nggak ada bedanya sama pornografi," terang Zoya saat dihubungi Wolipop via telepon, Rabu (4/2/2015).

Namun Zoya memberikan pengecualian kepada pria yang memang menjadi publik figur. Ia merasa 'pamer' badan tersebut sah-sah saja karena ini adalah satu cara agar mereka bisa mendapatkan tawaran pekerjaan.

"Katakanlah misalnya dia kerjaannya model, of course lah dia harus pamer tubuh biar bisa dapat job. Cara gampangnya gimana? Upload foto ke media sosial. Saya rasa hal itu wajar-wajar saja," tambahnya lagi.

Lantas bagaimana dengan pria yang bukan merupakan publik figur atau model? Seksolog yang tergabung kedalam organisasi Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) itu menilai, orang-orang seperti ini mempunyai pemikiran bahwa mereka bisa dengan mudah menyalurkan hasrat seksualitasnya. Artinya, mereka mempunyai nilai bahwa seksualitas itu boleh-boleh saja diekspresikan secara bebas.

"Ketika hal ini dipamerkan, banyak pria yang tidak sadar bahwa sebenarnya hal ini tidak menarik lagi. Tapi mereka mikirnya masih sesuatu yang 'wah' karena ada satu sisi yang mereka bisa pamerkan. Menurut mereka itu bagus, tapi orang lain nilainya biasa saja," ringkasnya.

(int/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads