Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Keseruan Estelita Liana Ikut Miss Supranational: Bicara Pakai Bahasa Tubuh

Arina Yulistara - wolipop
Jumat, 12 Des 2014 11:17 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Arina Yulistara/Wolipop
Jakarta - Wanita cantik asal Yogyakarta yang merupakan runner up 2 Puteri Indonesia 2014, Estelita Liana, telah memenangkan 'Best National Costume' di ajang kontes kecantikan dunia, Miss Supranational 2014. Ajang kecantikan yang diikuti 72 negara tersebut digelar di Polandia pada awal Desember kemarin. Indonesia pun mendapat gelar kostum nasional terbaik untuk kedua kalinya dalam waktu berdekatan.

Sebelum maju ke Grand Final Miss Supranational 2014, wanita dengan sapaan akrab Lily itu dikarantina terlebih dahulu selama kurang lebih tiga minggu. Selama masa karantina tentu banyak kejadian menarik yang tak bisa ia lupakan.

Ketika berbincang dengan Wolipop, wanita 21 tahun itu berbagi cerita pengalaman selama di Polandia. Lily dengan antusias mengaku ia sangat senang berada di sana terutama karena bisa merasakan musim dingin bersalju yang tentu tak ada di negara tropis seperti Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian suasana kota dan tata krama yang berbeda dari Indonesia memberikan banyak pelajaran berharga untuknya. Belum lagi ketika pergi ke tempat-tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya ketika bertandang ke tambang garam yang berada di bawah tanah serta menyaksikan atraksi penduduk melompat di atas api sambil diiringi musik.

Hal itu menjadi momen indah yang tak akan terlupakan baginya. Tidak hanya momen indah, ada pula pengalaman yang diakuinya membuat mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu merasa kesulitan tapi menjadi momen yang paling diingat. Momen seperti apa yang dimaksud?

Lily menceritakan kalau salah satu hal yang membuatnya kesulitan adalah kekurangan air mineral. Pasalnya ketika sampai di Polandia, ia dan peserta lainnya disuguhkan air bersoda. Ketika minta air mineral pun, tetap saja diberikan air bersoda.

"Saya dan peserta lainnya nggak bisa minum karena selalu dikasih soda, kita sebutnya sparkling water. Mereka nggak ada yang kasih air mineral, setiap minta pun pas dibuka tetap air soda. Akhirnya setiap sarapan kita selalu bawa botol untuk diisi ulang di restoran," cerita wanita kelahiran Sleman, 22 Juli 1993 itu sambil tertawa saat ditemui di Graha Mustika Ratu, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (11/12/2014).

Selain air mineral, pengalaman yang tak terlupakan lainnya ketika telepon genggam miliknya mati dan belum bisa di-charge. Padahal kala itu ia sedang rindu rumah terutama sang ibunda. Lily mengaku sempat ingin menangis tapi ia tahan setelah teman-temannya memberikan support.

Wanita cantik berambut panjang itu menuturkan kalau suasana kekeluargaan begitu terasa selama masa karantina. Bahkan satu sama lain saling membantu terutama ketika ada peserta yang tidak bisa bahasa Inggris. Jadi sebagian dari mereka berkomunikasi lewat bahasa tubuh.

Meskipun demikian, mereka tetap bisa berkomunikasi dengan peserta lain. Bahkan beberapa diantaranya bersedia untuk menjadi penerjemah buat peserta yang tidak bisa berbahasa Inggris. Pulang ke Indonesia, pengalaman seru selama tiga minggu di Polandia menjadi cerita baru dalam hidupnya.

"Mereka baik-baik, saling dukung, kita juga berbagi cerita sampai ke hal-hal sepele kayak cari pacar, kuliah, banyak yang kita sharing ya," tambahnya.

(ays/asf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads