Libido Tinggi dan Takut Masturbasi
wolipop
Rabu, 30 Mar 2011 13:15 WIB
Jakarta
-
Dear wolipop,Aku wanita berumur 24 tahun. Sudah menikah selama lima tahun. Selama menikah aku sering ditinggal suami kerja keluar kota. Kami selalu komunikasi meskipun jauh. Tapi kenapa ya, selama ditinggal aku gak pernah masturbasi? Selain takut aku juga gak bisa padahal pengen juga dengar cerita teman-teman. Tapi kalau suami sudah pulang aku suka maniak atau terlalu berhasrat. Sehari bisa sampai lima kali. Yang aku tanyain, apa gak masalah dengan kehidupan seks saya, karena saya takut suami saya menjadi bosan, terus bagaimana caranya agar tidak terlalu berhasrat, saya sangat mohon solusinya. (Mona)
Dear Mona,Usia Anda saat ini berada di dalam kisaran puncak usia kematangan secara biologis sehingga wajar saja Anda memiliki hasrat seksual yang tinggi. Selain itu Anda juga tidak bertemu suami setiap harinya sehingga tidak setiap hasrat seksual yang timbul dapat terlampiaskan terus menerus. Namun mungkin hasrat Anda lebih tinggi dibandingkan perempuan pada umumnya. Sebenarnya hasrat yang cukup tinggi ini bukanlah suatu masalah, akan tetapi justru merupakan kelebihan dan suami Anda harusnya justru merasa beruntung mendapatkan Anda sebagai pasangan. Hanya saja Anda yang harus pintar membaca keadaan, misalnya saat suami Anda terlihat lelah, Anda harus bersabar menunggu suami Anda beristirahat terlebih dahulu. Atau saat suami Anda banyak pekerjaan, maka sebaiknya pekerjaan diselesaikan terlebih dahulu. Bicarakan secara terbuka dengan suami Anda, suami Anda pasti akan menyambut dengan baik pembicaraan ini, bahkan Anda dan pasangan dapat merencanakan posisi-posisi bercinta yang bervariasi sehingga tidak akan membuat bosan. Selain itu anda dapat mengalihkan hasrat seksual Anda dengan hal-hal lain seperti misalnya memasak sesuatu yang istimewa untuk suami Anda, berolahraga bersama ataupun melakukan hal-hal lain yang merupakan wujud rasa sayang anda kepada suami Anda.Masturbasi bukanlah suatu pilihan yang tepat bagi Anda, walaupun sebagian teman Anda melakukannya. Masturbasi biasanya dilakukan bagi orang yang belum memiliki pasangan hidup sehingga belum memiliki pasangan untuk menyalurkan hasrat seksual. Sebenarnya masturbasi secara fisik tidak memberikan efek negatif, hanya kadang secara psikologis orang yang melakukannya menjadi terpengaruh dan menjadi merasa bersalah terhadap pasangannya, sehingga dapat membawa dampak negatif bagi rumah tangga tersebut nantinya. (Dr. Vanda Mustika) (was/was)
Dear Mona,Usia Anda saat ini berada di dalam kisaran puncak usia kematangan secara biologis sehingga wajar saja Anda memiliki hasrat seksual yang tinggi. Selain itu Anda juga tidak bertemu suami setiap harinya sehingga tidak setiap hasrat seksual yang timbul dapat terlampiaskan terus menerus. Namun mungkin hasrat Anda lebih tinggi dibandingkan perempuan pada umumnya. Sebenarnya hasrat yang cukup tinggi ini bukanlah suatu masalah, akan tetapi justru merupakan kelebihan dan suami Anda harusnya justru merasa beruntung mendapatkan Anda sebagai pasangan. Hanya saja Anda yang harus pintar membaca keadaan, misalnya saat suami Anda terlihat lelah, Anda harus bersabar menunggu suami Anda beristirahat terlebih dahulu. Atau saat suami Anda banyak pekerjaan, maka sebaiknya pekerjaan diselesaikan terlebih dahulu. Bicarakan secara terbuka dengan suami Anda, suami Anda pasti akan menyambut dengan baik pembicaraan ini, bahkan Anda dan pasangan dapat merencanakan posisi-posisi bercinta yang bervariasi sehingga tidak akan membuat bosan. Selain itu anda dapat mengalihkan hasrat seksual Anda dengan hal-hal lain seperti misalnya memasak sesuatu yang istimewa untuk suami Anda, berolahraga bersama ataupun melakukan hal-hal lain yang merupakan wujud rasa sayang anda kepada suami Anda.Masturbasi bukanlah suatu pilihan yang tepat bagi Anda, walaupun sebagian teman Anda melakukannya. Masturbasi biasanya dilakukan bagi orang yang belum memiliki pasangan hidup sehingga belum memiliki pasangan untuk menyalurkan hasrat seksual. Sebenarnya masturbasi secara fisik tidak memberikan efek negatif, hanya kadang secara psikologis orang yang melakukannya menjadi terpengaruh dan menjadi merasa bersalah terhadap pasangannya, sehingga dapat membawa dampak negatif bagi rumah tangga tersebut nantinya. (Dr. Vanda Mustika) (was/was)











































