Kisah Gen Z Sarjana Pilih Jadi TKW daripada Kerja Kantoran: Gajinya Lebih Besar
In this economy, banyak orang lebih mementingkan uang daripada gengsi. Seorang gen Z mengungkap kisahnya saat memutuskan untuk bekerja pergi ke luar negeri. Wanita muda tersebut memilih profesi pembantu rumah tangga di Singapura dibanding menjadi pegawai kantoran. Ia mengaku gajinya jauh lebih besar.
Adalah Clergy, wanita asal Filipina yang menjadi TKW di Singapura. Profesi itu dipilihnya setelah menempuh pendidikan selama empat tahun dan lulus dengan gelar Sarjana Sains di bidang Manajemen Perhotelan. Tidak pernah terpikir jadi asisten rumah tangga namun kenyataan hidup menyadarkannya.
Clergy menceritakan kisah hidupnya dalam sebuah episode program *Gen Z Crash Course* dari Mediacorp. Konten tersebut mengikuti keseharian lulusan universitas tersebut di Singapura pada hari Minggu, hari liburnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan setelah lulus pada bulan Juli 2023, ia sempat bermimpi untuk bekerja di kapal pesiar agar bisa melihat dunia. Sayangnya, ia ditolak karena tidak memenuhi syarat tinggi badan. Ada pula kendala finansial, sehingga karier yang selama ini ia pelajari dan cita-citakan terasa sulit untuk digapai
Clergy Jadi PRT di Singapura Foto: YouTube Mediacorp |
"Saat itu aku sangat sedih, rasanya seperti, 'Mengapa? Mengapa aku tidak bisa mewujudkan impian itu?' Padahal itu adalah pekerjaan impianku," ungkapnya.
Clergy kemudian bekerja sebagai staf kantor di kotanya sendiri selama hampir satu tahun. Namun gajinya disebut tidak seberapa jadi dia tidak bisa membayar tagihan. "Jangankan memenuhi keinginan, membeli barang-barang yang saya inginkan saja tidak bisa," ujarnya.
Setelah gagal mendapatkan pekerjaan dengan bayaran lebih baik, ia mulai mencari peluang di luar negeri. Setelah sempat terpukul dengan penolakan, ia mencoba melamar pekerjaan di Singapura.
Clergy mengatakan bahwa melamar pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di sana membutuhkan biaya awal yang jauh lebih sedikit. Ia kemudian mengambil pekerjaan tersebut yang disebut jauh lebih 'cuan' daripada bekerja di kantor.
"Gaji saya saat bekerja sebagai staf kantor dulu kurang dari S$300 (Rp 4,2 jutaan). Di Singapura, penghasilanku dua kali lipat dari itu. Terkadang bahkan lebih," tuturnya.
Meki begitu, awalnya Clergy sempat merasa sedih. "Aku terus bertanya pada diri sendiri, 'Mengapa aku belajar begitu keras hanya untuk menjadi asisten rumah tangga seperti ini?' Lalu aku berkata, 'Tuhan, di mana kejutan tak terduga dalam hidupku? Maksudku, aku ingin melakukan sesuatu yang lebih," kenangnya dilansir 8days.
Clergy Jadi PRT di Singapura Foto: YouTube Mediacorp |
Tapi tak butuh waktu lama untuk Clergy menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan pekerjaannya dan mimpinya juga masih bisa dikejar.
"Aku menyadari bahwa pada akhirnya hal itu tidak masalah, asalkan bayarannya lebih tinggi dan aku bisa menabung untuk mewujudkan impian serta menghidupi keluarga. Mempertahankan ego yang tinggi tidak akan membuat perut kenyang; kamu tetap akan kelaparan. Ini bukan soal jabatan atau gelar pekerjaan, melainkan soal bayaran yang lebih besar dibandingkan penghasilan di Filipina," ujarnya.
Clergy mengaku tidak melupakan ambisinya dan kini sedang menabung dengan harapan suatu hari nanti bisa membuka kedai kopinya sendiri. Ia juga ingin melanjutkan studi dan mungkin bekerja di restoran atau hotel, agar bisa kembali berkecimpung di industri perhotelan dan pariwisata, bidang yang menjadi fokus pelatihan awalnya.
"Bagi siapa pun di kampung halaman, jangan pernah berpikir bahwa gelar Anda tidak ada artinya. Kamu sedang membangun impianu. Ingatlah, pengorbanan adalah kunci kesuksesan," tuturnya.
(ami/ami)













































