Kejam, Desainer Langganan Artis Tak Gaji Karyawan yang Dipaksa Kerja 17 Jam
Desainer fashion di New York yang karyanya pernah dipakai sejumlah selebriti ternama kini terseret kasus hukum serius. Andrea Mary Marshall, pendiri rumah mode mewah 'Salon 1884' didakwa tidak membayar gaji karyawan yang dipaksa bekerja 17 jam sehari.
Wanita 44 tahu itu dikenal sebagai sosok di balik berbagai busana mewah yang pernah dikenakan aktris seperti Julia Roberts dan Cynthia Erivo. Karyanya juga pernah tampil di Vogue serta dijual di sejumlah peritel kelas atas.
Di balik citra glamor tersebut, pihak berwenang menuduh Marshall menjalankan bisnisnya dengan cara yang kejam. Menurut Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan, Marshall diduga tidak membayar sekitar US$54 ribu atau setara Rp 960 juta kepada sembilan karyawannya. Para pekerja disebut harus menjalani jam kerja yang sangat panjang, bahkan ada yang bekerja hingga 17 jam dalam satu shift tanpa menerima upah yang semestinya. Jaksa juga menuduh para karyawan kerap dipaksa bekerja lebih dari 100 jam per minggu, termasuk menjalani shift semalaman secara berurutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus ini mulai terungkap setelah penyelidikan menemukan sejumlah pesan singkat antara Marshall dan para pekerjanya. Dalam pesan-pesan tersebut, beberapa karyawan terlihat memohon agar sebagian kecil gaji mereka segera dibayarkan karena kebutuhan keluarga yang mendesak.
Salah satu pekerja meminta Marshall membayar setidaknya separuh dari uang yang menjadi haknya. Ia mengaku sangat membutuhkan dana tersebut untuk dikirim kepada anak-anaknya di Ekuador.
Alih-alih memberikan kepastian pembayaran, salah satu pesan yang dirilis justru menunjukkan Marshall menegur seorang pekerja yang datang meminta haknya.
Jaksa Distrik Manhattan Alvin Bragg menilai Marshall memanfaatkan posisinya yang lebih kuat dibanding para pekerja. Banyak karyawan disebut bergantung pada gaji tersebut untuk kebutuhan dasar seperti tempat tinggal dan biaya hidup sehari-hari, sehingga takut melawan atau menempuh jalur hukum.
"Dia memanfaatkan ketimpangan kekuasaan yang signifikan terhadap para pekerjanya, yang bergantung pada upah yang dijanjikan untuk kebutuhan hidup mereka," kata Bragg dalam pernyataannya, seperti dikutip New York Post.
Pada sidang perdana, Marshall mengaku tidak bersalah atas seluruh dakwaan yang dikenakan kepadanya, termasuk pencurian besar, penipuan, gagal memberikan kompensasi yang diwajibkan, serta lima pelanggaran terkait pembayaran upah pekerja. Setelah sidang, Marshall dibebaskan tanpa jaminan sambil menunggu proses hukum berikutnya.
(kik/kik)










































