Kisah Lengkap Viral Guru Otoriter di Bogor, Ortu Dikeluarkan dari Grup WA

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 08 Agu 2021 11:00 WIB
Little girl feeling sad while online learning and homeschooling with her mother. Foto: Getty Images/iStockphoto/Artem Peretiatko
Bogor -

Viral di media sosial curhatan orangtua murid yang dikeluarkan dari grup WhatsApp sekolah setelah memberikan masukan pada guru soal sistem belajar daring. Curhatan tersebut dibagikan oleh sang orangtua murid via Twitter.

Ialah Anung Hidayah lewat akun Twitter pribadinya @nung_306, membagikan keluh kesahnya tentang tugas sekolah anaknya yang menumpuk. Yang membuat Anung Hidayah akhirnya mencurahkan keluhannya di Twitter adalah karena setelah istrinya menyampaikan masukan pada pihak guru muridnya, sang istri didepak dari grup WhatsApp sekolah.

"GILLLAAAA...!!! Gaya otoriter sudah masuk sampe ke ranah sekolah. Pagi ini bini gw sedikit kasih masukan ke Guru anak gw yang pertama, soal pemberian tugas harian mulai dari LKS yang bisa sampai 5 lembar belum ditambah tugas dari buku paket, dan adiknya pun sama seperti itu," tulis akun Twitter @nung_306.

Ia mengatakan sebagai orangtua, dirinya dan istrinya tidak mempunyai kemampuan dasar mengajar. Dan dia sendiri juga harus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Dapat dipastikan kami gak selalu bisa mendampingi putra-putri kami utk menjawab tugas-tugasnya. Sementara sang guru hanya melempar tugas-tugas via WAG tanpa ada penjelasan materinya," jelas Anung.

Anung dan istri pun merasa kewalahan dengan berbagai tugas yang diberikan oleh guru anaknya tersebut. Namun ketika istrinya memberi masukkan kepada guru, dia malah dikeluarkan dari grup WhatsApp kelas.

"Dan pagi ini bini gw udah merasa kewalahan dengan tugas-tugas yang diberikan hingga beberapa halaman sekaligus, dan saat memberikan masukan ke sang guru, endingnya bini gw malah di kick dari group tersebut. Ini sikap guru yang sangat otoriter dan tidak terbuka dengan masukan dari orang tua murid," tuturnya. Kisah viralnya KLIK DI SINI.

Wolipop sudah menghubungi Anung Hidayah yang membagikan Thread tersebut. Ia mengatakan alasannya mengunggah keluh kesahnya tersebut di Twitter.

"Thread ini berangkat dari kekecewaan saya, atas sikap guru anak saya yang saya rasa sangat arogan dalam menyikapi sebuah masukan dari wali murid. Sikap arogansi itu ditunjukan dari kalimat-kalimat yang disampaikan pertama dari kata "jangan protes" kedua istri saya dikeluarkan dari Whatsapp group kelas tersebut," kata Anung kepada Wolipop, Jumat (6/8/2021).

Anung menjelaskan jika ia tak menganggap semua guru seperti itu. Sebab anaknya bungsunya juga sekolah di tempat yang sama dan mendapatkan metode pengajaran yang cukup baik dari gurunya. Ia pun merinci empat masalah yang dihadapinya ketika anak sekolah daring:

1. Sulit memahami materi

Orangtua murid kewalahan, karena sehari-hari guru hanya memberikan tugas-tugas tanpa ada penjelasan materi. Sehingga dia dan istrinya juga kesulitan dalam mencari refrensi untuk menjelaskan materi tersebut.

2.Orangtua aktif bekerja

"Kedua kami juga semakin kewalahan di tengah pandemi ini, di mana kami juga harus sama-sama berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara pembatasan-pembatasan aktivitas juga diberlakukan di mana-mana," ujarnya.

3. Tidak memiliki kemampuan mengajar

Kapasitas orangtua murid yang tidak memiliki dasar kemampuan mengajar banyak menemukan benturan. Saat orangtua mencoba memberikan pemahaman soal materi pelajaran yang disampaikan, tidak jarang orangtua menjadi emosi saat sang anak agak sulit dalam menangkap apa yang disampaikan, dan ini berefek pada psikologis anak dan orangtua.

4. Anak tak memahami pelajaran

Orangtua juga bingung untuk mengetahui pencapaian apa yang disasar oleh pihak guru dengan metode penbelajaran seperti ini. Karena akhirnya orangtua hanya menjadikan anak menjawab tugas-tugas sebagai prioritas pembelajaran. "Persoalan anak kami memahami atau tidak soal materi yang disampaikan. Akhirnya menjadi tidak terlalu penting, ini juga yang menjadi kekhawatiran kami sebagai orangtua," ujarnya.

Penugasan yang Dianggap Tak Wajar

Pria 36 tahun tersebut mengaku jika penugasan yang diberikan oleh guru sang anak sudah tak wajar. Setiap hari siswa diberikan tugas lima lembar LKS dan lima lembar buku paket terkadang lebih.

"Meskipun tidak semua berisi soal, tapi ada beberapa yang harus dibaca, dicatat dan dipahami. Namun hal ini juga yang akhirnya menjadi problem bagi kami saat mencoba meberikan pemahaman tapi kami kesulitan menemukan cara yang mudah untuk cara penyampaian yang pas untuk mudah dipahami," ucapnya.

Oleh karena itulah istrinya mencoba memberikan masukan kepada sang guru. Dia berharap murid bisa diberikan keringanan dalam mendapatkan tugas harian. Namun feedback yang diterima adalah kalimat-kalimat yang kurang menyenangkan dari guru.

"Seperti yang sudah saya tulis diatas kata-kata "jangan protes" dan setelah itu nomor istri saya dikeluarkan dari Whatsapp grup. Berharap para wali murid berani speak up, untuk hal serupa. Karena efeknya bukan hanya pada psikis anak, tapi sudah mempengaruhi psikis keluarga," tuturnya.

Anung menambahkan dalam cuitannya di Twitter, ada orangtua murid yang mengalami hal serupa dan sampai membayar guru private. Mereka melakukan itu untuk membantu anak-anaknya mengerjakan tugas.

"Justru yang saya harapkan adalah para orangtua yang mengalami hal yang sama seperti saya, harus berani speak up untuk hal ini kepada guru masing-masing dan semoga bisa menemukan jalan tengah dalam menyikapi hal ini," lanjutnya.

"Dan satu lagi yang perlu dipahami dari Thread saya ini, saya buat sama sekali tidak bermaksud untuk mem-framing profesi guru. Dan sampai detik ini saya masih melindungi nama baik sekolah dan privasi guru yang dimaksud. Agar tidak menjadi masalah baru ketika terjadi sanksi sosial dari netizen. Karena saya yakin bila itu terjadi itu akan menjadi tekanan psikis yang luar biasa bagi sang guru," tambah Anung.

Ia pun berharap agar kisahnya bisa menjadi perhatian dinas pendidikan terkait agar bisa lebih baik. Anung berharap pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor dapat lebih memperhatikan kondisi proses Pembelajaran Jarak Jauh yang diberlakukan selama pandemi.

"Mungkin dapat ditemukan formula-formula teknis yang baku agar tidak seperti diserahkan sesuai kemampuan dan improvisasi dari masing-masing guru," tutupnya.

(gaf/eny)