7 Fakta Laurel Hubbard, Lifter Transgender yang Ukir Sejarah di Olimpiade

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 03 Agu 2021 10:50 WIB
Laurel Hubbard of New Zealand competes in the womens +87kg weightlifting event at the 2020 Summer Olympics, Monday, Aug. 2, 2021, in Tokyo, Japan. (AP Photo/Luca Bruno) Laurel Hubbard di Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: AP/Luca Bruno)
Tokyo -

Laurel Hubbard mengukir sejarah di Olimpiade Tokyo 2020. Atlet asal Selandia Baru ini menjadi transgender pertama yang tampil di cabor angkat besi dalam sejarah Olimpiade.

Meski bukan atlet transgender pertama yang berlaga di Olimpiade (status tersebut disandang oleh Quinn, pesepakbola Kanada, yang tampil pekan lalu), Laurel Hubbard tetap menjadi sorotan. Keikutsertaannya di Olimpiade Tokyo 2020 sempat menuai kontroversi.

Kondisi fisik Laurel Hubbard yang seperti pria dianggap kurang fair bagi rival lifter perempuan. "Atlet perempuan bisa bertanding di olahraga ini sejak 16 tahun lalu, dan sekarang ada laki-laki yang mencoba merebut sorotan di atas podium yang seharusnya untuk perempuan," kata Katherine Deves, salah satu pendiri Save Women's Sport Australasia kepada Today NBC.

Laurel Hubbard berkompetisi pada kelas +87 kg Grup A, Senin (2/8/2021) sore. Ia bersaing dengan lifter putri Indonesia berdarah Aceh Nurul Akmal.

Medali emas akhirnya jatuh ke tangan atlet China Li Wenwen yang mengumpulkan total angkatan seberat 320kg (140kg angkatan snatch dan 180kg di angkatan clean and jerk). Lifter Inggris Raya Emily Jade Campbell meraih medali perak dan Sarah Robles dari Amerika Serikat sebagai peraih perunggu.

Laurel Hubbard sendiri tak mampu menembus lima besar. Pencapaian tersebut berhasil ditorehkan oleh Nurul Akmal yang berhasil finis di tempat kelima.

Laurel Hubbard of New Zealand says Laurel Hubbard di Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: AP/Luca Bruno)

Walau hampir selalu gagal di setiap percobaan angkatan, ia melemparkan senyuman dan sesekali meletakkan kedua tangannya usai beraksi seolah sedang mengucapkan terima kasih.

"Saya tentu menyadari kontroversi yang timbul karena partisipasi saya di Olimpiade ini. Oleh karena itu, saya berterima kasih kepada IOC (Komite Olimpiade Internasional) yang telah mempertegas komitmennya untuk mendukung prinsip Olimpiade dan membuat olahraga terbuka bagi siapa saja," kata Laurel Hubbard setelah tampil, seperti dikutip Associated Press.

Lantas seperti apa latar belakang sang atlet transgender? Berikut fakta-fakta tentang Laurel Hubbard.


1. Laurel Hubbard terlahir sebagai pria pada 9 Februari 1978 di Auckland, Selandia Baru. Ayahnya, Dick Hubbard, adalah mantan walikota Auckland sekaligus pengusaha kuliner.

AUCKLAND, NEW ZEALAND - DECEMBER 08:  Weightlifter Laurel Hubbard poses during a portrait session on December 8, 2017 in Auckland, New Zealand.  (Photo by Hannah Peters/Getty Images)(Photo by Hannah Peters/Getty Images)

2. Berusia 43 tahun, ia pun menjadi atlet angkat besi tertua ketiga yang pernah berpartisipasi di Olimpiade.

Laurel Hubbard of New Zealand competes in the women's +87kg weightlifting event at the 2020 Summer Olympics, Monday, Aug. 2, 2021, in Tokyo, Japan. (AP Photo/Luca Bruno) (Foto: AP Photo/Luca Bruno)

3. Olahraga angkat besi sudah ditekuninya sejak 1998, sebelum menjadi transgender. Ketika masih berlaga di kelas junior pada 2001, Laurel yang waktu itu baru berusia 23 tahun membuat catatan rekor nasional setelah mengalahkan rival lifter pria dengan total angkatan 300 kg.

AUCKLAND, NEW ZEALAND - DECEMBER 08:  Weightlifter Laurel Hubbard poses during a portrait session on December 8, 2017 in Auckland, New Zealand.  (Photo by Hannah Peters/Getty Images) (Foto: Hannah Peters/Getty Images)


4. Di tengah perjalanan kariernya, ia harus menghadapi pergumulan dengan seksualitasnya. Pergumulan tersebut cukup berat sampai Laurel harus meninggalkan olahraga angkat besi yang telah membesarkan namanya.

AUCKLAND, NEW ZEALAND - DECEMBER 08:  Weightlifter Laurel Hubbard poses during a portrait session on December 8, 2017 in Auckland, New Zealand.  (Photo by Hannah Peters/Getty Images)Foto: Getty Images


5. Baru pada 2012 saat berusia 33 tahun, ia mengumumkan diri sebagai seorang transpuan (transgender perempuan). Laurel Hubbard pun kembali menggeluti olahraga angkat besi meski kemunculannya sebagai atlet transpuan mengundang banyak cibiran.

GOLD COAST, AUSTRALIA - APRIL 09:  Laurel Hubbard of New Zealand competes in the Women's +90kg Final during the Weightlifting on day five of the Gold Coast 2018 Commonwealth Games at Carrara Sports and Leisure Centre on April 9, 2018 on the Gold Coast, Australia. (Photo by Dan Mullan/Getty Images) Foto: Dan Mullan/Getty Images


6. Kejuaraan Angkat Besi Dunia 2017 menjadi kompetisi pertamanya sebagai lifter transpuan. Ia berhasil membawa pulang dua medali perak untuk negaranya. "Saya di sini bukan untuk mengubah dunia. Saya hanya ingin menjadi diri saya dan melakukan apa yang saya cintai," kata Laurel Hubbard kepada awak media Selandia Baru sepulang dari ajang tersebut.

AUCKLAND, NEW ZEALAND - DECEMBER 08:  Weightlifter Laurel Hubbard poses during a portrait session on December 8, 2017 in Auckland, New Zealand.  (Photo by Hannah Peters/Getty Images) (Foto: Hannah Peters/Getty Images)

7. Laurel Hubbard bukan satu-satunya atlet dari kelompok minoritas seksual yang berlaga di Olimpiade Tokyo 2020. Menurut Outsports, dari 11.326 atlet yang berpartisipasi Olimpiade kali ini, 168 di antaranya adalah atlet LGBTQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer). Jumlah tersebut tiga kali lipat dari Olimpiade Rio 2016 yang menyertakan 56 atlet LGBTQ.

Laurel Hubbard of New Zealand, center, stands amid other competitors at the start of the women's +87kg weightlifting event at the 2020 Summer Olympics, Monday, Aug. 2, 2021, in Tokyo, Japan. (AP Photo/Seth Wenig)Laurel Hubbard bersama para atlet angkat besi Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: AP Photo/Seth Wenig)


Simak Video "Gaya Atlet Olimpiade Tokyo 2020 Beri Penghormatan pada One Piece"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)