Mengenal Generasi Avokad, Golongan Orang Usia 24-39 yang Menolak untuk Tua

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 25 Sep 2020 15:47 WIB
Manfaat makan alpukat tiap hari Foto: Getty Images/iStockphoto/serezniy
Jakarta -

Kamu mungkin sudah familiar dengan istilah millennial dan gen Z. Tapi tahukah kamu mengenai generasi avokad? Generasi tersebut merujuk pada golongan orang-orang muda di rentang usia 24-39 tahun yang mengalami pergeseran pandangan dan gaya hidup. Dibanding generasi sebelumnya, mereka lebih mementingkan kebahagiaan dan meraihnya dengan cara mereka sendiri. Tidak mementingkan pernikahan atau punya anak, generasi avokad juga sering disebut menolak untuk tua.

Generasi avokad mirip dengan generasi Peter Pan di mana orang-orang berusia 18-29 tahun lebih memilih hidup dengan orangtua ketimbang berumah tangga. Berdasarkan studi Clark University of Emerging Adults, para 'Peter Pan' ini adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berkeinginan mengejar 'passion' dan mimpi. Hal tersebut kurang dipahami oleh generasi sebelumnya karena orang tua tidak mengerti beban ekonomi yang terjadi sekarang.

Mengapa disebut avokad? Dikatakan jika orang-orang ini hidup dengan obsesi avokad setelah avocado toast sempat tren di zaman mereka. Generasi avokad yang terdiri dari para millennial memilih untuk menjadi bahagia dengan pilihannya sendiri. Mereka menolak untuk mengambil sembarang pekerjaan yang tidak membuat bahagia atau cepat-cepat menikah daripada nanti bercerai. Selain menolak tua, berikut beberapa karakteristik lain dari generasi avokad yang mungkin kamu juga rasakan.

Millennial Paling Banyak Buang Makanan Foto: iStock

Selalu Online
Bukan sesuatu yang aneh jika generasi ini selalu online karena tak pernah meninggalkan gadget-nya. Bahkan tidak sedikit yang mengaku jika mereka akan FOMO (Fear of missing out) ketika tidak melihat handphone karena takut ketinggalan sesuatu yang penting. 70% generasi avokad pun selalu mengecek handphone paling tidak sejam sekali.

Mengalami Kecemasan dan Depresi
Meski sering menampakkan dan berusaha mencari kebahagian, tak sedikit generasi avokad yang mengalami kecemasan bahkan depresi. Menurut studi Jean M. Twenge, orang muda punya tingkat kecemasan yang hampir sama dengan pasien RSJ di tahun 1950an. Bukan tanpa alasan, milenial memang lebih rentan mengalami gangguan mental karena tekanan hidup. Tapi positifnya, mereka cenderung lebih terbuka untuk bercerita dan mencari bantuan dari terapis.

Ingin Mencari Passion
Dibanding generasi sebelumnya, anak muda saat ini lebih mementingkan minat. Mereka ingin pekerjaan yang bukan hanya menghasilkan gaji tapi jadi sumber kebahagiaan dan bermanfaat bagi orang banyak. Sayangnya hal ini juga yang sering membuat mereka jadi cemas ketika belum berhasil menemukan.

Happy asian woman vlogging with gimbal tripod and smartphone - Influencer chinese girl having fun with new trend technology - Millennial generation activity job, youth and tech concept - Focus on face Foto: Getty Images/iStockphoto/DisobeyArt

Mematahkan Stereotip
Banyak dari generasi avokad yang tidak lagi mementingkan kata orang. Mereka pun berani mematahkan stereotip dan menjadi diri sendiri lalu berusaha mencari penghasilan dari sana. Lihat saja para influencer atau selebgram yang mendapat endorsement dengan menjadi 'berbeda'.

Lebih Toleran
Melihat banyaknya orang yang mematahkan stereotip dan menjadi diri sendiri membuat generasi avokad lebih toleransi kepada mereka yang berbeda. Sebagian besar dari mereka juga lebih terbuka pada orang-orang berbeda ras, negara, agama atau suku daripada generasi sebelumnya. Umumnya orang-orang zaman sekarang lebih sadar akan keberagaman dan menerimanya.

(ami/ami)