Kisah Sukses Dokter yang Dulu Jadi Satpam di Rumah Sakit Tempatnya Bekerja

Rahmi Anjani - wolipop Selasa, 11 Agu 2020 13:37 WIB
Portrait of a young male healthcare worker wearing a protective mask. The corona virus outbreak around the world is a serious pandemic. Confident male doctor with face mask Foto: Getty Images/nattrass
Jakarta -

Seorang pria bernama Russel Ledet menceritakan perjuangannya menjadi seorang dokter. Tak datang dari keluarga berada, Russel bahkan pernah bekerja sebagai seorang satpam di rumah sakit. Namun usaha mengubah nasibnya. Bertahun-tahun kemudian ia sukses menjadi dokter di tempat yang sama. Yang membuat kisahnya semakin inspiratif, Russel bukan hanya seorang dokter tapi juga philanthropist, peneliti, veteran tentara, dan mahasiswa bisnis.

Russel dulu tidak berniat untuk kuliah karena biayanya terlalu mahal. Karena itu, ia memutuskan untuk bergabung dengan angkatan laut di usia 18 tahun sebelum akhirnya mendapat kesempatan untuk kuliah. Russel pun awalnya bercita-cita untuk menjadi pekerja sosial sampai seorang dosen menyadarkannya untuk mengembangkan diri karena ia punya potensi.

Ketika bekerja sebagai satpam di sebuah rumah sakit, Russel menemukan panggilan yakni menjadi dokter. "Selama kuliah, aku adalah satpam di Baton Rouge General Medical Center, aku berdiri di tanjakan depan rumah sakit. Biasanya ada satpam di sana untuk memastikan dokter merasa aman ketika datang dan pasien merasa aman ketika keluar. Aku selalu duduk di sana belajar kartu kimia atau fisika tapi setiap kali ada dokter lewat, itu jadi motivasi lain," katanya kepada Teen Vogue.

Kini Russel telah resmi bekerja sebagai dokter di rumah sakitnya tempatnya dulu menjadi seorang satpam. "Aku berpikir kemarin. Aku duduk di meja komputer, tempat di mana aku menangis. Aku kembali ke rumah sakit yang sama di mana aku jadi satpam. Sekarang semua satpam akan mengantarku dan aku akan membuka ruang operasi dan menjadi bagian tim. Ini adalah pengalaman yang berbeda," tambah Russel.

Dari awalnya tidak berniat untuk kuliah, Russel sekolah hingga mendapat gelar Ph.D dan menerima beasiswa untuk meraih MD dan MBA di saat bersamaan dari sebuah universitas. Hal tersebut tentu tidak dilewatkannya begitu saja dan dijadikan motivasi lain untuk Russel. Kesempatan untuk sekolah tinggi yang sulit didapatkan sesama orang kulit hitam.

"Untuk pertama kalian aku sadar, aku sadar aku punya kesempatan untuk menjadi ketua dalam komunitas. Jika aku akan menjadi pemimpin komunitas, aku akan melakukannya di mana aku berasal,"

Meski kini sudah sukses, Russel memang masih memiliki keresahan terutama terkait dengan komunitas kulit hitam. Ia pun berharap jika gerakan Black Lives Matter bisa mengubah kondisi di masa depan.

"Istriku memaksaku ketika ada dalam mobil, aku menaruh stethoscope, ID sekolah, dan jubah putih (di depan) karena mungkin itu akan menghalangi polisi (dari perlakuan tidak adil)," ungkapnya.



Simak Video "Perceraian Meningkat saat Pandemi, Ini Kata Dokter Boyke"
[Gambas:Video 20detik]
(ami/ami)