Cerita 2 Wanita Peneliti Indonesia yang Ikut Menemukan Vaksin Corona

Vina Oktiani - wolipop Jumat, 24 Jul 2020 13:55 WIB
LOreal Eijkman Frilasita Aisyah Yudhaputri (Kiri) dan Prof. Herawati Sudoyo (Kanan) dari Eijkman. Foto: Fausta Bayu/L'Oreal
Jakarta -

Vaksin Corona kini menjadi harapan di tengah pandemi COVID-19 yang tidak kunjung berakhir ini. Sederet perusahaan dan lembaga riset pun berjuang menemukan vaksin Corona.

Dua wanita peneliti Indonesia yang tergabung dalam Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman berbagi kisahnya soal keikutsertaan mereka menemukan vaksin untuk virus Corona. Dua wanita itu adalah salah satu pendiri LBM, Prof. Herawati Sudoyo, PhD. dan Frilasita Aisyah Yudhaputri, MbiomedSc.

Prof. Herawati pun mengungkapkan bagaimana perjalanan mereka berusaha menemukan vaksin Corona.

Herawati Sudoyo, salah satu pendiri Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman yang ikut menemukan vaksin virus Corona.Herawati Sudoyo, salah satu pendiri Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman yang ikut menemukan vaksin virus Corona. Foto: Instagram/@herasudoyo



"Whole Genom Sequencing atau karakter dari virus itu memang berperan pentinglah dalam pemilihan kita, platform kita untuk vaksin SARS-CoV-2. Nah informasi dari DNA virus ini sangat penting karena bagaimana yang akan menjadi, dibuat untuk vaksin itu akan menentukan apakah nantinya vaksin kita itu bisa memberikan perangsangan terbentuknya antibodi yang cocok dan tentunya yang tinggi," jelas Prof. Herawati Sudoyo, PhD, ilmuwan bidang biologi molekuler yang merupakan salah satu pendiri LBM, dalam diskusi media virtual yang diadakan L'Oreal Indonesia pada Jumat (24/7/2020). L'Oreal Indonesia sendiri berkontribusi dalam penemuan ini melalui dana riset whole genome sequencing (WGS) SARS-CoV-2 kepada Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman.

Perjalanan riset yang dilakukan oleh para peneliti wanita di LBM, yang dipimpin oleh Frilasita Aisyah Yudhaputri MbiomedSc itu telah dilakukan sejak Mei 2020. Menurut penuturan Frilasita, tahap awal dari apa yang dikerjakannya adalah melakukan pemetaan genom lengkap dari virus SARS-CoV-2.

"Info yang didapat dari Whole Genom Sequencing ini kami percaya tidak hanya bermanfaat bagi peneliti, tetapi juga untuk dunia. Jika dunia mengetahui WGS atau karakteristik secara genetik dari virus SARS-CoV-2 secara spesifik itu bisa dijadikan sebagai landasan ilmu baik untuk platform vaksin maupun untuk basic diagnosis dan lain-lainnya," jelas Frilasita.

Setelah mendapatkan informasi dari karakteristik virus tersebut secara genetik, barulah akan dipublikasikan kepada dunia. Menurut penuturan Prof. Herawati, saat ini Lembaga Eijkman sudah mengumpulkan 10 WGS di bank dunia. Hingga kini pihak Lembaga Eijkman masih terus melakukan penelitian mengenai Whole Genom Sequencing tersebut. Rencananya akan ada 100 WGS yang nantinya akan dikirimkan ke bank dunia.

"Sebenarnya kalau kita lihat bisa saja semuanya itu cepat bisa kita lakukan. Cuma di dalam, karena ini yang terjadi, bisa saja terjadi kegagalan, misalnya pada waktu melakukan eksperimen. Nah itu terpaksa kita mengulang dan sayang bahwa harus ditunda keberhasilannya. Tapi tadinya kalau tidak ada apa-apa sih kita sudah bisa ada 50 WGS," jelas prof. Herawati.

Frilasita juga menambahkan bahwa sebenarnya kalau dari segi sample, mereka sudah memilikinya dan kini sedang dalam proses pengerjaan. Tetapi karena dalam sebuah penelitian biasanya ada kesulitan-kesulitan yang tidak terduga, seperti mesinnya error, maka bisa saja penelitian yang sudah disiapkan akhirnya hilang atau gagal. Itulah mengapa proses penemuan vaksin Corona membutuhkan waktu yang tidak singkat.



Simak Video "Tips Main Jet Ski untuk Pemula dari Anindya Putri"
[Gambas:Video 20detik]
(vio/hst)