Wanita Ini Tutupi Kebutaan Selama 38 Tahun, Sukses Jadi Penulis Hingga S2

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 15 Nov 2019 18:36 WIB
Foto: iStock Foto: iStock

Jakarta - Seorang wanita bernama Zena Cooper menyembunyikan kondisi kesehatannya hingga hampir 40 tahun lalu. Padahal bagi banyak orang kondisi tersebut bukan sesuatu yang ringan atau bisa dengan mudah ditutupi. Karenanya, Zena yang mengidap kebutaan ini dianggap hebat karena bisa menjalani hari seperti orang biasa bahkan sukses meraih gelar S2 dan jadi penulis.

Zena menceritakan kondisi kebutaannya yakni sindrom Marfan yang disembunyikan dari keluarga dan suami. Selama ini, Zena hidup tanpa pandangan yang jelas dan mengandalkan kekuatan memori hingga penciuman untuk mengenali benda serta orang. Bahkan wanita 42 tahun tersebut belajar mengenali bentuk jalanan dan tekstur jalanan sebagai petunjuk arahnya.

"Aku hidup dengan selalu waspada. Aku selalu merencanakan ke depan, menavigasi dengan menghitung langkah, mengingatkan rasanya suatu permukaan di bawah kakiku, dan mengembangkan memori suara," kata Zena dilansir Dailymail.

Zena pun mengaku awalnya tidak tahu jika ia mengidap kebutaan. Begitu juga orangtuanya yang tidak menyadari parahnya kondisi mata Zena karena sang anak sudah pakai kacamata tebal dan tak terlihat kesulitan. Ketika kecil, ia berpikir bahwa semua orang melihat dengan pandangan yang kabur. Hal tersebut baru disadari ketika Zena dewasa dan merasa terlalu terlambat untuk memberi tahu orang-orang.

"Aku mengenali nenekmu yang aku temui dari sekolah setiap hari karena bau rokok dan parfumnya,"

"Seiring waktu, kamu merasa seperti penipu di dunia yang jelas tapi terlalu terlambat untuk mengatakan pada orang-orang bahwa kamu buta. Di titik mana kamu harus mengaku pada seseorang yang kamu kenal selama hidup bahwa kamu tidak pernah melihat wajah mereka," tutur Zena.

Pertama kali Zena sadar ia berbeda dari teman-teman adalah ketika harus mewarnai tupai di sekolah. Saat itu, kebanyakan teman memilih cokelat kemerahan tapi Zena menggunakan warna ungu lalu dimarahi karena salah dan tidak rapi. Sebenarnya Zena juga kesulitan membaca tapi takut diolok-olok jika harus bilang. Tak jarang ia akan membaca kertas dengan jarak yang sangat dekat.

Ia pun memutuskan untuk menyembunyikan kebutaan karena tak ingin dianggap sebelah mata. "Aku takut dipandang skeptis. Banyak orang yang berpikir orang buta hanya melihat gelap tapi 90% dari kita punya persepsi cahaya. Ada rasa malu juga. Apa orang akan memperlakukan berbeda? Apa mereka akan tersinggung jika aku tidak memberi tahu mereka? Apa yang aku paling takutkan adalah rasa kasihan dari mereka," ujarnya.

Baru empat tahun belakangan Zena mengaku kalau dirinya buta. Ia pun mulai merasakan kondisi yang semakin parah karena tidak bisa mengenali orang. Bahkan Zena pernah mengalami insiden di jalan ketika kehilangan konsentrasi. Kini, wanita yang berprofesi sebagai konselor di sekolah itu akhirnya mengakui bahwa dirinya punya keterbatasan dan butuh bantuan.

"Aku menyembunyikannya untuk waktu lama tapi aku tahu aku harus jujur. Aku butuh bantuan. Aku tidak pernah menganggap diriku cacat sebelumnya tapi sekarang aku mengakuinya. Itu adalah penerimaan kerapuhan yang aku sebenarnya tidak rasakan. Aku bahkan mempertanyakan apa itu bisa dianggap keterbatasan," ungkap Zena.

Untungnya kebutaan tersebut tidak menghalangi Zena untuk berkarya. Ia bisa lulus sekolah dan universitas, menjadi perawat psikiater dan konselor sekolah meski kerap kali melakukan kesalahan karena kondisinya. Zena pun menikah dan membesarkan anak tanpa pandangan yang jelas.

"Aku bisa mencium ketika mereka sedang sakit saat bayi karena ada bau pahit dari kulit mereka. Dan ketika anak-anak perempuanku besar, mereka bisa menolong. Ketika aku mendorong adik-adik mereka di mobil-mobilan, mereka akan mengarahkanku," ujarnya.

Maka dari itu,Zena tidak menganggapkondisinya ini sebagai cacat tapi sebuah kemampuan. "Aku tidak ingin punya pandangan sempurna. Kehilangan pandangan lebih menjadi kemampuan. Itumembuatku bisa mengakses bagian dari otak yang orang-orang berpandangan jelas tidak gunakan. Aku bisa merasakan mood orang, merasa senyuman mereka. Aku tidak pernah melihat wajah anakku dan tidak bisa menilai orang dari penampilan tapi aku bisa melihat mereka dari hati,"tuturnya.


Simak Video "Mantap! Limbah Paralon Disulap Jadi Miniatur Kereta"
[Gambas:Video 20detik]
(ami/ami)