Cerita Remaja Desa Terpencil yang Bisa Jadi Menkominfo Sehari
Daniel Ngantung - wolipop
Kamis, 10 Okt 2019 21:30 WIB
Jakarta
-
Riska baru berusia 15 tahun tapi ia sudah mengecap pengalaman menjadi seorang menteri, setidaknya selama satu hari. Rabu (9/10/2019), ia mengambil alih tugas Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara hampir seharian penuh.
"Sehari saya bersama Bapak, mengikuti acara wisuda Esa Unggul. Lalu saya diberi kesempatan beri sambutan. Bangga sekali bisa berdiri di hadapan kakak-kakak mahasiswa-mahasiswi," ungkap Riska saat berbagi pengalamannya di markas Google Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019).
Riska yang berasal dari Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu semakin girang saat bercerita tentang hadiah spesial yang didapatnya dari Rektor Esa Unggul Dr.Ir. Arief Kusuma, M.B.A. "Bapak Rektor kasih saya beasiswa sampai S2," katanya bangga.
Dari acara wisuda tersebut, Riska diajak Rudiantara menyambangi kantor Media Group yang menaungi harian Media Indonesia dan Metro TV. Dalam kesempatan itu, Riska sempat menghadiri rapat bersama para petinggi perusahaan tersebut. "Ya serasa saya juga pejabat, padahal masih 15 tahun. Hehehe," kata Riska berseloroh.
Tidak berhenti di situ, kegiatan Riska bersama Rudiantara lalu berlanjut di Istana Wakil Presiden. Agendanya adalah rapat pimpinan (Rapim) Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang diteruskan dengan pertemuan bersama 10 duta besar negara-negara sahabat.
Riska memang tidak mengikuti pertemuan tersebut sampai kelar, tapi Rudiantara sempat memperkenalkannya kepada para duta besar. "Bangga bisa ketemu 10 duta besar. Walau bahasa Inggris saya pas-pasan, cuma my name is, my name is. Doakan saya yah, semoga nanti bisa lancar bicara bahasa Inggris dan Jerman," ujar Riska yang juga sempat berfoto bersama Wapres Jusuf Kalla.
Riska merupakan satu dari lima anak perempuan yang mengikuti kegiatan #GirlsTakeover atau 'Sehari Jadi Pemimpin' yang digagas Plan Indonesia. Diadakan dalam rangka Hari Anak Perempuan Internasional yang jatuh setiap 11 Oktober, kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak masyarakat bahwa perempuan juga bisa memimpin.
Mereka terpilih dari 500-an anak sepantaran yang mendaftar dengan mengirimkan video tentang profil serta prestasi mereka. Selain Riska, peserta lainnya menggantikan posisi Duta Besar Swedia untuk Indonesia, pimpinan Google Indonesia dan pemimpin redaksi dua media besar di Indonesia.
"Saya senang bisa mengenalkan Riska ke ekosistem Kemkominfo, cuma sayangnya tidak bisa penuh ya," kata Rudiantara. Menurut mantan General Manager Business Development di Indosat itu, Riska adalah cerminan remaja putri yang berprestasi meski tinggal di daerah terpencil dan memiliki potensi sebagai pemimpin. "Saya kaget dan bangga ada anak perempuan seperti Riska," kata Rudiantara.
Riska sendiri berharap pertemuannya dengan Rudiantara bisa membawa perubahan untuk desanya yang belum terjamah internet."Saya sempat minta kepada Bapak supaya internet bisa masuk ke Lembata supaya masyarakat bisa belajar dari situ," kata Riska yang harus menempuh perjalanan 30 menit dengan pesawat terbang ke Kota Kupang demi mendapatkan internet. Harapan lain, kata Riska, semoga pengalamannya dapat menginspirasi banyak anak-anak perempuan sekaligus memotivasi mereka untuk menjadi seorang pemimpin.
(dng/eny)
"Sehari saya bersama Bapak, mengikuti acara wisuda Esa Unggul. Lalu saya diberi kesempatan beri sambutan. Bangga sekali bisa berdiri di hadapan kakak-kakak mahasiswa-mahasiswi," ungkap Riska saat berbagi pengalamannya di markas Google Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019).
Riska yang berasal dari Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu semakin girang saat bercerita tentang hadiah spesial yang didapatnya dari Rektor Esa Unggul Dr.Ir. Arief Kusuma, M.B.A. "Bapak Rektor kasih saya beasiswa sampai S2," katanya bangga.
Dari acara wisuda tersebut, Riska diajak Rudiantara menyambangi kantor Media Group yang menaungi harian Media Indonesia dan Metro TV. Dalam kesempatan itu, Riska sempat menghadiri rapat bersama para petinggi perusahaan tersebut. "Ya serasa saya juga pejabat, padahal masih 15 tahun. Hehehe," kata Riska berseloroh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
|
Tidak berhenti di situ, kegiatan Riska bersama Rudiantara lalu berlanjut di Istana Wakil Presiden. Agendanya adalah rapat pimpinan (Rapim) Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang diteruskan dengan pertemuan bersama 10 duta besar negara-negara sahabat.
Riska memang tidak mengikuti pertemuan tersebut sampai kelar, tapi Rudiantara sempat memperkenalkannya kepada para duta besar. "Bangga bisa ketemu 10 duta besar. Walau bahasa Inggris saya pas-pasan, cuma my name is, my name is. Doakan saya yah, semoga nanti bisa lancar bicara bahasa Inggris dan Jerman," ujar Riska yang juga sempat berfoto bersama Wapres Jusuf Kalla.
Riska merupakan satu dari lima anak perempuan yang mengikuti kegiatan #GirlsTakeover atau 'Sehari Jadi Pemimpin' yang digagas Plan Indonesia. Diadakan dalam rangka Hari Anak Perempuan Internasional yang jatuh setiap 11 Oktober, kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak masyarakat bahwa perempuan juga bisa memimpin.
Mereka terpilih dari 500-an anak sepantaran yang mendaftar dengan mengirimkan video tentang profil serta prestasi mereka. Selain Riska, peserta lainnya menggantikan posisi Duta Besar Swedia untuk Indonesia, pimpinan Google Indonesia dan pemimpin redaksi dua media besar di Indonesia.
"Saya senang bisa mengenalkan Riska ke ekosistem Kemkominfo, cuma sayangnya tidak bisa penuh ya," kata Rudiantara. Menurut mantan General Manager Business Development di Indosat itu, Riska adalah cerminan remaja putri yang berprestasi meski tinggal di daerah terpencil dan memiliki potensi sebagai pemimpin. "Saya kaget dan bangga ada anak perempuan seperti Riska," kata Rudiantara.
Riska sendiri berharap pertemuannya dengan Rudiantara bisa membawa perubahan untuk desanya yang belum terjamah internet."Saya sempat minta kepada Bapak supaya internet bisa masuk ke Lembata supaya masyarakat bisa belajar dari situ," kata Riska yang harus menempuh perjalanan 30 menit dengan pesawat terbang ke Kota Kupang demi mendapatkan internet. Harapan lain, kata Riska, semoga pengalamannya dapat menginspirasi banyak anak-anak perempuan sekaligus memotivasi mereka untuk menjadi seorang pemimpin.
(dng/eny)
Home & Living
5 Rekomendasi Rice Cooker Multifungsi! Masak Nasi, Sup, Hingga Dessert dalam Satu Alat
Home & Living
Cara Menggunakan French Press untuk Membuat Kopi di Rumah Senikmat di Cafe
Elektronik & Gadget
5 Rekomendasi Power Bank PISEN Ini Bikin Mudik Bebas Drama Lowbatt
Olahraga
Dunlop Gecko Tac Overgrip: Grip Anti Licin untuk Tingkatkan Performa
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Kristin Cabot Curhat ke Oprah Soal Tuduhan Selingkuh di Konser Coldplay
Influencer Meninggal Saat Livestreaming, Dikenal Sering Begadang Untuk Jualan
Vina Muliana Ungkap 3 Hal Penting agar Gen Z Tak Bingung Menentukan Masa Depan
Pramugari Ungkap Kelakuan Miliuner di Superyacht: Cincin Kawin Hanya Dekorasi
Cara Berpakaian Manajer Google yang Bikin Kerja Lebih Sukses dan Produktif
Most Popular
1
Makin Panas, Keluarga Kim Sae Ron Diduga Alami Tekanan Akibat Kim Soo Hyun
2
Pesona Son Ye Jin dengan Otot Perut Kencang, Tak Disangka Sudah Jadi Ibu
3
Vagina Gatal Padahal Sudah Bersih? Ini Penyebab yang Sering Tak Disadari
4
Terungkap Ucapan Timothee Chalamet ke Kylie Jenner Sebelum Kalah di Oscar 2026
5
Potret Terbaru Alyssa Daguise Dengan Baby Bump Makin Besar, Tetap Stunning!
MOST COMMENTED












































Foto: Daniel Ngantung/Detikcom