Waduh, 11% Pekerja di Indonesia Merasa Bosnya Tidak Jujur

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 12 Okt 2018 09:30 WIB
Foto: Getty Images Foto: Getty Images

Jakarta - Kriteria pemimpin yang baik bukan hanya mampu membawa bawahan mencapai target-target perusahaan. Bos juga dituntut bisa menunjukkan sikap yang dapat diteladani, terutama dalam hal pekerjaan. Salah satunya adalah bersikap jujur pada diri sendiri maupun para pekerja. Sayangnya, tidak semua bos terlihat selalu berkata jujur di mata bawahan.

Hal tersebut terungkap dalam sebuah penelitian terbaru yang dilakukan Dale Carnegie. Dalam acara tahunan 'Learning Day 2018', lembaga pelatihan pengembanan bisnis tersebut mengungkap empat 'blind spot' yang sering dilakukan para pemimpin menurut 4.400 responden. Salah satu temuan mengejutkan adalah hanya 32% responden di Indonesia yang merasa bos mereka selalu berkata jujur.

Riset tersebut dilakukan pegawai penuh waktu di 17 negara, termasuk Indonesia. Para pekerja yang berusia 22 hingga 61 mengungkap berbagai kebiasaan buruk yang mungkin tak disadari atasan ketika memimpin. Hal-hal yang dinamakan 'blind spot' atau 'titik buta' tersebut, antara lain menunjukkan apresiasi, mengakui kesalahan, benar-benar mendengarkan, dan berkata jujur.

"Kebanyakan pemimpin percaya bahwa mereka sudah cukup kompeten dalam memimpin perusahaan atau organisasinya, padahal terdapat beberapa perilaku yang tanpa disadari berdampak negatif bagi orang yang mereka pimpin. Inilah yang disebut 'titik buta'" kata Joshua Siregar selaku Director National Marketing Dale Carnegie Indonesia.

Berdasarkan riset, hanya 37% bos yang sering menunjukkan apresiasi pada pekerja, 37% mau mengakui kesalahan mereka sendiri, 36% yang sungguh-sungguh mendengarkan pendapat atau keluhan, dan hanya 32% yang merasa pemimpin mereka selalu jujur.

Kejujuran mendapat presentase paling rendah berdasarkan riset tersebut. Di Indonesia sendiri 11% responden merasa bos mereka tidak selalu bersikap jujur dan dapat dipercaya. Hal ini bisa merugikan perusahaan, pekerja, dan bos itu sendiri.

"Minimnya angka pemimpin yang konsisten terhadap perilaku jujur akan memengaruhi kinerja karyawan. Para pemimpin sebaiknya mengetahui dan mengatasi titik-titik buta mereka. Dengan begitu, karyawan akan merasa termotivasi dan terinspirasi dengan pekerjaan mereka sehingga berkeinginan untuk melakukan upaya terbaik guna mencapai tujuan perusahaan atau organisasinya," kata Stephen Siregar yang merupakan Area Director Dale Carnegie Indonesia.

Selain 'blind spot', riset tersebut juga mengungkap dua jenis keandalan yang bisa meningkatkan kepercayaan karyawan terhadap bosnya. Yakni keandalan eksternal dan internal. Keandalan eksternal mengacu pada perilaku pemimpin yang menunjukkan sikap jujur dan bisa dipercaya. Ketika hal itu tidak di ditunjukkan dikatakan jika 64% bawahan rentan mengundurkan diri dalam kurun waktu setahun.

Sedangkan keandalan internal lebih kepada sikap konsisten mereka dalam berbicara dan bertindak sesuai prinsip dan keyakinan. Menurut riset hanya 35% responden yang merasa bosnya demikian. Hal ini juga sebaiknya ditunjukkan oleh atasan karena akan membuat karyawan 45 kali lebih termotivasi bekerja.

RisetdariDaleCarnegieinipunmenyambilkesimbulkan bahwa beberapa perilaku pemimpin yang bisa memotivasi dan menginspirasi pekerja. Yakni memberi apresiasi dan pujian tulus,jujurdanberintergritas, berani mengaku kesalahan, serta benar-benar mendengar dan menghargai pendapat pekerja.


Tonton juga 'Generasi Jaman Now Pentingkan Karier Ketimbang Percintaan':



(ami/ami)