Hari Anak Nasional, Seperti Apa Cita-cita Anak Indonesia Sekarang?
Rahmi Anjani - wolipop
Senin, 24 Jul 2017 16:00 WIB
Jakarta
-
Setiap anak biasanya punya profesi impian yang dicita-citakan. Meski belum tentu terwujud ketika dewasa, memiliki cita-cita tentu adalah sebuah hal positif. Dulu, umumnya kebanyakan cita-cita anak Indonesia berkisar pada dokter, polisi, atau guru. Kini ternyata anak-anak generasi millennial dan Z punya profesi impian yang berbeda dari para pendahulunya. Dikatakan jika mereka lebih berminat pada bidang IT hingga finansial.
Hal tersebut terungkap dalam survei terbaru yang dilakukan menyambut Hari Anak Nasional yang berlangsung Minggu, (23/7/2017) lalu oleh jejaring sosial profesional LinkedIn. Penelitian tersebut dilakukan kepada lebih dari 1.000 orang, termasuk pelajar dan pekerja muda. Dari situ terungkap jika cita-cita anak Indonesia mengalami pergeseran. Sekarang, profesi di bidang IT, keuangan, sains serta teknik lebih difavoritkan.
Pergeseran cita-cita anak Indonesia pun tampaknya terjadi karena mengikuti perkembangan zaman. Banyak anak di Indonesia yang kini terdorong dan terinspirasi untuk bekerja sebagai IT Programmer atau Financial Planner. Meski profesi 'mulia' seperti dokter, suster, tentara, polisi, dosen atau guru mulai ditinggalkan, ternyata wiraswasta dan pengusaha masih banyak diimpikan.
Sebanyak 30% mengaku telah terinspirasi oleh seseorang atau sesuatu. 94% bercita-cita karena didukung oleh orang tua. Terkait semangat dalam mewujudkan profesi impian, 94% responden merasa didukung penuh oleh orangtua mereka. Sedangkan 89% percaya bisa meraih cita-cita.
Setiap anak punya cita-cita tapi berapa banyak dari mereka yang berhasil mewujudkannya ketika dewasa? Menurut riset LinkedIn, 60% pekerja muda tidak bekerja sesuai dengan cita-cita masa kecil mereka. Alasannya pun cukup menyedihkan. Dikatakan jika akses pendidikan menjadi salah satu penyebabnya.
Lebih dari 55% responden mengatakan jika mereka tidak memiliki kesempatan untuk meraih mimpi. Hal tersebut sering terjadi karena tidak adanya kualifikasi dan kemampuan untuk mengejar pendidikan dari profesi yang diinginkan.
51% pelajar mengatakan jika akses finansial menjadi tantangan mereka mencapai impian. Sedangkan 28% menemukan kesulitan mengakses jaringan yang tepat. Dan hanya 8% yang merasa jika akses pendidikan merupakan penghalangan. Hal ini pun membuktikan jika kini anak Indonesia semakin mudah mendapat akses pendidikan.
Tapi motivasi mereka berpaling dari cita-cita masa kecil bukan hanya itu saja. Realita lain juga memegang andil cukup besar. Survei membuktikan jika faktor-faktor seperti kecilnya pendapatan atau keuntungan juga membuat anak Indonesia meninggalkan cita-cita mereka. Selain itu, mereka pun kerap mendapati minat dan pemaknaan lebih dari pekerjaan yang sekarang ditekuni. (ami/ami)
Hal tersebut terungkap dalam survei terbaru yang dilakukan menyambut Hari Anak Nasional yang berlangsung Minggu, (23/7/2017) lalu oleh jejaring sosial profesional LinkedIn. Penelitian tersebut dilakukan kepada lebih dari 1.000 orang, termasuk pelajar dan pekerja muda. Dari situ terungkap jika cita-cita anak Indonesia mengalami pergeseran. Sekarang, profesi di bidang IT, keuangan, sains serta teknik lebih difavoritkan.
Pergeseran cita-cita anak Indonesia pun tampaknya terjadi karena mengikuti perkembangan zaman. Banyak anak di Indonesia yang kini terdorong dan terinspirasi untuk bekerja sebagai IT Programmer atau Financial Planner. Meski profesi 'mulia' seperti dokter, suster, tentara, polisi, dosen atau guru mulai ditinggalkan, ternyata wiraswasta dan pengusaha masih banyak diimpikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Grandyos Zafna |
Setiap anak punya cita-cita tapi berapa banyak dari mereka yang berhasil mewujudkannya ketika dewasa? Menurut riset LinkedIn, 60% pekerja muda tidak bekerja sesuai dengan cita-cita masa kecil mereka. Alasannya pun cukup menyedihkan. Dikatakan jika akses pendidikan menjadi salah satu penyebabnya.
Lebih dari 55% responden mengatakan jika mereka tidak memiliki kesempatan untuk meraih mimpi. Hal tersebut sering terjadi karena tidak adanya kualifikasi dan kemampuan untuk mengejar pendidikan dari profesi yang diinginkan.
Foto: Human Rights Watch |
Tapi motivasi mereka berpaling dari cita-cita masa kecil bukan hanya itu saja. Realita lain juga memegang andil cukup besar. Survei membuktikan jika faktor-faktor seperti kecilnya pendapatan atau keuntungan juga membuat anak Indonesia meninggalkan cita-cita mereka. Selain itu, mereka pun kerap mendapati minat dan pemaknaan lebih dari pekerjaan yang sekarang ditekuni. (ami/ami)
Home & Living
Bingung Simpan Sepatu yang Numpuk? Cek Rekomendasi Rak Sepatu Anti Debu & Hemat Tempat di Sini!
Pakaian Wanita
Nggak Perlu Mahal-Mahal Nails Art! Pakai Fake Nails Ini untuk Tampilan Kuku Lebih Cantik
Olahraga
Latihan Harian atau Game Akhir Pekan, Ini 3 Bola Voli yang Tetap Nyaman di Lapangan
Hobi dan Mainan
Commuting Tiap Hari atau Sering Butuh Fokus? Soundcore by Anker Q20i Bisa Redam Bising dan Nyaman Dipakai Seharian
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
7 Keuntungan Menjadi Perawat Home Care Dibanding Perawat Rumah Sakit
Mengenal Manfaat Lanyard Id Card dan Rekomendasi Tempat Memesannya
Motivasi Kerja Mulai Pudar? Bangkitkan Lagi dengan 5 Langkah Ini
Mooryati Soedibyo, Pionir Jamu dan Kosmetik Tradisional di Indonesia
Petinju Wanita Nangis Setelah Dipukul 278 Kali, Netizen Salut Semangatnya
Most Popular
1
Penampilan Terbaru Zheng Shuang, Aktris China yang Diboikot karena Sewa Rahim
2
Heboh Wanita 'Nyemplung' di Kolam Tetangga Tanpa Busana, Ingin Jadi Mermaid
3
Ramalan Zodiak 10 Januari: Libra Lebih Teliti, Scorpio Masih Boros
4
Potret Cantik Putri Denmark yang Viral Dijodohkan dengan Putra Donald Trump
5
V BTS Jadi Idol KPop Paling Dicari di Google, Terpopuler Versi Forbes Korea
MOST COMMENTED












































Foto: Grandyos Zafna
Foto: Human Rights Watch