Intimate Interview
Seberapa Penting Peran Perempuan di Dunia Politik? Ini Kata Tsamara Amany
Anggi Mayasari - wolipop
Rabu, 19 Jul 2017 12:46 WIB
Jakarta
-
Representasi perempuan dalam dunia politik di Indonesia bisa dikatakan masih minim. Padahal menurut politisi muda Tsamara Amany Alatas, perempuan bisa saja mengubah dunia apabila mereka mampu memaksimalkan peran dan potensinya dengan masuk ke dalam ranah politik.
Wanita berusia 21 tahun yang juga menjabat sebagai ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bidang eksternal ini mengungkapkan bahwa selama ini politik selalu dianggap terlalu maskulin, dimana terjun ke dunia politik semata-mata hanya diperuntukkan untuk kaum adam saja. Menurut Sammy, panggilan akrab Tsamara, jika maskulinitas ini dibiarkan begitu saja maka perempuan tak akan pernah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan yang berpengaruh pada kemajuan bangsa.
"Kita lihat partai Indonesia berapa ketua umumnya perempuan, jarang gitu pengurus pusatnya banyak yang perempuan dan sebagainya. Kalau misalnya maskulinitas itu dibiarkan dan kemudian politik dianggap sesuatu yang jauh dari kita, kemudian dianggap suatu pekerjaannya laki-laki maka perempuan nggak akan pernah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan," tutur Sammy di markas Detikcom, Tendean, Jakarta Selatan, Selasa (18/7/2017)
Perempuan memiliki makna yang sangat penting di dunia politik untuk memberikan pemahaman dan menyatukan persepsi tentang pentingnya pembangunan demokrasi yang sehat, adil dan realistis. Sehingga menurut Sammy, perempuan harus masuk ke dunia politik jika ingin hak-haknya terpenuhi.
"Setiap keputusan itu ada di politik nah kalau perempuan mau hak-haknya terpenuhi mereka harus berada di dalam pengambilan keputusan. Itu harus berada di dalam politik yang ada, dan salah satu caranya ya masuk ke partai politik," jelas Sammy.
Tak hanya berperan untuk turut serta memperjuangkan hak-hak perempuan, mahasiswi semester VI Ilmu Komunikasi Paramadina ini juga mengungkapkan bahwa peran perempuan dalam dunia politik sebagai salah satu bentuk kesetaraan gender dimana baik laki-laki maupun perempuan berada di posisi yang sama.
"Kita nggak menganggap laki-laki itu lebih hebat dari kita, tapi kita juga nggak merendahkan laki-laki. Karena ada juga kan tipe perempuan yang memperjuangkan hak perempuan tapi justru menurunkan hak laki-laki, jadi dia feminis banget saking feminisnya jadi anti laki-laki. Jangan sampai sepertu itu, kesetaraan bagi kita punya hak yang sama dan kemudian berada dalam pengambilan keputusan," imbuhnya. (agm/agm)
Wanita berusia 21 tahun yang juga menjabat sebagai ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bidang eksternal ini mengungkapkan bahwa selama ini politik selalu dianggap terlalu maskulin, dimana terjun ke dunia politik semata-mata hanya diperuntukkan untuk kaum adam saja. Menurut Sammy, panggilan akrab Tsamara, jika maskulinitas ini dibiarkan begitu saja maka perempuan tak akan pernah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan yang berpengaruh pada kemajuan bangsa.
"Kita lihat partai Indonesia berapa ketua umumnya perempuan, jarang gitu pengurus pusatnya banyak yang perempuan dan sebagainya. Kalau misalnya maskulinitas itu dibiarkan dan kemudian politik dianggap sesuatu yang jauh dari kita, kemudian dianggap suatu pekerjaannya laki-laki maka perempuan nggak akan pernah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan," tutur Sammy di markas Detikcom, Tendean, Jakarta Selatan, Selasa (18/7/2017)
Foto: Dikhy Sasra |
Perempuan memiliki makna yang sangat penting di dunia politik untuk memberikan pemahaman dan menyatukan persepsi tentang pentingnya pembangunan demokrasi yang sehat, adil dan realistis. Sehingga menurut Sammy, perempuan harus masuk ke dunia politik jika ingin hak-haknya terpenuhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya berperan untuk turut serta memperjuangkan hak-hak perempuan, mahasiswi semester VI Ilmu Komunikasi Paramadina ini juga mengungkapkan bahwa peran perempuan dalam dunia politik sebagai salah satu bentuk kesetaraan gender dimana baik laki-laki maupun perempuan berada di posisi yang sama.
"Kita nggak menganggap laki-laki itu lebih hebat dari kita, tapi kita juga nggak merendahkan laki-laki. Karena ada juga kan tipe perempuan yang memperjuangkan hak perempuan tapi justru menurunkan hak laki-laki, jadi dia feminis banget saking feminisnya jadi anti laki-laki. Jangan sampai sepertu itu, kesetaraan bagi kita punya hak yang sama dan kemudian berada dalam pengambilan keputusan," imbuhnya. (agm/agm)
Elektronik & Gadget
Smartwatch Tipis untuk Harian? OPPO Watch S Ada Fitur Lengkap untuk Fitness
Kesehatan
Demam Datang Tiba-Tiba? Ini Cara Turunin Panas Tanpa Obat yang Lagi Banyak Dipakai Orang
Kesehatan
Betadine Antiseptic Solution, Obat Andalan untuk Cegah Infeksi pada Luka
Kesehatan
Sering Kram & Kebas Tiba-Tiba? Bisa Jadi Tubuhmu Lagi Minta Tolong Diam-Diam!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
7 Keuntungan Menjadi Perawat Home Care Dibanding Perawat Rumah Sakit
Mengenal Manfaat Lanyard Id Card dan Rekomendasi Tempat Memesannya
Motivasi Kerja Mulai Pudar? Bangkitkan Lagi dengan 5 Langkah Ini
Mooryati Soedibyo, Pionir Jamu dan Kosmetik Tradisional di Indonesia
Petinju Wanita Nangis Setelah Dipukul 278 Kali, Netizen Salut Semangatnya
Most Popular
1
Viral Wajah Angelina Jolie Disebut Berbeda di Shanghai, Muncul Dugaan Kloning
2
Momen Kocak Pemotretan Ayu Ting Ting di China, Makeup Belang Bikin Ngakak
3
Kejahatan Bos 'Kultus Orgasme' yang Manipulasi Anggota, Kini Dipenjara
4
6 Ide Padu Padan Hijab French Khimar Instan Segi Empat Jadi Edgy dan Kekinian
5
Foto Dilraba Dilmurat Jadi Hantu dalam Drama Terbaru 'Love Beyond the Grave'
MOST COMMENTED












































Foto: Dikhy Sasra