Intimate Interview
Merangkai Bunga Selamatkan Simran Punjabi dari Depresi Pasca Keguguran
Daniel Ngantung - wolipop
Kamis, 13 Okt 2016 18:06 WIB
Jakarta
-
Impian Simran Punjabi untuk menjadi seorang ibu pupus saat bayi yang sudah dikandungnya selama lima bulan meninggal di dalam perut. Di tengah keterpurukannya, Simran berkenalan dengan bunga. Berkat bunga lah, ia bangkit dan mendapatkan kembali kebahagiaannya.
Simran mengalami keguguran saat tengah mengandung putri pertamanya di awal 2001. Kejadian tersebut benar-benar meninggalkan luka yang mendalam bagi wanita berdarah India kelahiran Surabaya itu. Ia sampai-sampai mengalami depresi berat.
Selama masa pemulihan, menantu dari produser TV & film kenamaan Raam Punjabi itu menerima banyak rangkaian bunga dari keluarganya. Salah satunya rangkaian mawar merah yang berhasil mencuri perhatiannya.
"Bunga itu seolah berbisik, 'Hai, aku di sini. Kamu bisa berbicara denganku'. Di momen itu lah, aku termotivasi untuk berbuat sesuatu menggunakan bunga," kenang Simran saat berbincang dengan Wolipop belum lama ini.
Ia pun mulai mencoba merangkai bunga di rumah. Ada kebahagiaan tersendiri yang Simran rasakan saat melakukan kegiatan tersebut. Merangkai bunga seperti menjadi terapi sekaligus pelarian Simran dari depresi berat yang menghantui hidupnya. "Saking sukanya, rumah saya sudah seperti hutan karena penuh rangkaian bunga," ujar Simran.
Begitu menikmatinya, ia lantas memutuskan untuk memperdalam ilmu merangkai dengan mengikuti berbagai workshop di Jakarta. Dari situ, muncul keinginan bagi untuk membuka florist atau toko bunga tapi ia belum begitu percaya diri.
Seorang kerabat lalu menyarankan Simran untuk mengikuti workshop rangkai bunga di Singapura agar keahliannya semakin terasah. Selama enam bulan di Negeri Singa, ia berguru pada sejumlah pakar florist yang datang dari berbagai negara. Alhasil, pengetahuannya tentang teknik merangkai bunga semakin luas.
Pulang ke Jakarta dengan rasa percaya diri dan dukungan kerabatnya, ia memustukan untuk membuka toko bunga pertamanya di kawasan Kuningan. De Petalz, begitu ia menamai toko bunganya itu.
Di saat sibuk merintis bisnisnya, Simran mendapat kabar yang membahagiakan. Tuhan akhirnya menganugerahinya momongan yang selama ini ia nanti-nantikan. Larut dalam kebahagiaan sebagai seorang ibu baru tidak melunturkan semangat Simran untuk membangun bisnisnya.
Seiring berjalannya waktu, bisnisnya terus berkembang. Selain melayani pesanan partai kecil, Simran juga mendapat pesanan dari perusahaan besar, seperti hotel berbintang. Klien hotel loyalnya termasuk JW Marriott dan Ritz Carlton Mega Kuningan. Westin Jakarta yang baru dibuka turut memakai jasanya.
"Selalu dengarkan kemauan customer, perhatikan efisiensi, selalu tepat waktu, dan harus berinovasi terus dalam desain," ungkap Simran tentang kunci kesuksesannya. Ia menambahkan, kesuksesan tersebut mustahil terwujud tanpa kerja tim yang baik. Saat ini De Petalz memperkerjakan 13 karyawannya yang tersebar di bagian florist, kurir, administrasi, dan pemasaran.
Kebahagiaannya kian lengkap ketika putra keduanya lahir. Semakin sempurna lagi saat Simran dikaruniai buah hati ketiganya, seorang anak perempuan. "Tuhan seperti mengembalikan putri pertamaku. Mungkin saat itu bukan waktu yang tepat buaktu jadi ibu. Tapi Tuhan mempersiapkanku dulu sebagai seorang florist," ujarnya.
Dari perjalanan hidupnya yang diwarani oleh pengalaman pahit itu, ia belajar tentang berserah diri sekaligus pentingnya wanita untuk mengejar cita-cita dan hasratnya. "Sekalipun Anda hanya ibu rumah tangga. Setiap wanita berhak menggapai impiannya. Life is not only of wasting time, but you can do more valuable things. When you work, you can value your life," tuturnya. (dng/dng)
Simran mengalami keguguran saat tengah mengandung putri pertamanya di awal 2001. Kejadian tersebut benar-benar meninggalkan luka yang mendalam bagi wanita berdarah India kelahiran Surabaya itu. Ia sampai-sampai mengalami depresi berat.
Selama masa pemulihan, menantu dari produser TV & film kenamaan Raam Punjabi itu menerima banyak rangkaian bunga dari keluarganya. Salah satunya rangkaian mawar merah yang berhasil mencuri perhatiannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Ia pun mulai mencoba merangkai bunga di rumah. Ada kebahagiaan tersendiri yang Simran rasakan saat melakukan kegiatan tersebut. Merangkai bunga seperti menjadi terapi sekaligus pelarian Simran dari depresi berat yang menghantui hidupnya. "Saking sukanya, rumah saya sudah seperti hutan karena penuh rangkaian bunga," ujar Simran.
Begitu menikmatinya, ia lantas memutuskan untuk memperdalam ilmu merangkai dengan mengikuti berbagai workshop di Jakarta. Dari situ, muncul keinginan bagi untuk membuka florist atau toko bunga tapi ia belum begitu percaya diri.
Seorang kerabat lalu menyarankan Simran untuk mengikuti workshop rangkai bunga di Singapura agar keahliannya semakin terasah. Selama enam bulan di Negeri Singa, ia berguru pada sejumlah pakar florist yang datang dari berbagai negara. Alhasil, pengetahuannya tentang teknik merangkai bunga semakin luas.
Pulang ke Jakarta dengan rasa percaya diri dan dukungan kerabatnya, ia memustukan untuk membuka toko bunga pertamanya di kawasan Kuningan. De Petalz, begitu ia menamai toko bunganya itu.
Di saat sibuk merintis bisnisnya, Simran mendapat kabar yang membahagiakan. Tuhan akhirnya menganugerahinya momongan yang selama ini ia nanti-nantikan. Larut dalam kebahagiaan sebagai seorang ibu baru tidak melunturkan semangat Simran untuk membangun bisnisnya.
Seiring berjalannya waktu, bisnisnya terus berkembang. Selain melayani pesanan partai kecil, Simran juga mendapat pesanan dari perusahaan besar, seperti hotel berbintang. Klien hotel loyalnya termasuk JW Marriott dan Ritz Carlton Mega Kuningan. Westin Jakarta yang baru dibuka turut memakai jasanya.
![]() |
"Selalu dengarkan kemauan customer, perhatikan efisiensi, selalu tepat waktu, dan harus berinovasi terus dalam desain," ungkap Simran tentang kunci kesuksesannya. Ia menambahkan, kesuksesan tersebut mustahil terwujud tanpa kerja tim yang baik. Saat ini De Petalz memperkerjakan 13 karyawannya yang tersebar di bagian florist, kurir, administrasi, dan pemasaran.
Kebahagiaannya kian lengkap ketika putra keduanya lahir. Semakin sempurna lagi saat Simran dikaruniai buah hati ketiganya, seorang anak perempuan. "Tuhan seperti mengembalikan putri pertamaku. Mungkin saat itu bukan waktu yang tepat buaktu jadi ibu. Tapi Tuhan mempersiapkanku dulu sebagai seorang florist," ujarnya.
Dari perjalanan hidupnya yang diwarani oleh pengalaman pahit itu, ia belajar tentang berserah diri sekaligus pentingnya wanita untuk mengejar cita-cita dan hasratnya. "Sekalipun Anda hanya ibu rumah tangga. Setiap wanita berhak menggapai impiannya. Life is not only of wasting time, but you can do more valuable things. When you work, you can value your life," tuturnya. (dng/dng)
Olahraga
Sepatu Lari Wanita Terbaik 2026! Ringan, Terjangkau, dan Ideal untuk Jogging Harian
Pakaian Wanita
Effortless Chic Tanpa Ribet! Tunik Monogram Elzatta untuk Look Rapi di Berbagai Momen
Kesehatan
Jaga Lambung dan Imun Selama Puasa Ramadan! PRO EM 1 Bantu Stabilkan Lambung dengan Bakteri Baik
Kesehatan
Punya Masalah Gatal dan Iritasi di Area Intim? Saatnya Ganti ke Perawatan yang Tepat
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
7 Keuntungan Menjadi Perawat Home Care Dibanding Perawat Rumah Sakit
Mengenal Manfaat Lanyard Id Card dan Rekomendasi Tempat Memesannya
Motivasi Kerja Mulai Pudar? Bangkitkan Lagi dengan 5 Langkah Ini
Mooryati Soedibyo, Pionir Jamu dan Kosmetik Tradisional di Indonesia
Petinju Wanita Nangis Setelah Dipukul 278 Kali, Netizen Salut Semangatnya
Most Popular
1
Barron Trump Tampil Beda Saat Ayahnya Pidato, Gayanya Jadi Sorotan
2
Pesona Elea Putri Ussy-Andhika Pratama di Pemotretan Keluarga, Bikin Salfok
3
Pesona Eileen Gu, Atlet Ski Berprestasi yang Juga Model Victoria's Secret
4
Gaya Mahalini Beri Kejutan Ultah Suami di Kasur, Rambut On Point Bikin Salfok
5
Sisterhood Modest Bazaar 2026: Hijab Rp100 Ribu Hingga Diskon Hijabchic 70%
MOST COMMENTED













































