Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Nenek 93 Tahun Berhenti Jadi Suster Setelah 7 Dekade Mengabdi

Daniel Ngantung - wolipop
Rabu, 27 Jul 2016 19:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Today/The Freeman Courier
Jakarta - Alice Graber mendedikasikan separuh lebih masa hidupnya sebagai suster. Dan setelah lebih dari 72 tahun mengabdi, ia pun mengundurkan diri bulan lalu.

Entah sudah berapa ribuan nyawa yang nenek 93 tahun ini tolong. Namun Alice yang memulai kariernya sebagai perawat di saat Perang Dunia II berkecamuk tidak pernah lelah memberikan pertolongan.

"Ada rasa senang ketika kita bisa menolong seseorang," kata nenek asal Freeman, South Dakota, AS, itu saat diwawancarai Today.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai selebrasi kariernya, sebuah acara digelar di Salem Mennonite Home, rumah jompo tempat terakhirnya mengabdi. Sekitar 150 orang dari kota berpenduduk 1.300 jiwa itu hadir untuk mengungkapan rasa terima kasihnya atas pengabdian Alice.

"Dia telah menyentuh banyak jiwa. Alice selalu tersenyum setiap saat meskipun di tengah tekanan," ungkap Shirley Knodel, direktur Salem Mennonite Home.

Berasal dari keluarga yang hidupnya pas-pasan, Alice sebetulnya tidak pernah memilih perawat sebagai karier impiannya. Namun ia teringat wejangan yang selalu ia dapat dari ibunya bahwa pendidikan itu penting. Singkat cerita ia pun mendaftar di sekolah perawatan. "Bisa mengikuti pelatihan perawat adalah sebuah anugerah buatku," ujar Alice yang menjadi yatim piatu sejak 14 tahun.

Mengikuti saran bibinya, Alice hijrah dari Colorado ke Lincoln, Nebraska, di mana ia menamatkan pendidikan perawatannya pada 1944. Setahun kemudian, ia pindah ke South Dakota bersama mendiang suaminya, Wilber 'Jim' Graber, yang meninggal pada 2006 silam.

Dari pernikahannya dengan Jim, Alice dikaruniai dua anak, tujuh cucu, dan lima cicit.

Sharon Waltner, putri tertua Alice, mengungkapkan, ibunya adalah sosok perawat yang sangat berdedikasi dan selalu siap sedia setiap diperlukan. Sharon teringat, masa kecilnya penuh dengan dering telepon dari rumah sakit yang sangat mengganggu.

"Mereka menelepon untuk meminta ibuku datang ke rumah sakit. Dulu terganggu, tapi sekarang kami bangga melihat ibu begitu sangat serius mengabdi. Apa yang dia lakukan mengubah kehidupan banyak orang," kata wanita 67 tahun ini.

Semasa perjalanan kariernya, Alice bekerja di empat rumah sakit berbeda. Baru belakangan ini, ia mengabdi untuk rumah jompo. Perawat tertua di South Dakota ini juga tidak pelit berbagi ilmu karena sering memberikan pelatihan. Shirley adalah salah seorang anak didiknya.

"Dia mengajarkan kami untuk selalu memprioritaskan pasien. Itulah yang kami inginkan," ujar Shirley.

Meski secara teknis sudah mengundurkan diri, Alice tetap aktif beraktivitas. Ia masih sering berkunjung ke Salem Mennonite Home di malam hari lalu menjadi relewan untuk sejumlah organisasi. "Aku sering bercanda, saking aktifnya, mungkin ibuku yang akan merawatku kalau dirawat (di panti) nanti," kata Sharon. (dng/asf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads