Pakar Ini Sarankan Karyawan Pindah Kerja Setiap 3 Tahun Sekali, Kenapa?

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 14 Jan 2016 07:25 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock

Jakarta - Orang yang sering berpindah-pindah kerja dahulu sering dipandang negatif, terutama oleh manajer atau personalia. Tapi tidak di zaman sekarang di mana para milenial atau pekerja junior dituntut cepat belajar dan punya banyak pengalaman. Stigma itu pun sudah mulai ditinggalkan dan dianggap kuno sehingga 'kutu loncat' tak lagi dihindari saat perekrutan.

Sejumlah riset juga mendukung pendapat tersebut. Salah satunya dari penelitian yang diterbitkan Forbes. Riset itu mengungkap gaji pegawai yang bertahan lebih dari dua tahun dalam sebuah perusahaan 50% lebih rendah dari para 'kutu loncat'. Sementara orang yang sering berpindah kerja berpotensi memiliki penghasilan dan performa lebih bagus.

Patty McCord selaku mantan Chief Talent Officer Netflix pun mengatakan hal serupa. Ia berpendapat sering berpindah kerja adalah hal yang bagus. Patty bahkan menyarankan agar orang-orang muda mengganti karier mereka setiap tiga sampai empat tahun.

"Kamu membangun kemampuan lebih cepat ketika berganti perusahaan karena banyak belajar," kata Patty kepada Fast Company.

Para 'kutu loncat' ini memang selalu bekerja di luar zona aman mereka. Ketika bergabung dengan kantor baru, mereka pun tahu mereka harus belajar dan membuat atasan baru terkesan dengan cepat sebelum pindah lagi.

Menurut Penelope Truk selaku wirausahawan, hidup pun akan menjadi lebih mapan dengan seringnya berganti profesi. Ia pun mengungkapkan hal yang serupa bahwa seorang pekerja seharusnya mengganti kariernya setiap tiga tahun sekali.

"Jika tidak melakukannya, kamu tidak mengembangkan kemampuan untuk bekerja dengan cepat jadi kamu tidak punya stabilitas karier. Kamu hanya bergantung pada sebuah kantor seperti di tahun 1950 dan berharap dapat jam emas saat menginjak masa 50 tahun dalam perusahaan itu," kata Penelope. (ami/eny)