Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

#dnewgeneration

Hafizah, Wanita Muda yang Berdayakan Penderita Kusta dalam Bisnis Hijab

Arina Yulistara - wolipop
Kamis, 18 Jun 2015 12:33 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Hafizah Elvira
Jakarta -

Kini banyak anak muda yang membangun bisnis sendiri. Bahkan beberapa dari mereka sudah memiliki bisnis di usia muda walaupun masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Namun masih jarang wanita muda masa kini yang mempunyai jiwa sosial dan memiliki keinginan bekerja demi membantu perekonomian orang lain. Tidak demikian dengan Hafizah Elvira, wanita 24 tahun ini merupakan seorang social entrepreneur yang peduli dengan para penderita kusta.

Hafizah kini masih aktif dalam membangun bisnis sosialnya berupa hijab. Ia beserta teman-temannya menjual beragam produk untuk wanita muslim seperti busana, kerudung, dan bros dengan nama Nalacity. Wanita 24 tahun itu mengatakan usahanya kian laris bahkan produknya sudah pernah dipasarkan di Qatar. Hal tersebut diakuinya tak akan terjadi bila tidak dibantu oleh ibu-ibu mantan penderita kusta di kawasan Sitanala, Tangerang.

Ketika berbincang dengan Wolipop, wanita dengan sapaan akrab Fiza itu berbagi cerita awal membangun bisnis tersebut. Mulanya Nalacity bukanlah sebuah bentuk wirausaha seperti sekarang hanya bagian dari proyek kampus ketika masih menjadi mahasiswi di 2010 lalu. Hafizah membentuk Nalacity bersama empat temannya lewat program Indonesia Leadership Development Program (ILDP) Universitas Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awalnya dibuat untuk program sosial, kita berlima dari tugas kampus waktu itu, cuma kegiatan sosial yang didanai dari kampus. Hanya tiga bulan didanai, setelah itu kita pikir lanjut atau nggak ya, kita akhirnya komitmen untuk lanjut," tutur Fiza kepada Wolipop, Rabu (17/6/2015).

Konsep Nalacity sejak awal memang pemberdayaan masyarakat di Sitanala. Proyek sosial tersebut berubah menjadi wirausaha di akhir 2012. Fiza mengatakan ingin menambah finansial mereka dengan menjual hasil karya ibu-ibu yang pernah terkena kusta di kawasan Sitanala.

Wanita kelahiran 22 September 1990 itu mengatakan bahwa tujuannya membantu mantan penderita kusta karena perasaan iba terhadap kehidupan mereka. Menurutnya banyak orang yang setelah sembuh dari kusta malah dikucilkan oleh masyarakat tempat tinggalnya ketika balik ke kota asal mereka. Diskriminasi tersebut membuat banyak penderita kusta merasa minder dan sedih kemudian kembali ke kawasan Sitamala, di mana mereka disembuhkan.

Mereka yang kembali ke kawasan Sitamala tidak memiliki pekerjaan untuk menyambung hidup. Banyak ibu-ibu yang menjadi pengangguran namun harus tetap membesarkan anaknya. Oleh karena itu, Nalacity ini dibuat Fiza dan empat temannya untuk memperbaiki hidup mereka.

Fiza mengatakan kini penjualan produk Nalacity baik bros, busana muslim, serta kerudung sudah lumayan stabil. Produk handmade dengan ciri khas manik-manik itu laris tak hanya di area Pulau Jawa, tapi juga Sulawesi, Sumatera, serta Kalimantan. Bahkan pernah sampai dibawa ke Qatar untuk dipamerkan dalam suatu acara.

Wanita lulusan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia itu mengaku bahwa setiap penjualannya ia dan teman-temannya tidak banyak mengeruk untung. Mereka biasa memutar omzet untuk membeli bahan agar bisa diprakaryakan sehingga bisa dijual kembali.

Sementara keuntungan untuk masyarakat di Sitanala bisa mendapatkan 10% hingga 30% dari setiap item produk yang dihasilkan. Setiap Minggu, Fiza dan tim mengirimkan bahan untuk diolah menjadi produk pakaian serta aksesori. Kemudian baru dijual melalui online baik melalui situs resminya maupun Instagram dengan akun @nalacity.

Fiza berharap program wirausaha ini bisa terus berjalan. Ia beserta tim juga berencana ingin membuat yayasan dengan nama Nalacity Foundation. Sebelum mengakhiri perbincangan, Fiza mengaku cukup merasa senang melihat perkembangan ibu-ibu mantan penderita kusta yang kini bisa lebih percaya diri setelah bergabung dengan Nalacity.

"Mereka lebih percaya diri ya sekarang, mungkin mereka tahunya dulu mereka dikucilkan, kini mereka bisa bekerja dan menghasilkan, kalau dulu kan mereka diminta bercerita saja sulit, sekarang lebih mau terbuka," tandas Fiza.

(aln/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads