Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Pantang Menyerah, Wanita Ini Berhasil Jadi Insinyur di Usia 91 Tahun

wolipop
Kamis, 05 Mar 2015 16:40 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

ist.
Jakarta -

Tidak ada kata terlambat untuk mengejar cita-cita. Asal memiliki kemauan, keyakinan, dan tentunya kemampuan, impian masa kecil pasti terwujud jadi kenyataan. Tengok saja kisah seorang wanita Amerika Serikat yang berhasil berkarier di bidang teknologi di usianya yang ke 91 tahun. Karyawan bernama Barbara Beskind itu mampu merealisasikan profesi idamannya yang sempat kandas karena terhalang masalah gender. Bagaimana ceritanya?

Barbara adalah salah satu dari sedikit wanita yang bercita-cita ingin bergelut di bidang teknik. Bahkan sejak berusia 10 tahun, ia sudah terpikir untuk menjadi seorang penemu. Impian tersebut terlintas ketika masa krisis menimpa Amerika di tahun '30-an. Kala itu Barbara yang masih kecil harus memanfaatkan barang-barang bekas untuk membuat mainan.

"Waktu itu aku ingin membuat kuda-kudaan, kemudian aku buat dari ban-ban bekas. Aku belajar banyak tentang gravitasi karena aku sering sekali terjatuh," unggap Barbara pada program televisi Today.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski memiliki keinginan yang kuat dan sedikit pengalaman dalam menciptakan barang, impian Barbara harus kandas ketika ia beranjak remaja. Saat ingin melamar ke sekolah insinyur, guru pembimbingnya mengatakan jika lembaga seperti itu tidak menerima murid perempuan. Akhirnya, Barbara harus beralih pada profesi terapis okupasi. Pekerjaan itu dilakoninya sembari menulis buku dan belajar melukis.

Walau sudah berlalu lebih dari 80 tahun, semangat Barbara dalam meraih impian ternyata masih membara. Ketika menemukan sebuah lowongan untuk bekerja di sebuah firma desain dua tahun lalu, ia memutuskan untuk melamar. Surat lamarannya pun dipersiapkan dengan matang.

"Butuh dua bulan untuk menulis resume, menjabarkan dalam sembilan halaman. Kemudian aku tulis surat itu dan mengirimnya melalui pos," ujar Barbara.
 
Tak disangka, Barbara diterima dan berhasil mengalah para pesaingnya yang masih muda. Perusahaan bernama IDEO yang pernah menciptakan mouse pertama komputer Apple itu tidak ragu ketika memilihnya. Menurut Associate Partner IDEO, Gretchen Addi langkah Barbara sangat berani. Di budaya yang mengatakan jika menua artinya menurun, ia seolah menantang.

Saat ini, Barbara pun sudah bekerja di IDEO dan bertugas menangani proyek terkait penuaan. Barang-barang yang dikerjakannya sering dicobakan di panti wreda yang menjadi tempat tinggalnya. Barbara pun masih sangat produktif. Setiap hari ia berjalan satu mil dengan bantuan tongkat ski yang dimodifikasi. Dia juga bisa memperbaiki alat membaca dan mendesain beberapa benda yang sedang dibuat prototipe-nya oleh IDEO.

"Desainer-desainer muda tidak bisa merasakan jadi orang tua. Orang-orang yang mendesain untuk orang tua berpikir mereka hanya butuh kotak obat yang dihias atau tongkat warna pink. Kami membutuhkan alat-alat yang fungsional." tambah Barbara. 

(ami/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads