Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Memulai Bisnis Modal Minim

Cerita Ria Miranda Merintis Bisnis Busana Muslim dari Blog dan BBM

Intan Kemala Sari - wolipop
Jumat, 23 Jan 2015 11:53 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: M. Abduh/Wolipop
Jakarta -

Dibesarkan di tengah keluarga yang berjiwa entrepreneur, membuat desainer muda Ria Miranda tertarik untuk terjun langsung menekuni bisnis busana muslim. Alasannya sederhana, pada kala itu fashion hijab belum terlalu banyak peminatnya. Pilihan bajunya pun terkesan monoton dan tidak terlalu banyak variasi.

Atas dasar inilah wanita 29 tahun itu terdorong untuk mendesain busana muslim. Meski awalnya hanya mendesain untuk digunakan sendiri, keinginan untuk menerapkan ilmu yang didapatnya di sekolah mode sangatlah besar. Hingga akhirnya pada 2008, ia berani merilis brand busana muslimah bertajuk Shabby Chic by Ria Miranda. Tetapi sejak 2009, label ini berubah nama menjadi Ria Miranda.

Dengan bermodalkan Rp 15 juta yang dikeluarkan dari kocek pribadinya, pemilik nama lengkap Indria Miranda ini memulai usahanya. Modal tersebut digunakanya untuk menyiapkan keperluan yang dibutuhkan. Seperti pemilihan bahan dan proses produksi busana hingga siap dipasarkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu aku bahkan nggak hitung gaji untuk diri sendiri, yang penting jualannya laku dan usahanya tetap jalan," jelasnya saat diwawancara Wolipop via e-mail belum lama ini.

Memiliki keluarga yang sebagian besar terjun ke dalam bidang wirausaha, istri dari Pandu Rosadi ini merasa peran keluarga sangat penting bagi karier bisnisnya. Dari keluarganya pulalah, ia banyak menimba ilmu tentang dunia bisnis. Bahkan, penulis buku 'Passhion!' ini juga pernah mendapatkan investor dari keluarganya.

Dengan bantuan modal dari keluarga ini, wanita asal Sumatera Barat itu dengan dibantu lima orang timnya, memproduksi sekitar empat baju dalam sehari. Namun produksinya ini tergantung pada tingkat kesulitan baju yang akan dibuat. Untuk satu buah dress misalnya, pengerjaannya bisa memakan waktu hingga dua hari. Proses produksinya pun masih terbilang cukup lancar. Mulai dari mendesain, membuat pola, memotong bahan, menjahit, finishing, quality control sampai packaging.

Ria masih ingat ketika pertama kali ia merilis koleksi busana muslim melalui blog pribadinya. Selain lewat blog, dia juga memasarkan karyanya via BlackBerry Messenger (BBM). Sambutan yang didapat cukup hangat. "Alhamdulillah, banyak yang antusias dengan karyaku, khususnya dari teman-teman terdekat. Karena selain lewat blog, aku memasarkannya dari mulut ke mulut aja," tambahnya lagi.

Selama tujuh tahun malang-melintang di dunia mode Indonesia, sahabat dari desainer Jenahara ini pernah pula merasakan pengalaman pahit yang dialaminya. "Waktu itu masih awal merintis usaha, sketsa desainku pernah hilang, terus pernah juga dicurangi sama rekan satu tim. Tapi ya itu aku ambil hikmahnya sebagai pelajaran saja," katanya.

Lulusan Universitas Andalas Padang ini berharap bisnisnya bisa bertahan lama dan diterima oleh banyak kalangan. Tak hanya itu saja, ia juga ingin membuktikan bahwa produk lokal bisa bersaing ditengah gempuran dari brand luar negeri yang mulai hadir.

Maka dari itu, kini Ria tetap berusaha menampilkan karya terbaiknya melalui desain yang selama ini sudah menjadi ciri khasnya. Ia mengaku juga tidak pernah membuat strategi pemasaran tertentu, tetapi jika setiap ada tantangan baru, dirinya pasti akan berdiskusi dengan timnya.

(int/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads