Liputan Khusus Interpreter

Di Balik Honor Besar, Ini Kesulitan Yang Sering Dihadapi Penerjemah

- wolipop Jumat, 05 Des 2014 15:34 WIB
Foto: Rizki (dok. pribadi) Foto: Rizki (dok. pribadi)

Jakarta - Beberapa tahun ke belakang seiring memasuki era globalisasi, bidang penerjemahan bahasa mulai memasuki masa kejayaannya. Banyak orang mengira, menjadi penerjemah merupakan pekerjaan yang menyenangkan karena selain mendapatkan honor yang besar, sering berjalan-jalan juga dapat bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai profesi.
 
Namun di balik kesuksesan mereka, tak jarang ditemui berbagai kendala dan kesulitan terutama saat sedang menerjemahkan, Kesulitan tersebut di antaranya adalah:

1. Menemukan Padanan Kata
Penerjemah bahasa Prancis, Andina Margaretha Rorimpandey menuturkan, kesulitan yang paling sering ia alami adalah menemukan padanan kata yang tepat saat menerjemahkan dokumen penting. Ia menyadari bahwa tidak setiap penerjemah bisa menerjemahkan sesuai dengan pendengar atau pembacanya.

"Aku jadi memahami bahwa menerjemahkan itu tidak kata per kata. Seorang penerjemah yang baik adalah seorang yang tau bagaimana menulis dengan baik dalam bahasa sasarannya. Karena menerjemahkan itu adalah alih konteks dan alih gagasan," terangnya ketika berbincang dengan Wolipop di Summarecon Mall Bekasi, Senin (01/12/2014).

2. Perbedaan Waktu
Karena banyak mendapat klien dari negara Eropa yang mempunyai perbedaan waktu lebih dari 6 jam, terkadang ibu satu anak ini harus rela kerja hingga larut malam. Pernah ia mendapat klien asing jam 8 malam dan harus selesai jam 1 dini hari. "Jadi kalau pagi-pagi sampai sore aku terima klien dari Indonesia, sore sampai larut malam mengerjakan dokumen dari klien Eropa," ceritanya.

3. Mengabaikan Sisi Kesehatan
Karena kerja hingga larut malam, wanita lulusan Institut National des Langues et Civilisations Orientals (INALCO) Paris ini mengaku seringkali kekurangan waktu istirahat sehingga berakibat buruk pada kesehatannya. Terlalu banyak duduk di depan komputer membuatnya kurang bergerak dan bahkan jari-jarinya kaku tidak terasa.

4. Dokumen Tertukar
Wanita asli Surabaya ini pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan, yaitu ada beberapa dokumen mahasiswa yang tertukar karena banyaknya dokumen yang harus diterjemahkannya. "Jadi sekarang aku selesaikan satu-satu dulu. Kalau semuanya sudah selesai, lanjut lagi klien berikutnya," ujar wanita kelahiran 1979 ini.

5. Mendadak
Menjadi seorang penerjemah bahasa Italia, Tanti Susilawati pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan. Sesaat sebelum acara dimulai, ia sama sekali tidak mempunyai bayangan tentang apa yang harus diterjemahkannya sehingga tidak punya persiapan apa-apa. "Kalau kita menerjemahkan, harus tahu dulu bidang apa yang mau diterjemahkan. Setiap bidang bahasan, misalnya pertanian, sepak bola, pengecoran logam, kan kosakatanya juga berbeda-beda. Makanya aku perlu persiapan sebulan atau dua minggu sebelumnya," jelasnya ketika dihubungi Wolipop via telepon, Rabu (03/12/2014).

6. Lembur
Dalam menerjemahkan bahasa Turki, Rizki Apriansyah mengatakan yang paling membuatnya berat adalah ketika harus menerjemahkan video atau tulisan. Tak jarang pria 22 tahun ini harus bekerja hingga dini hari karena tenggat waktu yang diberikan hanya satu hari. "Pernah saya sore hari diberikan materi, malam harus selesai. Kalau materinya banyak, bisa sampai dini hari karena mau digunakan hari itu juga," akunya saat berbincang dengan Wolipop via e-mail, Senin (01/12/2014).

Namun di balik semua kendala tersebut, menjadi penerjemah dapat mempunyai kesempatan untuk belajar hal-hal baru setiap harinya. Seperti yang dipaparkan oleh Andina, "Kalau misalnya hari ini aku mengerjakan dokumen hukum, besoknya aku bisa mengerjakan dokumen masak, besoknya lagi politik, besoknya lagi ekonomi. Selalu berubah setiap harinya jadi nggak membosankan," imbuhnya.

Tidak hanya itu saja, Rizki dan Tanti juga sepakat, menjadi seorang penerjemah secara lisan bisa dibilang sangat menguntungkan dari sisi pendapatan. Selain itu, kesempatan untuk bertemu relasi baru lebih banyak dan koneksi pergaulan pun menjadi lebih luas.


(fer/als)