Cocok Jadi Model, Jessica Sutanto Lebih Senang Bekerja di Belakang Layar
Dunia fashion sudah tidak asing lagi bagi Jessica Sutanto. Apalagi, ibunda tercinta wanita yang biasa disapa Icha ini adalah seorang mantan model. "Menyukai bidang fashion dan bergaya di depan kamera merupakan sifat yang menurun dari ibu saya, Yenni Rorita. Sejak beranjak remaja, saya memang sudah dekat dengan dunia mode. Saya kagum dengan seseorang yang berbusana indah dan stylish. Pertama kali mengenal fashion show dan fashion week, yaitu saat kuliah di Singapura," kata wanita lulusan Fashion Marketing & Management Raffles Design Institute, Singapura, ini membuka percakapan.
Di usianya yang belum memasuki 30 tahun, Jessica sudah lumayan lama berkarier di bisnis fashion. Sebelumnya, Jessica pernah menjabat sebagai public relations Graha Lifestyle untuk brand Kate Spade, Diane von Furstenberg, Etro, dan Michael Kors. Sekarang ini dia berkarier sebagai public relations & marketing Valiram Group (Victoria's Secret & Michael Kors).
"Banyak orang berpikir kalau bekerja di bidang retail akan jadi stres, tetapi karena saya memiliki passion yang terjadi malah sebaliknya. Buat saya stres itu membuat keasyikan tersendiri dan challenging,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya, saya memang senang dunia fashion, tetapi bukan sebagai model. Saya senang bekerja di belakang layar, karena memang sesuai dengan jurusan kuliah saya, yaitu fashion marketing,” kata ikon L'Oreal Professionnel 2014 dan PR & Socialite 2014 Kuningan City ini.
Lima tahun sudah dia bergelut di industri mode. Dia mengaku senang, karena bisa memulainya dari usia muda. Pengalaman pertama, ketika bekerja sebagai public relations selama tiga tahun di high end brand, Jessica berusaha membangun networking mulai dari media massa.
"Orang mengenal saya sebagai sosok ambisius di dunia ini, karena bidang fashion memang cita-cita sejak dahulu. I love what I am doing. Ketika bekerja dengan banyak brand, saya jadi keasyikan dan mendapat banyak pengalaman berharga. Lima tahun ke depan, saya punya impian untuk menghasilkan sesuatu yang berhubungan dengan fashion," tutur nominator Trendiest Woman of The Year 2014 dari salah satu majalah wanita ini seraya tersenyum.
Kesulitan yang dialami Icha selama ini adalah menemukan cara mengarahkan brand yang dipegangnya sesuai dengan target market. Di perusahaan lama, dia memegang high end fashion, sementara saat ini adalah mass beauty. Perbedaannya adalah 180 derajat.
Icha mengakui dirinya sempat mengalami culture shock, saat pindah perusahaan. Bidang mass beauty berputarnya cepat sekali. Dia memaparkan, "Kalau lengah sedikit saja, saya bisa kehilangan momen. Berbeda dengan high end brand yang lebih slow, mengingat transisi season bisa mencapai tiga hingga enam bulan." Namun sekali lagi, bidang ini justru menjadi tantangan baru untuk menaikkan brand yang sekarang dipegangnya.
Ingin mengenal sosok Icha lebih jauh? Cerita mengenai Jessica Sutanto bisa dilihat di majalah FEM edisi terbaru yang kontennya bisa di-download di sini untuk versi PDF.
(eny/fer)










































